Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan, kembali menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan inklusif dengan meluluskan 15 bakal calon mahasiswa penyandang disabilitas melalui Jalur Mandiri Afirmasi Disabilitas Tahun 2026. Pengumuman kelulusan tahap asesmen ini disampaikan pada Sabtu, 13 Juni, menandai langkah maju dalam upaya Unhas menciptakan lingkungan akademik yang berkeadilan bagi semua. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi universitas untuk membangun tata kelola pendidikan tinggi yang lebih merata dan dapat diakses oleh beragam kelompok masyarakat.
Kepala Pusat Disabilitas Unhas, Ishak Salim, menjelaskan bahwa Jalur Mandiri Afirmasi Disabilitas adalah wujud nyata dari visi Unhas untuk memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam memperoleh akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas. Kebijakan ini mencerminkan keseriusan pimpinan universitas dalam memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas. Dengan demikian, Unhas terus berupaya menjadi pelopor dalam mewujudkan kampus yang benar-benar inklusif di Indonesia.
Peningkatan kuota penerimaan mahasiswa baru jalur afirmasi disabilitas dari tahun ke tahun menjadi bukti konkret dari komitmen rektor terhadap penguatan kampus inklusif. Sebanyak 15 peserta yang berhasil lulus asesmen ini kini akan melanjutkan proses pendaftaran ke berbagai program studi unggulan. Langkah ini diharapkan dapat membuka pintu bagi lebih banyak penyandang disabilitas untuk meraih pendidikan tinggi dan berkontribusi pada masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Unhas terhadap penguatan kampus inklusif terus diwujudkan melalui berbagai kebijakan progresif, termasuk peningkatan kuota penerimaan mahasiswa baru jalur afirmasi disabilitas. Ishak Salim menegaskan bahwa hal ini menunjukkan keseriusan universitas dalam membuka akses lebih luas bagi penyandang disabilitas. Unhas bertekad untuk memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama dalam mengejar pendidikan tinggi berkualitas.
Para calon mahasiswa yang telah dinyatakan lulus asesmen akan menempuh pendidikan di beragam program studi yang tersedia. Pilihan program studi tersebut sangat bervariasi, mencakup Sosiologi, Antropologi, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Komunikasi. Selain itu, terdapat juga program studi Manajemen, Hukum Administrasi Negara, Ilmu Politik, serta Sastra Indonesia yang siap menerima mahasiswa baru.
Tidak hanya itu, calon mahasiswa juga dapat memilih Komunikasi Digital, Akuntansi, Administrasi Publik, Psikologi, Ilmu Hukum, dan Sastra Inggris. Bahkan, program studi Kedokteran Hewan turut menjadi pilihan bagi mereka yang berminat. Keberagaman pilihan ini menunjukkan fleksibilitas Unhas dalam mengakomodasi minat dan bakat calon mahasiswa disabilitas.
Advertisement
Advertisement
Proses asesmen yang dilakukan Unhas tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan administratif penerimaan mahasiswa baru. Ishak Salim menjelaskan bahwa asesmen ini merupakan instrumen penting untuk memastikan proses pengambilan keputusan berlangsung secara adil, akuntabel, dan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap keputusan didasarkan pada evaluasi yang cermat dan transparan.
Hasil dari asesmen tersebut akan menjadi dasar utama bagi universitas dalam menyediakan akomodasi yang layak. Akomodasi ini disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing mahasiswa ketika menjalani proses pembelajaran di kampus. Unhas berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan memfasilitasi setiap mahasiswa disabilitas.
Selama pelaksanaan asesmen, sejumlah calon mahasiswa dan orang tua turut menyampaikan berbagai harapan. Mereka berharap adanya penguatan ekosistem kampus yang lebih inklusif di masa mendatang. Masukan-masukan ini menjadi evaluasi berharga bagi Unhas untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan fasilitasnya.
Advertisement
Advertisement
Berbagai masukan yang diterima dari calon mahasiswa dan orang tua menjadi perhatian serius bagi Unhas. Beberapa poin penting yang diutarakan mencakup peningkatan aksesibilitas fisik bagi pengguna kursi roda. Hal ini krusial untuk memastikan mobilitas yang lancar di seluruh area kampus dan fasilitasnya.
Selain itu, fleksibilitas waktu dalam pelaksanaan tugas dan ujian juga menjadi harapan besar. Permintaan ini bertujuan untuk mengakomodasi kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki oleh mahasiswa disabilitas. Unhas berkomitmen untuk mencari solusi terbaik guna menciptakan sistem akademik yang lebih adaptif dan responsif.
Penguatan budaya akademik yang bebas dari diskriminasi juga merupakan aspek penting yang ditekankan. Lingkungan kampus yang suportif dan tanpa prasangka akan sangat membantu mahasiswa disabilitas untuk berkembang optimal. Pengalaman salah satu peserta yang masih menghadapi hambatan akses saat mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) juga menjadi perhatian khusus. Unhas berjanji untuk menjadikan pengalaman ini sebagai pelajaran berharga demi perbaikan layanan dan fasilitas di masa depan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews