Harga Cabai Mataram Meroket Hingga Rp70.000 per Kilogram, Ini Penyebabnya
Dinas Perdagangan Kota Mataram melaporkan harga cabai di pasar tradisional Mataram melonjak tajam hingga Rp70.000 per kilogram, dipicu minimnya pasokan lokal dan keterlambatan distribusi.
Harga cabai rawit di pasar tradisional Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengalami kenaikan signifikan pada Jumat (30/1/2026). Kenaikan ini mencapai Rp70.000 per kilogram dari harga normalnya Rp30.000 per kilogram. Dinas Perdagangan Kota Mataram telah melakukan inspeksi mendadak untuk memantau situasi ini.
Menurut Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Sri Wahyunida, harga normal cabai biasanya berkisar antara Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Lonjakan harga ini terjadi secara bertahap sejak Minggu (25/1/2026), yang saat itu masih Rp55.000 per kilogram.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pemerintah daerah. Minimnya pasokan menjadi faktor utama di balik meroketnya harga komoditas penting ini.
Lonjakan Harga Cabai Mataram Capai Dua Kali Lipat
Harga cabai di Kota Mataram kini telah menyentuh angka Rp70.000 per kilogram, jauh di atas harga normalnya. Peningkatan ini terjadi secara konsisten dalam beberapa hari terakhir. Pada Minggu (25/1/2026), harga cabai masih di kisaran Rp55.000 per kilogram, namun terus merangkak naik setiap harinya.
Sri Wahyunida dari Disdag Kota Mataram menjelaskan bahwa harga cabai normalnya berada di rentang Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Kenaikan drastis ini berarti harga cabai telah melonjak lebih dari dua kali lipat dari kondisi biasanya. Situasi ini tentu memberatkan konsumen di Mataram.
Peningkatan harga yang signifikan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah kota. Disdag Kota Mataram terus memantau pergerakan harga di pasar. Langkah-langkah antisipasi sedang dipertimbangkan untuk menstabilkan kembali harga komoditas ini.
Minimnya Pasokan Lokal Picu Kenaikan Harga Cabai Mataram
Pemicu utama lonjakan harga cabai di Mataram adalah minimnya pasokan di pasar tradisional. Saat ini, stok cabai di Mataram masih sangat bergantung pada hasil panen petani lokal. Ketergantungan ini membuat pasar rentan terhadap fluktuasi pasokan.
Pasokan cabai dari Pulau Jawa yang biasanya menjadi penyeimbang, belum masuk ke Mataram. Kondisi ini memperparah kelangkaan cabai di pasaran. Akibatnya, harga cabai merangkak naik hingga mencapai dua kali lipat dari harga normal.
Keterlambatan distribusi dari luar daerah juga menjadi kendala serius. Para pedagang kesulitan menjaga stabilitas harga eceran karena pasokan yang tidak memadai. Animo konsumsi masyarakat terhadap cabai tetap tinggi, sehingga hukum pasar berlaku: stok terbatas dan permintaan tinggi memicu kenaikan harga.
Pemantauan Komoditas Lain dan Upaya Stabilisasi Harga
Selain cabai, harga bawang merah juga mulai menunjukkan tren kenaikan di Mataram. Bawang merah asal Bima kini dijual pada kisaran Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Sebelumnya, harga bawang merah berada di angka Rp30.000 per kilogram.
Namun, kenaikan harga bawang merah tidak separah cabai rawit. Hal ini karena adanya pasokan dari luar daerah yang membantu menyeimbangkan harga. Pasokan bawang merah dari Pulau Jawa masih masuk dengan harga sekitar Rp28.000 per kilogram, sehingga lonjakan harga dapat lebih terkendali.
Disdag Kota Mataram akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan stok bahan pokok. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan dan stabilitas harga berbagai kebutuhan pokok, terutama menjelang bulan Ramadhan. Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah provinsi, distributor, Dinas Pertanian, dan Bank Indonesia untuk menggerakkan petani binaan memenuhi kebutuhan di Mataram.
Sumber: AntaraNews