Ini Alasan Thomas Djiwandono Mundur dari Partai
Thomas Djiwandono menegaskan pengunduran dirinya dari Partai Gerindra tidak pernah dibahas dengan Presiden dan bukan terkait penunjukan Deputi Gubernur BI.
Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih, Thomas Djiwandono, menegaskan bahwa keputusannya mengundurkan diri dari keanggotaan Partai Gerindra pada Desember 2025 tidak pernah dibicarakan dengan Presiden.
Thomas, yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, menyatakan tidak ada komunikasi apa pun dengan Presiden terkait langkah tersebut. Ia juga menilai anggapan bahwa pengunduran dirinya berkaitan dengan proses pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia sebagai tafsir yang keliru.
“Saya jelaskan tidak ada pembahasan saya dan Presiden mengenai ini, tidak ada,” kata Thomas dalam media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ia menilai, jika pengunduran diri tersebut dikaitkan dengan kepentingan jabatan tertentu, maka asumsi serupa seharusnya sudah muncul sejak dirinya melepas posisi bendahara umum partai. Namun hal itu tidak terjadi.
Pengunduran Diri Disebut Bersifat Personal
Thomas menjelaskan, keputusan mundur dari Partai Gerindra pada 31 Desember 2025 diambil secara pribadi, tanpa agenda politik tertentu. Menurutnya, momen akhir tahun menjadi waktu refleksi bagi dirinya.
“Saya mengundurkan diri tanggal 31 Desember 2025,” ujarnya.
Ia menambahkan, keinginan untuk tidak aktif di dunia politik sebenarnya sudah muncul sejak lama, terutama setelah dirinya mulai aktif bekerja di Kementerian Keuangan. Sejak saat itu, beban pekerjaan dan keterbatasan waktu menjadi pertimbangan utama.
“Pemikiran saya untuk tidak aktif di politik itu sudah lama sebenarnya sejak saya masuk di Kemenkeu ya kan. Karena sebenarnya juga masalah waktu, waktu itu saya gak ada waktu ya ngurusin partai,” jelas Thomas.
Terkait posisinya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas menegaskan bahwa proses penunjukan berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Ia juga membantah isu yang menyebut dirinya sejak awal telah disiapkan untuk menduduki jabatan Gubernur Bank Indonesia.
“Soal (penunjukan) Gubernur BI, tidak,” pungkasnya.