Harga Bawang Merah Palu Melonjak Rp10 Ribu, Ternyata Ini Biang Keroknya!
Ketersediaan stok dari luar daerah menjadi pemicu utama lonjakan harga bawang merah di Palu. Simak langkah Pemkot Palu menstabilkan harga komoditas penting ini.
Harga komoditas bawang merah di pasar tradisional Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengalami lonjakan signifikan pada Agustus 2023. Kenaikan ini menarik perhatian banyak pihak, terutama masyarakat dan pemerintah daerah.
Pemerintah Kota Palu melalui Pelaksana tugas (Plt) Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Palu, Rahmad Mustafa, mengungkapkan penyebab utama lonjakan ini. Ketersediaan stok di tingkat pedagang sangat mempengaruhi fluktuasi harga.
Sebagian besar pasokan bawang merah untuk Kota Palu didatangkan dari luar daerah, yakni Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa. Ketidakstabilan pasokan dari wilayah tersebut secara langsung berdampak pada harga di pasar lokal.
Penyebab Lonjakan Harga Bawang Merah di Palu
Menurut data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palu, harga bawang merah menunjukkan peningkatan yang cukup drastis. Sejak awal hingga akhir Agustus, komoditas ini bertahan di angka Rp60 ribu per kilogram.
Angka tersebut menunjukkan selisih Rp10 ribu dibandingkan harga pada bulan Juli 2023, yang saat itu berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram. Kenaikan harga bawang merah ini tentu membebani daya beli masyarakat.
Rahmad Mustafa menjelaskan bahwa ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi faktor krusial. "Di saat terjadi ketidakstabilan stok maka secara tidak langsung mempengaruhi harga komoditas itu di pasar," ujarnya. Kondisi ini membuat Kota Palu rentan terhadap gejolak harga.
Upaya Pemkot Palu Stabilkan Harga Komoditas
Guna mengendalikan harga bawang merah dan komoditas pangan lainnya, Pemerintah Kota Palu telah melakukan berbagai intervensi. Salah satu langkah awal adalah inspeksi langsung ke tingkat distributor.
Selain itu, Pemkot Palu juga mendorong gerakan tanam bawang merah di kalangan petani lokal. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pemerintah daerah juga berencana memfasilitasi petani bawang merah dengan pasar. Rahmad Mustafa menyatakan, "Kami akan melalukan perjanjian kerja sama (PKS) antara petani dan pemerintah, karena di Kota Palu ada juga petani bawang merah."
Intervensi lain yang dilakukan adalah pelaksanaan pasar tani. Kegiatan ini melibatkan petani maupun distributor dengan menawarkan harga subsidi, sehingga masyarakat dapat memperoleh bawang merah dengan harga yang lebih terjangkau.
Intervensi Pasar dan Kondisi Bahan Pokok Lain
Kepala Dinas Perindag Kota Palu, Zulkifli, menambahkan bahwa intervensi pengendalian harga juga dilakukan melalui kegiatan pasar murah. Pasar murah ini melibatkan distributor, pedagang, UMKM, dan bahkan Perum Bulog.
Khusus Bulog, mereka turut serta dengan menjual beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini menyasar delapan kecamatan di Kota Palu, membantu menjaga stabilitas harga beras.
Zulkifli menekankan pentingnya penanganan lonjakan bahan pokok. "Lonjakan bahan pokok dapat memicu inflasi bila tidak ditangani secara efektif dan terpadu," katanya. Oleh karena itu, koordinasi antarpihak sangat diperlukan.
Dari hasil pemantauan harga oleh Disperindag, harga bahan pokok penting lainnya dalam keadaan stabil, antara lain:
- Bawang putih: Rp40 ribu per kilogram
- Cabai rawit merah dan cabai keriting: masing-masing Rp35 ribu per kilogram
- Daging sapi: Rp130 ribu per kilogram
- Daging ayam broiler: Rp50 ribu per kilogram
- Komoditas beras: di kisaran Rp15 ribu per kilogram
Sumber: AntaraNews