Fakta Unik: SAF Pertamina Kurangi Emisi Hingga 85 Persen, Ini Strategi Transisi Energi Pertamina Pacu Biofuel Hingga Hidrogen Hijau
PT Pertamina (Persero) serius memacu Transisi Energi Pertamina di sektor transportasi, mulai dari biofuel, SAF, hingga hidrogen hijau. Bagaimana langkah strategisnya?
PT Pertamina (Persero) tengah gencar memacu transisi energi di sektor transportasi nasional. Inisiatif ini mencakup pengembangan biofuel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), hingga hidrogen hijau. Langkah strategis ini bertujuan mengurangi emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Dorongan kuat terhadap transisi energi ini diharapkan menjaga Indonesia tetap tangguh menghadapi perubahan global. Pertamina fokus pada energi ramah lingkungan yang juga andal dan terjangkau. Hal ini disampaikan oleh Pjs SVP Sustainability Pertamina, Indira Pratyaksa, di Jakarta.
Transformasi energi bersih sangat krusial mengingat sektor transportasi adalah penyumbang besar konsumsi energi di Indonesia. Sektor ini menyumbang 36 persen energi nasional dan 73 persen total konsumsi BBM. Diversifikasi energi di sektor ini menjadi prioritas utama Pertamina.
Uji Coba SAF: Langkah Nyata Kurangi Emisi Transportasi Udara
Salah satu terobosan penting Pertamina dalam transisi energi adalah pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar ramah lingkungan ini telah melalui uji coba penerbangan sukses yang dilakukan oleh Pelita Air Service. Uji coba tersebut berlangsung pada tanggal 20 Agustus 2025, dengan rute pulang-pergi Jakarta-Bali.
Pesawat yang menggunakan SAF produksi Pertamina berhasil terbang dengan lancar, membuktikan keandalan bahan bakar ini. Indira Pratyaksa menjelaskan bahwa "SAF yang kami kembangkan sudah melalui uji coba bersama mitra internasional dan terbukti mampu menurunkan emisi hingga 85 persen dibandingkan bahan bakar konvensional." Angka ini menunjukkan potensi besar SAF dalam mengurangi jejak karbon penerbangan.
Keberhasilan uji coba ini menandai langkah maju Pertamina dalam menyediakan solusi energi berkelanjutan untuk sektor aviasi. Inovasi ini tidak hanya mendukung target penurunan emisi nasional, tetapi juga menempatkan Indonesia di garis depan pengembangan bahan bakar penerbangan masa depan. Komitmen Pertamina terhadap energi bersih terlihat jelas melalui pengembangan SAF ini.
Diversifikasi Energi: Mengurangi Ketergantungan Impor Minyak
Direktur Proyek dan Operasi PT Pertamina New Renewable Energy (PNRE), Norman Ginting, menekankan pentingnya transformasi energi bersih. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak sejak tahun 2003. Ketergantungan ini menjadi salah satu alasan utama Pertamina mempercepat diversifikasi energi.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus menekan emisi karbon, Pertamina berkomitmen penuh pada program diversifikasi. Salah satu program yang akan segera berjalan adalah B40, yang dijadwalkan resmi pada tahun 2025. Program ini akan didukung oleh kilang hijau (green refinery) Pertamina.
Kilang hijau ini memiliki kemampuan untuk memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), yang melampaui kebutuhan pencampuran biodiesel. Produksi HVO ini akan memastikan pasokan yang memadai untuk program B40. Langkah ini merupakan bagian integral dari strategi Pertamina untuk mencapai ketahanan energi yang lebih baik.
Melalui pengembangan biofuel dan bahan bakar nabati lainnya, Pertamina berupaya menciptakan kemandirian energi. Ini juga sejalan dengan upaya global untuk beralih dari bahan bakar fosil. Diversifikasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional dan lingkungan.
Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik dan Infrastruktur Hidrogen
Selain biofuel dan SAF, Pertamina juga aktif membangun ekosistem kendaraan listrik (EV) dan baterai. Melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Pertamina berambisi menjadi produsen baterai terbesar di kawasan ASEAN. Pembangunan ekosistem ini mencakup Battery Energy Storage System (BESS) untuk mendukung stabilitas jaringan listrik.
Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk mendukung transisi ke mobilitas listrik di Indonesia. Dengan menjadi pemain utama dalam produksi baterai, Pertamina berkontribusi pada rantai pasok EV global. Ini juga akan mempercepat adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.
Tidak berhenti di situ, Pertamina juga menyiapkan infrastruktur untuk energi hidrogen dan e-fuel. Dua stasiun pengisian hidrogen (HRS) sedang dalam tahap persiapan. HRS pertama direncanakan beroperasi di Daan Mogot pada tahun 2026, diikuti oleh HRS di Jawa Barat pada tahun 2028.
Stasiun-stasiun pengisian hidrogen ini akan memiliki kapasitas awal antara 200 hingga 500 kg per hari. Pengembangan infrastruktur hidrogen ini menunjukkan visi Pertamina untuk masa depan energi yang lebih bersih. Norman Ginting menegaskan bahwa "Indonesia dianugerahi potensi energi bersih dan terbarukan yang melimpah, namun tetap ada tantangan di depan. Karena itu kita perlu bekerja sama."
Sumber: AntaraNews