HIPMI: Kebijakan Danantara Jadi Katalis Positif Penguatan Pasar Modal Indonesia
BPP HIPMI menilai kebijakan strategis Danantara Indonesia telah menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia, menciptakan keyakinan investor dan memperkuat struktur ekonomi jangka panjang.
Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) baru-baru ini menyoroti peran strategis Danantara Indonesia. Kebijakan lembaga ini dinilai memberikan dampak positif bagi pasar modal nasional.
Menurut HIPMI, kebijakan Danantara menjadi indikator penting bagi investor. Ini adalah sinyal penguatan struktur ekonomi jangka panjang Indonesia. Peran Danantara tidak hanya mengelola aset, tetapi juga membangun persepsi pasar internasional.
Konsistensi Danantara dalam memperluas kerja sama investasi telah menciptakan keyakinan baru di kalangan investor. Respons positif pasar terlihat jelas dalam tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa bulan terakhir. Pernyataan ini disampaikan Anthony Leong di Jakarta pada Sabtu, 29 November.
Peran Strategis Danantara dalam Menarik Investasi Global
Anthony Leong menyoroti keberhasilan Danantara dalam mengamankan investasi signifikan dari berbagai mitra strategis internasional. Institusi ini berhasil mengamankan hampir 40 miliar dolar Amerika Serikat (AS) melalui kesepakatan dengan negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, China Investment Corporation (CIC), dan Jepang. Keberhasilan ini menunjukkan kapasitas institusional Indonesia semakin mendapatkan pengakuan di tingkat global.
Kapasitas untuk menghadirkan mitra global dalam skala besar ini adalah bukti kredibilitas Indonesia di mata dunia. Investor membaca langkah ini sebagai tanda bahwa Indonesia memiliki arah yang jelas dalam memproyeksikan pertumbuhan jangka panjang. Anthony Leong menegaskan bahwa “Presiden Prabowo Subianto memiliki visi besar dan kuat dalam menata perekonomian Indonesia.” Ini menjadi faktor penting dalam menarik kepercayaan investor.
Selain itu, kabar bergabungnya Danantara dengan International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF) akan semakin memperkuat reputasi Indonesia. Keanggotaan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pengelola dana investasi negara yang kredibel dan dapat diandalkan di kancah internasional. Hal ini tentu saja menjadi sinyal positif bagi pasar modal dan investasi.
Kebijakan Danantara dan Penguatan IHSG
Penguatan IHSG yang terjadi selama delapan bulan terakhir dinilai merefleksikan kombinasi beberapa faktor penting. Faktor-faktor tersebut meliputi masuknya arus modal asing, peningkatan pembentukan modal domestik, serta stabilitas makro ekonomi yang terjaga dengan baik. Kebijakan berbasis institusi seperti yang dijalankan Danantara memberikan dampak signifikan.
Anthony Leong menjelaskan bahwa pasar cenderung merespons positif kebijakan yang berbasis institusi yang jelas dan berorientasi jangka panjang. Ini berbeda dengan sekadar pernyataan politik yang seringkali bersifat jangka pendek. Investor global dan domestik kini membaca potensi Indonesia melalui data institusional yang kuat, bukan klaim tanpa dasar.
Danantara memberikan sinyal konsistensi yang sangat dibutuhkan oleh pasar. “Investor global dan domestik sekarang membaca Indonesia lewat data institusional, bukan melalui klaim jangka pendek. Danantara memberikan sinyal konsistensi itu. Awal saat launching Danantara, IHSG kan range 5-6 ribuan,” ujar Anthony. Data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (28/11) sore menunjukkan IHSG menguat 1.428,80 poin atau 20,18 persen secara year to date (ytd) ke posisi 8.508,71, dibandingkan dengan posisi 7.079,91 pada awal tahun ini.
Kolaborasi Pemangku Kebijakan dalam Stabilitas Pasar Modal
Anthony Leong menekankan bahwa apresiasi terhadap penguatan IHSG sebaiknya tidak hanya diarahkan pada satu kementerian saja. Sebaliknya, penguatan ini harus dipandang sebagai hasil dari kolaborasi seluruh pemangku kebijakan ekonomi yang terlibat. Ini mencerminkan pendekatan holistik dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan pasar modal.
Fondasi pasar modal yang kuat tidak berdiri hanya dari satu kebijakan sektoral. Ada kontribusi yang signifikan dari kebijakan fiskal, moneter, serta peran institusi investasi seperti Danantara. Kinerja emiten dan persepsi geopolitik juga turut mempengaruhi pergerakan pasar. Semua elemen ini saling terkait dan mendukung satu sama lain.
Oleh karena itu, keberhasilan IHSG adalah hasil kerja bersama yang sinergis, bukan peran tunggal dari Kementerian Keuangan atau entitas lainnya. “Fondasi pasar modal tidak berdiri dari satu kebijakan sektoral. Ada kontribusi dari fiskal, moneter, institusi investasi seperti Danantara, kinerja emiten, serta persepsi geopolitik. Jadi keberhasilan IHSG adalah hasil kerja bersama, bukan peran tunggal hanya Kemenkeu,” ujar Anthony.
Sumber: AntaraNews