Perayaan Waisak Candi Sewu Klaten 2026: Ribuan Umat Buddha Tebarkan Kedamaian
Sebanyak 5.000 penganut agama Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2026 di Candi Sewu Klaten dengan khidmat, menegaskan komitmen menebar cinta dan menumbuhkan perdamaian dunia.
Sebanyak 5.000 penganut agama Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2026 di Candi Sewu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Minggu (31/5). Perayaan ini menjadi momen sakral yang ke-22 kalinya diselenggarakan di lokasi bersejarah tersebut.
Acara Tri Suci Waisak ini diorganisir oleh Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) dan telah diawali dengan serangkaian persiapan spiritual selama satu bulan penuh. Tujuannya adalah untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama.
Dengan tema "Menebar Cinta, Menumbuhkan Perdamaian Dunia", perayaan ini tidak hanya fokus pada ritual keagamaan. Namun juga membawa pesan universal tentang pentingnya cinta kasih dan kerukunan di tengah masyarakat global.
Rangkaian Sakral Perayaan Waisak di Candi Sewu
Bhikkhu Badrapalo Thera, salah satu panitia dari Keluarga Buddhayana Indonesia, menjelaskan persiapan Waisak telah dimulai sejak sebulan lalu. Umat Buddha melakukan puasa dan mengambil air suci dari daerahnya. Air suci ini kemudian dibawa ke vihara untuk dibacakan paritta setiap malam. Pembacaan Kitab Dhammapada dalam bahasa Pali dan Jawa juga dilakukan selama sebulan penuh.
Puncak perayaan pada Hari Waisak diawali dengan Kirab Agung Maitri Prajna Yatra yang sakral. Kirab ini mengambil rute dari Candi Plaosan menuju Candi Sewu, melambangkan perjalanan cinta kasih. Setelah itu, dilanjutkan dengan pensakralan altar, Sannipata Waisak, serta ritual Waisak yang berlangsung khidmat.
Bhikkhu Badrapalo Thera menekankan bahwa kirab ini adalah perjalanan berlandaskan cinta kasih untuk mewujudkan kebijaksanaan. "Semoga kekuatan cinta yang kita miliki tidak ada perselisihan, perpecahan, peperangan," ujarnya. Setelah detik-detik Waisak, umat Buddha melaksanakan pradaksina. Ini adalah ritual mengelilingi Candi Sewu sebanyak satu kali sebagai bentuk penghormatan.
Semangat Persatuan dan Toleransi dalam Keberagaman
Perayaan Waisak di Candi Sewu ini dihadiri oleh umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta datang dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Lampung, Bali, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Tangerang, Banten, dan Jawa Timur. Kehadiran mereka menunjukkan semangat persatuan dalam keberagaman.
Nyoman Suriadarma, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, menyatakan perayaan Waisak dilakukan serentak di berbagai candi. Candi Sewu, Candi Sojiwan, dan Candi Borobudur adalah beberapa di antaranya. Ia juga menyebutkan inisiatif Vesakha Sananda dan Hening Nusantara. Pada 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, 2.570 umat Buddha di 34 provinsi melakukan hening nusantara bersama.
Nyoman Suriadarma menambahkan, dua perjalanan spiritual penting juga telah selesai dengan selamat. "Indonesia Walk For Peace" (dikenal sebagai thudong) yang berangkat dari Bali telah tiba di Borobudur. Sementara itu, perjalanan spiritual dari Candi Sima di Jawa Tengah telah mencapai Candi Sewu. Pemerintah berharap tema Waisak kali ini menciptakan vibrasi kedamaian, harmonisasi, kerukunan, dan kebersamaan di nusantara.
"Dengan cara demikian, kita umat Buddha di tanah air dapat memberi contoh, mengikuti keteladanan bahwa kedamaian, kerukunan akan menjadi syarat mutlak dari kedamaian negara dan kedamaian antarnegara," kata Nyoman Suriadarma. Pesan ini menggarisbawahi peran agama dalam menciptakan stabilitas sosial.
Klaten, Teladan Toleransi Beragama
Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Klaten, Jaka Purwanto, berharap peringatan Hari Suci Waisak ini membawa kedamaian. Ia juga berharap Waisak memberikan kebijaksanaan, cinta kasih, dan kebahagiaan bagi seluruh umat. "Waisak tahun ini mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga keselarasan hidup," ujarnya.
Jaka Purwanto menyoroti bahwa di tengah dinamika zaman modern yang serba cepat, nilai dharma yang sejuk dan tenang sangat dibutuhkan. Agama hadir untuk menabur kasih sayang kepada sesama makhluk tanpa memandang sekat perbedaan. Klaten, menurutnya, dianugerahi kekayaan luar biasa. Kekayaan ini tidak hanya terletak pada tanah pertanian subur atau objek wisata.
"Kekayaan terbesar Klaten adalah kedewasaannya dalam merawat keberagaman," tegas Jaka Purwanto. Ia mencontohkan Candi Prambanan yang megah berdiri berdampingan dengan Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Sojiwan. Candi-candi ini memiliki corak Hindu dan Buddha yang berbeda. Ini menjadi bukti bahwa sejak berabad-abad lalu, nenek moyang di Klaten telah memberikan teladan nyata.
Teladan tersebut adalah tentang toleransi, gotong royong, dan hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan. "Acara ini bukan hanya milik umat Buddha semata, melainkan juga menjadi kebahagiaan yang turut dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat," tambahnya. Jaka Purwanto menyampaikan apresiasi tinggi kepada umat Buddha atas komitmen mereka menjaga ketertiban dan keamanan wilayah.
Sumber: AntaraNews