Kadin: Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti peran sentral industri pengolahan sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2025, didorong investasi dan aktivitas manufaktur yang ekspansif.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan bahwa sektor industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2025. Kinerja positif ini didorong oleh peningkatan investasi serta aktivitas manufaktur yang terus ekspansif. Dengan kontribusi signifikan, sektor ini diharapkan terus menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.
Data Kadin menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia secara keseluruhan tumbuh 5,39 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025. Sementara itu, sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan impresif sebesar 5,40 persen (yoy) pada periode yang sama. Angka ini sejalan dengan pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencapai 6,12 persen.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional, Bayu Priawan Djokosoetono, menegaskan kesiapan pengusaha untuk berinvestasi dan bersaing. Kadin berharap industri pengolahan dapat tumbuh mendekati 6 persen pada tahun 2026 guna mencapai utilisasi optimal pabrik dan aset tetap.
Kontribusi dan Prospek Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia, menyumbang sekitar 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka ini menjadikannya kontributor terbesar bagi suplai ekonomi, menunjukkan dominasinya dalam aktivitas produksi. Kadin melihat potensi besar bagi sektor ini untuk terus berkembang dan menciptakan nilai tambah.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan performa yang kuat, berada pada level ekspansi sejak Agustus 2025. Pada Januari 2026, PMI tercatat di angka 52,6, mengindikasikan berlanjutnya peningkatan aktivitas produksi. Kondisi ini mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek industri.
Pertumbuhan investasi, khususnya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), juga menjadi indikator positif. Kontribusi investasi PMDN sepanjang 2025 lebih besar dibandingkan Penanaman Modal Asing (PMA), menandakan kepercayaan investor domestik. Kadin mendorong agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan.
Tantangan dan Modernisasi Sektor Pertanian serta Konstruksi
Meskipun sektor pertanian tumbuh 5,14 persen pada kuartal IV 2025, Kadin menilai produktivitasnya masih relatif rendah. Sekitar 28 persen tenaga kerja nasional berada di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, namun hanya menghasilkan sekitar 13 persen PDB. Disparitas ini menunjukkan adanya ruang besar untuk peningkatan efisiensi.
Ketua Komite Tetap Perencanaan Pangan Kadin Indonesia, Frans Tambunan, menekankan perlunya modernisasi pertanian. Inovasi dan investasi teknologi tepat guna, termasuk optimalisasi serta pembukaan lahan baru, sangat dibutuhkan. Penguatan sektor perikanan juga menjadi bagian penting dari upaya peningkatan produktivitas pangan nasional.
Di sisi lain, sektor konstruksi yang berkontribusi hampir 10 persen terhadap perekonomian, hanya tumbuh 3,81 persen pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan ini sejalan dengan belanja pemerintah yang melambat menjadi 4,55 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kadin berharap program pemerintah dapat mendorong kembali kinerja sektor ini.
Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi dan Moneter Kadin Indonesia, Ikhwan Primanda, menyoroti potensi program pemerintah seperti KUR perumahan dan renovasi sekolah. Pembangunan infrastruktur juga diharapkan mampu memperkuat pertumbuhan sektor konstruksi dan real estat ke depan.
Konsumsi Rumah Tangga dan Perlambatan Ekspor
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi 53,88 persen terhadap PDB. Sektor ini tumbuh 5,11 persen pada kuartal IV 2025, didukung oleh stimulus ekonomi pemerintah dan momentum libur Natal serta Tahun Baru. Kadin mengapresiasi upaya pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.
Kadin menyambut baik paket stimulus ekonomi 8+4+5 yang diluncurkan pemerintah, termasuk program magang bagi lulusan baru. Program ini telah memfasilitasi lebih dari 80 ribu peserta pada kuartal IV 2025, menunjukkan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Stimulus ini diharapkan berlanjut untuk menopang konsumsi selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Namun demikian, Kadin mencatat perlambatan pertumbuhan ekspor pada kuartal IV 2025, menjadi 3,25 persen dibandingkan 9,14 persen pada kuartal sebelumnya. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penumpukan persediaan produk jadi di dalam negeri. Kadin melihat perlunya strategi untuk mengatasi tantangan ekspor ini.
Urgensi Peningkatan Produktivitas Total
Ikhwan Primanda menegaskan pentingnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis peningkatan produktivitas. Fokus tidak boleh hanya pada penambahan modal dan tenaga kerja semata. Peningkatan efisiensi dan inovasi merupakan kunci untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan.
Menurut Ikhwan, kontribusi produktivitas total atau total factor productivity (TFP) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat rendah. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara-negara seperti Vietnam dan China. Kesenjangan produktivitas ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemangku kebijakan.
Kadin menekankan bahwa peningkatan produktivitas harus menjadi prioritas utama ke depan. Langkah ini krusial agar target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen yang dicanangkan pemerintah dapat tercapai. Tanpa peningkatan produktivitas yang signifikan, target tersebut akan sulit diwujudkan.
Sumber: AntaraNews