Grab Ungkap Sederet Dampak Negatif Jika Pengemudi Ojol Menjadi Karyawan Tetap
Neneng mencontohkan, jika status kemitraan diubah menjadi karyawan tetap, maka fleksibilitas jam kerja akan hilang.
Grab Indonesia menanggapi tuntutan agar mitra pengemudi ojek online (ojol) diangkat menjadi karyawan tetap. Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi, mengingatkan bahwa pengangkatan pengemudi ojol menjadi karyawan tetap memiliki dampak buruk bagi mitra pengemudi hingga industri terkait.
Neneng mencontohkan, jika status kemitraan diubah menjadi karyawan tetap, maka fleksibilitas jam kerja akan hilang. Hal ini tak lepas dari adanya aturan yang ketat layaknya perusahaan terhadap karyawan tetapnya.
"Jadi, untuk fleksibilitas itu perlu dipikirkan ulang," kata Neneng dalam acara Diskusi bersama Media di Restoran Kembang Goela, Jakarta, ditulis Sabtu (14/6).
Selanjutnya, dampak pengangkatan dari pengemudi ojol menjadi karyawan tetap ialah kian menyempitnya lapangan pekerjaan yang ada. Ini karena perusahaan akan lebih selektif dalam melakukan rekrutmen untuk mendapatkan kandidat terbaik.
"Peluang menjadi terbatas dan menutup akses bagi jutaan orang lainnya untuk mendapatkan kesempatan berusaha melalui platform digital," ucapnya.
Hal ini sejalan dengan kasus di Spanyol mengeluarkan Riders Law yang menjadikan mitra pengemudi online delivery menjadi karyawan di tahun 2021. Salah satu Aplikasi yang bertahan, Glovo, hanya bisa menyerap 17 persen dari jumlah mitra terdaftar.
Penurunan Industri UMKM
Sejalan dengan hal tersebut, Neneng memproyeksikan industri dan UMKM akan mengalami penurunan pendapatan. Menyusul, kian mengecilnya perputaran ekonomi akibat minimnya sumber daya manusia (SDM) yang tersedia.
"Banyak UMKM menggunakan layanan pengantaran dan mobilitas digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas dari sekadar area mereka beroperasi. Tanpa platform, bisnis mereka bisa stagnan atau bahkan rugi," jelasnya.
Bagi konsumen, skema pengangkatan mitra pengemudi ojol menjadi karyawan tetap juga mengakibatkan proses order layanan transportasi maupun lainnya menjadi terhambat. Terlebih, bagi mereka yang tinggal di kawasan tidak terintegrasi dengan angkutan umum.
"Itulah beberapa dampak yang perlu diperhatikan bersama bagi kelangsungan bisnis platform, mitra hingga pengguna," tegasnya mengakhiri.