Hilirisasi Tembaga Dinilai Strategis Perkuat Kemandirian Industri Pertahanan
Namun, industri hilir tembaga nasional masih berada di posisi ke-18 dunia, di bawah sejumlah negara yang tidak memiliki sumber daya mineral tembaga.
Indonesia dinilai perlu mempercepat hilirisasi tembaga untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Meski memiliki sekitar 3 persen cadangan tembaga dunia, Indonesia masih mengimpor sejumlah bahan baku strategis, termasuk brass cup untuk selongsong amunisi.
Data Kementerian Investasi/BKPM menempatkan Indonesia di peringkat ketujuh cadangan tembaga dunia dan peringkat ke-11 produksi tambang tembaga. Namun, industri hilir tembaga nasional masih berada di posisi ke-18 dunia, di bawah sejumlah negara yang tidak memiliki sumber daya mineral tembaga.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai hilirisasi tembaga memiliki peran strategis dalam mendukung industri pertahanan nasional.
Menurut dia, pengolahan tembaga secara terintegrasi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alat utama sistem persenjataan (alutsista), amunisi, hingga teknologi pertahanan strategis.
"Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, tetapi juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional," ujar Dave dikutip Kamis (21/5).
Urgensi hilirisasi juga terlihat dari tren impor tembaga dan produk turunannya yang terus meningkat. Berdasarkan data Perkembangan Impor Non-Migas Kementerian Perdagangan, nilai impor tembaga dan produk turunannya tumbuh rata-rata 5,11 persen per tahun sepanjang 2021–2025, dengan kenaikan kumulatif mencapai 15,27 persen.
Dave mengatakan, hilirisasi yang dijalankan secara konsisten dapat mendorong terciptanya ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing.
"Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar hilirisasi tembaga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan," katanya.
Di sisi produksi, langkah hilirisasi mulai dilakukan oleh Holding Industri Pertambangan MIND ID melalui PT Freeport Indonesia bersama Holding Industri Pertahanan DEFEND ID melalui PT Pindad.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memproduksi brass cup di Gresik dengan kapasitas 10.000 ton per tahun guna memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.
Fasilitas Hilirisasi
Selain itu, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas hilirisasi untuk memproduksi batang tembaga dan kawat tembaga berkapasitas 300.000 ton per tahun, serta pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport Indonesia.
Kebutuhan Industri Strategis
Produk hilirisasi tembaga tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan berbagai industri strategis, termasuk sektor pertahanan yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap material berbasis tembaga.