Kemenperin Optimis Penundaan EUDR dan ART Pacu Ekspor Kakao Indonesia
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan optimisme tinggi terhadap peningkatan Ekspor Kakao Indonesia, didorong oleh penundaan kebijakan EUDR Uni Eropa serta tarif 0 persen dari Amerika Serikat, yang membuka peluang pasar lebih luas.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan optimisme kuat terhadap potensi peningkatan ekspor produk kakao nasional. Optimisme ini muncul setelah adanya penundaan implementasi kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) oleh Uni Eropa. Selain itu, kebijakan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dari Amerika Serikat yang memberikan tarif 0 persen bagi produk kakao dan cokelat Indonesia juga menjadi faktor pendorong.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Jumat (27/2/2026), menilai bahwa perkembangan kebijakan global ini membuka ruang ekspansi pasar yang signifikan. Peluang ini sangat menguntungkan bagi industri kakao Indonesia.
Putu Juli Ardika menegaskan, "Ini membuka peluang bagus untuk pasar kita, sehingga semua pihak harus bersinergi agar kinerjanya maksimal." Kebijakan global yang kondusif ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pasar kakao internasional.
Peluang Emas dari Kebijakan Global
Uni Eropa telah menyepakati penundaan implementasi EUDR, sebuah regulasi yang berpotensi membatasi impor komoditas yang terkait dengan deforestasi. Penundaan ini memberikan waktu bagi produsen kakao Indonesia untuk beradaptasi dan memenuhi standar yang ditetapkan.
Sementara itu, Amerika Serikat telah memberikan tarif 0 persen bagi produk kakao dan cokelat dari Indonesia. Kebijakan ini secara langsung memperkuat daya saing produk olahan kakao nasional di pasar Amerika Serikat.
Pasar Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan utama ekspor kakao Indonesia. Dengan adanya kebijakan tarif 0 persen ini, Kemenperin berharap pangsa pasar produk olahan kakao Indonesia di negara tersebut dapat mencapai 11 persen.
Dari total ekspor kakao olahan nasional, sekitar 35 persen telah terserap pasar ekspor. Kebijakan tarif yang menguntungkan ini membuka peluang besar untuk mengakselerasi produksi serta memperkuat pasokan bahan baku dalam negeri.
Kinerja Positif dan Tantangan Bahan Baku
Industri pengolahan kakao nasional menunjukkan tren kinerja yang positif. Sepanjang tahun 2024, volume grinding (penggilingan) kakao mencapai 422.176 ton. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,43 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kontribusi devisa dari sektor ini juga signifikan, mencapai 3,42 miliar dolar AS. Capaian ini menunjukkan potensi besar industri kakao dalam mendukung perekonomian nasional.
Meskipun demikian, Putu Juli Ardika mengakui bahwa tantangan utama industri masih terletak pada ketersediaan bahan baku. Saat ini, utilisasi kapasitas produksi industri pengolahan kakao baru berada di kisaran 50–60 persen.
Hal ini mengindikasikan bahwa masih terdapat ruang signifikan untuk peningkatan produksi. Peningkatan ini dapat terwujud jika pasokan biji kakao domestik dapat diperkuat secara berkelanjutan.
Strategi Kemenperin Perkuat Ekosistem Kakao
Untuk menjawab tantangan ketersediaan bahan baku dan meningkatkan daya saing, Kemenperin mendorong penguatan ekosistem kakao dari hulu hingga hilir. Strategi ini mencakup beberapa inisiatif penting.
- Integrasi komoditas kakao ke dalam Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk memastikan dukungan finansial dan kebijakan yang terkoordinasi.
- Revitalisasi kebun kakao guna meningkatkan produktivitas dan kualitas biji kakao domestik.
- Penguatan riset dan inovasi untuk mengembangkan varietas unggul dan teknik budidaya yang lebih efisien.
Selain itu, peran pelaku artisan kakao juga dinilai strategis dalam meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Jumlah artisan kakao telah meningkat dari 31 perusahaan pada akhir 2023 menjadi lebih dari 50 unit usaha. Para artisan ini berperan penting dalam grading dan pengembangan kakao premium.
Indonesia Tuan Rumah Konferensi Kakao Internasional
Sebagai wujud eksistensi Indonesia dalam ekosistem perkakaoan global, Indonesia akan menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC). Konferensi ini akan digelar pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), Jeffrey Haribowo, menyampaikan bahwa konferensi ini bertema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World”. Acara ini diharapkan menjadi forum strategis bagi pelaku industri, pemangku kepentingan, serta mitra internasional.
Tujuannya adalah untuk memperkuat kolaborasi dan mendorong transformasi industri kakao nasional. Sinergi kebijakan global yang kondusif, penguatan bahan baku, serta modernisasi industri diyakini akan membuat Ekspor Kakao Indonesia semakin kompetitif.
Sumber: AntaraNews