Harga Cabai Rawit Mataram Meroket Jelang Ramadan, Tembus Rp110 Ribu per Kg
Harga Cabai Rawit Mataram melambung tinggi hingga Rp110.000 per kilogram menjelang Ramadan 1447 Hijriah, dipicu cuaca ekstrem dan minimnya pasokan dari luar daerah.
Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan ini terjadi menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pedagang. Harga komoditas pokok ini kini telah mencapai angka Rp110.000 per kilogram di pasaran.
Menurut Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Sri Wahyunida, faktor utama kenaikan harga murni disebabkan oleh kondisi cuaca. Hujan dan cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut berdampak pada gagal panen, sehingga produksi cabai rawit mengalami penurunan drastis. Situasi ini juga diakui oleh para pedagang di lapangan.
Dalam satu pekan terakhir, harga cabai rawit menunjukkan peningkatan yang mencolok, dari Rp85.000 per kilogram pada Senin (9/2/2026) menjadi Rp110.000 per kilogram pada hari ini, Minggu (15/2/2026). Peningkatan signifikan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok.
Cuaca Ekstrem Picu Gagal Panen dan Kelangkaan Pasokan Lokal
Kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi menjadi penyebab utama minimnya pasokan cabai rawit di Mataram. Petani di wilayah tersebut banyak yang mengalami gagal panen akibat kondisi ini, sehingga jumlah cabai yang bisa dipasok ke pasar menjadi sangat terbatas. Penurunan produksi ini secara langsung memengaruhi ketersediaan barang dan memicu kenaikan harga.
Sri Wahyunida dari Disdag Kota Mataram menegaskan bahwa informasi dari petani di lapangan mengonfirmasi cuaca buruk sebagai biang keladi. Ia menyampaikan, "Hujan dan cuaca ekstrem berdampak gagal panen sehingga produksi turun. Itu diakui juga oleh para pedagang cabai." Dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan oleh petani lokal, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan dari daerah lain jika kondisi serupa terjadi.
Saat ini, cabai rawit yang dijual di pasar tradisional Mataram sebagian besar berasal dari pasokan lokal Kabupaten Lombok Timur. Namun, jumlahnya sangat terbatas dan tidak mampu memenuhi tingginya permintaan pasar. Ketergantungan pada pasokan lokal yang minim ini memperparah situasi harga.
Satgas Pangan Bergerak, Pasokan Luar Daerah Belum Masuk
Untuk mengantisipasi spekulasi harga dan menjamin ketersediaan stok menjelang Ramadan, tim dari Satuan Tugas (Satgas) Pangan kini gencar melakukan pemantauan. Mereka menelusuri rantai pasok dan memantau pergerakan harga cabai rawit di berbagai pasar tradisional Kota Mataram. Langkah ini diharapkan dapat mencegah praktik penimbunan atau permainan harga.
Kepala Pasar Kebon Roek Mataram, Malwi, menjelaskan bahwa kenaikan harga juga dipicu oleh belum masuknya pasokan cabai dari luar daerah. Biasanya, pasokan dari Bali maupun Pulau Jawa turut menstabilkan harga di Mataram. Namun, saat ini, pengusaha cabai di kedua pulau tersebut memilih untuk tidak mengirimkan cabai ke Mataram.
Alasan di balik minimnya pasokan dari luar daerah adalah harga cabai di Bali dan Pulau Jawa yang justru lebih tinggi dibandingkan Kota Mataram. Kondisi ini membuat petani dan pengusaha di sana lebih memilih untuk menjual hasil panen mereka di daerah sendiri. Malwi menambahkan, "Hal itu diakui juga saat tim Satgas Pangan turun langsung ke Pasar Kebon Roek untuk memantau harga cabai beberapa waktu lalu."
Prediksi Kenaikan Lanjutan dan Stabilitas Cabai Jenis Lain
Melihat kondisi pasar saat ini dan peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan, Malwi memprediksi bahwa harga cabai rawit masih berpotensi naik. Ia menyatakan, "Semoga segera ada solusi terhadap harga cabai, agar harga tidak naik dan stok tetap tersedia." Kebutuhan yang melonjak selama bulan puasa biasanya diiringi dengan peningkatan harga komoditas pangan, termasuk cabai.
Berbeda dengan cabai rawit, harga cabai merah besar dan cabai keriting relatif stabil di pasaran. Cabai merah besar dijual dengan harga Rp28.000 per kilogram. Sementara itu, cabai merah keriting berada di kisaran harga Rp30.000 per kilogram. Stabilitas harga pada jenis cabai lain ini menunjukkan bahwa masalah utama terletak pada pasokan cabai rawit.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat segera menemukan solusi konkret untuk menstabilkan harga cabai rawit. Ketersediaan pasokan yang cukup dan harga yang terjangkau menjadi kunci untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang perayaan hari besar keagamaan. Sri Wahyunida juga menyebutkan bahwa sejauh ini belum ada informasi mengenai indikasi spekulasi harga untuk cabai rawit.
Sumber: AntaraNews