UIN Datokarama Gandeng Hannah Asa Perkuat Peran Dosen sebagai Agen Literasi Keuangan
UIN Datokarama Palu berkolaborasi dengan Hannah Asa Indonesia untuk meningkatkan Literasi Keuangan melalui pelatihan dosen. Bagaimana program ini akan mentransformasi edukasi di kampus dan masyarakat?
Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu menjalin kerja sama strategis dengan Hannah Asa Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat peran dosen dan tenaga kependidikan sebagai agen edukasi keuangan di lingkungan kampus.
Rektor UIN Datokarama Palu, Lukman Thahir, dan Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menjadi tokoh kunci dalam inisiatif ini. Dosen dari Fakultas Sains dan Teknologi (FSAINTEK) serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) menjadi peserta utama program pelatihan.
Transformasi peran dosen menjadi educator, mentor, dan advisor sangat penting di tengah perubahan sosial dan ekonomi. Institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan pengetahuan dan praktik literasi keuangan.
Transformasi Peran Dosen dalam Edukasi Keuangan
Rektor UIN Datokarama Palu, Lukman Thahir, menyoroti pentingnya perubahan peran dosen di era modern. Dosen kini diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga membimbing mahasiswa dalam aspek kehidupan nyata. Kemampuan pengelolaan keuangan menjadi salah satu kompetensi relevan yang harus dimiliki.
Institusi pendidikan memegang kunci dalam meningkatkan Literasi Keuangan masyarakat. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret untuk memastikan pengetahuan keuangan tidak hanya teoritis. Ini juga diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan.
Program ini menggarisbawahi urgensi pembekalan dosen dengan keterampilan praktis. Tujuannya agar mereka mampu menjadi agen perubahan dalam meningkatkan pemahaman finansial.
Program Associate Wealth Planner Syariah (AWPS) untuk Dosen
Kolaborasi antara UIN Datokarama dan Hannah Asa Indonesia diwujudkan melalui pelatihan khusus. Program ini dikenal sebagai Associate Wealth Planner Syariah (AWPS). Pesertanya adalah dosen dan tenaga kependidikan dari FSAINTEK dan FDKI.
AWPS dirancang sebagai intervensi berbasis praktik yang komprehensif. Materi yang disampaikan mencakup perencanaan keuangan syariah dan manajemen utang. Pengelolaan zakat serta perencanaan tujuan hidup seperti haji dan pensiun juga menjadi fokus.
Selain itu, program ini juga mencakup simulasi keuangan berbasis aplikasi. Peserta juga akan mendapatkan pemahaman mendalam tentang literasi pasar modal. Pendekatan ini memastikan peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga dapat mengaplikasikannya.
Tantangan dan Solusi Peningkatan Literasi Keuangan Nasional
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menekankan perlunya transformasi pendekatan Literasi Keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46 persen. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan sudah mencapai 80,51 persen.
Meskipun inklusi keuangan meningkat, tantangan selanjutnya adalah memastikan masyarakat membuat keputusan finansial yang tepat. Literasi tidak boleh berhenti pada pengetahuan, melainkan harus menjadi sistem dan perilaku. Hal ini krusial untuk menghadapi dinamika ekonomi.
Mardiyah juga menyoroti bahwa tingkat Literasi Keuangan di Indonesia Timur masih di bawah rata-rata nasional. Oleh karena itu, pendekatan literasi harus lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan regional. Program AWPS menekankan implementasi langsung, bukan sekadar pemahaman teoritis.
- Perencanaan keuangan syariah
- Manajemen utang dan pengelolaan zakat
- Perencanaan tujuan hidup (haji, pendidikan, pensiun)
- Simulasi keuangan berbasis aplikasi
- Literasi pasar modal
Sumber: AntaraNews