Harga Emas Melonjak ke Level Tertinggi Imbas Kebijakan Tarif Trump
Harga emas mengalami lonjakan lebih dari 2% akibat rencana tarif yang diumumkan oleh Donald Trump, yang menimbulkan kekhawatiran di pasar global.
Harga emas internasional mengalami lonjakan lebih dari 2% dan mencapai titik tertinggi dalam tiga minggu pada perdagangan hari Senin. Kenaikan harga emas ini dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian terkait rencana tarif yang akan diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Penguatan harga emas terjadi setelah Trump mengumumkan rencananya untuk meningkatkan bea masuk impor, menyusul keputusan dari Mahkamah Agung Amerika Serikat yang menolak kebijakan tarif sebelumnya.
Menurut laporan yang dikutip dari CNBC pada Selasa (24/2), harga emas spot tercatat naik 2% menjadi USD 5.206,39 per ounce, setelah sebelumnya mencapai posisi tertinggi sejak 30 Januari. Sebelumnya, harga emas juga telah mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di angka USD 5.594,82 per ounce pada 29 Januari.
Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan April ditutup dengan penguatan sebesar 2,8% di level USD 5.225,60 per ounce. Kenaikan harga emas ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik global, yang mendorong mereka untuk mencari instrumen investasi yang lebih aman.
Sektor Ekonomi Meningkat Selama Libur Imlek
Jeffrey Christian, Managing Partner CPM Group, mengemukakan bahwa kenaikan harga emas dipengaruhi oleh sejumlah masalah ekonomi dan politik global.
"Ada banyak masalah ekonomi dan politik di seluruh dunia. Dengan pasar yang relatif sepi selama libur Tahun Baru Imlek, kami memperkirakan harga emas bisa naik tajam ketika aktivitas kembali normal," ungkap Christian.
Selain itu, pada hari Senin, Trump kembali mengkritik keputusan Mahkamah Agung terkait kebijakan tarif yang diterapkannya. Sebelumnya, ia mengumumkan rencananya untuk meningkatkan tarif sementara atas semua impor AS dari 10% menjadi 15%, yang merupakan batas maksimum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Di sisi lain, China Daratan, yang merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia, masih dalam masa libur Tahun Baru Imlek dan dijadwalkan akan kembali beroperasi pada hari Selasa. Keadaan ini turut memengaruhi likuiditas pasar, sehingga memperkuat potensi volatilitas harga emas dalam jangka pendek.
Christian juga menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka panjang harga emas. Menurutnya, dalam beberapa kuartal mendatang, harga emas berpeluang untuk terus meningkat dan mencapai rekor baru.
Pengaruh Inflasi di AS ke Pergerakan Logam Mulia
Data terbaru mengenai ekonomi menunjukkan bahwa inflasi inti di Amerika Serikat mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan pada bulan Desember. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal keempat mengalami pelambatan yang cukup signifikan.
Kombinasi dari kedua faktor ini diperkirakan akan mendorong Federal Reserve untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Saat ini, para pelaku pasar juga menunggu pernyataan dari sejumlah pejabat bank sentral AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter di masa mendatang, termasuk perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Emas dikenal sebagai aset yang aman untuk menyimpan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Logam mulia ini biasanya menunjukkan kinerja yang baik saat suku bunga berada pada level yang rendah. Selain itu, harga perak spot juga mengalami kenaikan sebesar 3,2% menjadi USD 87,23 per ounce, yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari dua minggu.
Sementara itu, platinum mengalami penurunan tipis sebesar 0,7% menjadi USD 2.140,75 per ounce, sedangkan palladium menunjukkan penguatan sebesar 0,1% menjadi USD 1.750,53 per ounce.