Fakta Unik: Rp100 Miliar Disiapkan Pemprov Kepri untuk Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat pada 2026
Pemprov Kepri mengalokasikan Rp100 miliar untuk Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat pada 2026. Proyek ini akan menjadi pengingat sejarah Bahasa Indonesia. Simak detailnya!
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) telah menyiapkan anggaran fantastis sebesar Rp100 miliar. Dana ini dialokasikan melalui Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD tahun anggaran 2026.
Anggaran tersebut diperuntukkan bagi proyek strategis pembangunan Monumen Bahasa Nasional. Lokasi yang dipilih adalah Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, sebuah pulau yang sarat akan nilai sejarah.
Wakil Gubernur (Wagub) Kepri Nyanyang Haris Pratamura menjelaskan bahwa anggaran ini sedang dalam pembahasan bersama DPRD. Pembangunan monumen ini diharapkan dapat dimulai awal tahun 2026 dan ditargetkan rampung dalam satu tahun.
Anggaran Besar untuk Monumen Bahasa Nasional
Wagub Nyanyang Haris Pratamura menegaskan bahwa anggaran Rp100 miliar telah disiapkan untuk pembangunan Monumen Bahasa Nasional. Dana ini berasal dari APBD Kepri tahun 2026, yang kini menunggu persetujuan legislatif.
Selain dukungan dari APBD, Pemprov Kepri juga akan mendapatkan bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dukungan ini akan disalurkan melalui Kementerian Kebudayaan RI, meskipun besaran nominalnya belum dapat disampaikan secara rinci.
Pemprov Kepri telah merampungkan Detail Engineering Design (DED) untuk proyek monumen ini. Kesiapan DED menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam merealisasikan pembangunan penting tersebut.
Jika tidak ada hambatan, proses konstruksi akan dimulai pada awal tahun 2026. Proyek ini diharapkan dapat selesai dalam kurun waktu satu tahun, menandai kehadiran simbol kebanggaan baru bagi masyarakat Kepri.
Pulau Penyengat: Saksi Bisu Lahirnya Bahasa Indonesia
Monumen Bahasa Nasional ini akan menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Kepri. Lebih dari itu, monumen ini juga berfungsi sebagai pengingat sejarah penting lahirnya Bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia diketahui berasal dari Bahasa Melayu, yang merupakan buah pemikiran Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat. Pembangunan monumen ini diharapkan mempertegas posisi Pulau Penyengat sebagai cikal bakal Bahasa Nasional.
Lokasi pembangunan monumen telah ditetapkan di kawasan Bukit Kursi Penyengat. Dari titik ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan pusat ibukota Tanjungpinang, Senggarang, Dompak, bahkan hingga Batam.
Pilihan lokasi ini tidak hanya strategis dari segi pemandangan, tetapi juga sarat makna historis. Monumen ini diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata sejarah dan edukasi yang signifikan.
Kolaborasi Multi Pihak dan Tantangan Pembangunan
Pemprov Kepri melibatkan berbagai pihak untuk memastikan pembangunan monumen berjalan matang dan bermakna. Pihak-pihak tersebut antara lain Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, kepala OPD, tokoh masyarakat, akademisi, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Keterlibatan berbagai elemen masyarakat ini bertujuan untuk mengumpulkan saran dan masukan berharga. Hal ini penting agar proyek dapat mengakomodasi berbagai perspektif dan kepentingan, serta menghindari kesalahan masa lalu.
Wagub Nyanyang menekankan pentingnya belajar dari pengalaman sebelumnya, mengingat pembangunan serupa sempat mengalami pembatalan. "Mari kita kawal bersama agar cita-cita mempertegas bahwa cikal bakal Bahasa Indonesia berasal dari Kepri dapat diwujudkan melalui monumen bahasa ini,” tegas Nyanyang.
Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah IV Jumhari menyatakan dukungan penuh Kementerian Kebudayaan terhadap proyek ini. Ia berharap monumen ini tidak hanya simbolis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dengan tetap memperhatikan aturan dan norma cagar budaya.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kepri Abdul Malik menambahkan bahwa gagasan pembangunan monumen ini telah bergulir lama. “Tahun 2009 kita datangkan pakar, dilanjutkan seminar pada 2010, semua merekomendasikan perlunya monumen yang mengabadikan jejak Raja Ali Haji dan peran Pulau Penyengat sebagai asal muasal Bahasa Indonesia," ujarnya.
Abdul Malik juga menyoroti bahwa dunia telah menghargai peran Raja Ali Haji, bahkan Turkmenistan telah mendirikan monumen untuknya. "Dunia menghargai. Saatnya kita juga menunjukkan kepedulian terhadap bahasa dan budaya kita sendiri,” katanya, menekankan pentingnya inisiatif ini bagi bangsa.
Sumber: AntaraNews