Hanya 3 Bulan, Unhas Luncurkan Mobil Listrik Engi-Move: Wujudkan Kampus Bebas Emisi
Universitas Hasanuddin (Unhas) meluncurkan mobil listrik Engi-Move Unhas, inovasi ramah lingkungan yang dikembangkan mandiri untuk mendukung visi kampus bebas emisi. Bagaimana spesifikasinya?
Universitas Hasanuddin (Unhas) baru-baru ini secara resmi meluncurkan mobil listrik inovatif bernama Engi-Move Unhas. Acara peluncuran atau soft launching ini dilaksanakan di Halaman JK Arenatorium, Makassar, menandai langkah signifikan Unhas dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.
Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen Unhas untuk menciptakan lingkungan kampus yang bebas emisi karbon. Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa peluncuran Engi-Move sejalan dengan program pemerintah dalam menghadirkan kendaraan ramah lingkungan, khususnya di lingkungan institusi pendidikan.
Pengembangan mobil listrik Engi-Move Unhas ini digagas dan diwujudkan oleh tim proyek yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Unhas. Langkah ini menunjukkan kapasitas universitas dalam berinovasi serta berkontribusi nyata pada upaya mitigasi perubahan iklim melalui pengembangan teknologi otomotif hijau.
Visi Unhas Menuju Kampus Bebas Emisi
Unhas telah mendeklarasikan diri sebagai "Carbon Neutral Campus," sebuah komitmen untuk meminimalkan emisi karbon yang dihasilkan dan memaksimalkan penyerapan karbon. Prof. Jamaluddin Jompa menjelaskan bahwa tujuan ini, meskipun terdengar sederhana, memerlukan upaya besar dan terencana untuk dapat diwujudkan.
Banyak kampus di dunia telah menetapkan target bebas emisi, dengan proyeksi penyelesaian pada tahun 2040 bahkan 2060. Indonesia secara umum juga menargetkan pencapaian ini pada tahun 2060, namun Unhas menilai perlu bergerak lebih cepat. Kondisi ini mendorong Unhas untuk memulai berbagai upaya, termasuk pengembangan kendaraan listrik, di samping program penanaman pohon.
Rektor Unhas, yang akrab disapa Prof. JJ, menekankan bahwa elektrifikasi adalah salah satu aspek paling prinsipal dan krusial dalam mencapai tujuan tersebut. Dorongan untuk menciptakan kendaraan ramah lingkungan secara mandiri menjadi semakin kuat, mengingat ketersediaan berbagai jenis mobil dan motor listrik di pasaran saat ini.
Inovasi Mandiri Mobil Listrik Engi-Move
Meskipun pasar telah dibanjiri berbagai merek kendaraan listrik, Unhas memilih jalur pengembangan mandiri. Prof. JJ menyatakan bahwa upaya ini adalah bagian dari harga diri universitas yang memiliki sumber daya manusia unggul. "Kampus itu gudangnya inovasi, sumbernya manusia unggul, dan juga harga diri bangsa, ini kita harus topang bersama-sama," ujarnya.
Peluncuran mobil listrik Engi-Move Unhas ini dimaknai secara simbolis sebagai awal dari lahirnya kendaraan hasil karya mahasiswa dan dosen. Ini menunjukkan bahwa Unhas tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi inovatif. Proyek ini membuktikan bahwa potensi inovasi di lingkungan akademik sangat besar dan mampu menghasilkan produk nyata.
Inovasi ini juga diharapkan dapat menginspirasi institusi lain untuk berani mengambil langkah serupa. Dengan mengembangkan teknologi secara mandiri, Unhas berkontribusi pada kemandirian teknologi nasional dan memperkuat ekosistem riset dan pengembangan di Indonesia.
Detail Produksi dan Spesifikasi Engi-Move
Ketua Tim Proyek Engi-Move Unhas, Prof. Syamsul Bahri, mengungkapkan bahwa hingga saat ini timnya telah berhasil membuat sebanyak lima unit mobil listrik Engi-Move. Proses pembuatan setiap unit mobil listrik Engi-Move Unhas ini terbilang cepat, membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 bulan saja.
Pihak Unhas juga terus berupaya memperbanyak produksi mobil listrik Engi-Move untuk digunakan di setiap fakultas. Target ambisius lainnya adalah penggunaan mobil ini pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-38 yang akan diselenggarakan pada 23 November 2025.
Mengenai spesifikasi teknis, mobil listrik Engi-Move Unhas menggunakan motor kontrol jenis PMSM. Untuk pasokan energi, mobil ini ditenagai oleh baterai Lifpo4 berkapasitas 72V 150 Ah. Proses pengecasan baterai membutuhkan waktu sekitar 8 jam dengan menggunakan charger berdaya 1400 watt. Prof. Syamsul Bahri menambahkan bahwa beberapa suku cadang penting, termasuk baterai, saat ini masih diimpor dari China.
Sumber: AntaraNews