Ghana Rugi Rp186 Triliun Gara-Gara Emas
Emas kerap dibawa tanpa deklarasi menggunakan jalur penerbangan ke Dubai, memanfaatkan celah dalam sistem pengawasan.
Ghana dilaporkan kehilangan pendapatan hingga miliaran dolar setiap tahun akibat penyelundupan emas dari sektor pertambangan tradisional yang berkembang pesat. Sebagian besar emas yang diselundupkan itu mengalir ke Uni Emirat Arab (UEA), khususnya Dubai, menurut laporan lembaga nirlaba Swissaid yang dirilis pada 11 Juni 2025.
Dalam laporan tersebut, Swissaid menemukan adanya ketidaksesuaian perdagangan sebesar 229 metrik ton emas atau senilai USD 11,4 miliar (Rp186 triliun) antara jumlah ekspor emas yang tercatat oleh Ghana dan impor yang tercatat oleh negara-negara tujuan, dalam kurun waktu lima tahun. Mayoritas emas hasil penyelundupan itu dilaporkan berakhir di Dubai.
"Ini hanyalah puncak gunung es," ujar Ulf Laessing, kepala Program Sahel di Yayasan Konrad Adenauer, Jerman, dilansir dari Reuters.
Dia menjelaskan bahwa emas kerap dibawa tanpa deklarasi menggunakan jalur penerbangan ke Dubai, memanfaatkan celah dalam sistem pengawasan.
Swissaid menyebut bahwa emas dari Ghana biasanya diselundupkan melalui Togo sebelum sampai ke Dubai. Selain itu, sebagian emas batangan juga dilaporkan melintasi Burkina Faso dan Mali, dengan memanfaatkan lemahnya pengawasan di perbatasan antarnegara Afrika Barat.
Seorang pejabat senior dari Komisi Mineral Ghana menyatakan bahwa temuan Swissaid adalah “fakta yang sudah umum diketahui.”
Namun, Kementerian Keuangan Ghana belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.
Reformasi Kebijakan yang Terlambat
Laporan juga mengulas dampak kebijakan pajak ekspor emas yang diterapkan pemerintah Ghana. Pada 2019, pemerintah mengenakan pajak 3% terhadap ekspor emas dari sektor artisanal (kerajinan rakyat), yang justru memicu lonjakan penyelundupan dan penurunan ekspor resmi. Setelah itu, pemerintah memangkas pajak menjadi 1,5% pada 2022, dan pada Maret 2025, pajak tersebut dihapus sepenuhnya.
Penghapusan pajak ini disebut berhasil mendorong kenaikan kembali ekspor formal dari sektor kerajinan. Namun, Swissaid memperkirakan bahwa sekitar 34 ton emas dari produksi nasional tahun 2023 tidak dideklarasikan, jumlah yang hampir setara dengan total produksi kerajinan emas resmi negara itu pada tahun yang sama.
Meski Ghana memperoleh USD 11,6 miliar dari ekspor emas tahun lalu dan telah mengupayakan reformasi untuk memusatkan dan membersihkan perdagangan emas, laporan menyebut kemajuan reformasi masih berjalan lambat.
Kasus Ghana juga mencerminkan tren lebih luas di Afrika, di mana negara-negara penghasil emas melaporkan ekspor yang jauh lebih rendah dibanding data impor yang dicatat negara tujuan, terutama UEA.
Sementara itu, penambangan emas informal masih menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 10 juta orang di Sub-Sahara Afrika. Namun, praktik ini semakin berisiko digunakan sebagai jalur pendanaan untuk kejahatan terorganisir dan konflik bersenjata, menurut laporan PBB terbaru.
“Meski pemerintahan baru menunjukkan itikad untuk memperbaiki tata kelola sektor emas yang selama ini diabaikan, laju reformasi masih tergolong lambat,” kata Bright Simons dari Imani Center for Policy and Education yang berbasis di Accra.