Ekonom: Pentingnya Lapangan Kerja Berkualitas Jaga Keberlanjutan Ekonomi Nasional
Ekonom Sandy Pramuji menyoroti urgensi penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pemerataan pendapatan untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional, di tengah tantangan daya beli masyarakat.
Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, menekankan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam memastikan pertumbuhan pendapatan riil yang lebih merata di masyarakat. Selain itu, penciptaan lapangan kerja berkualitas juga menjadi fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional. Pernyataan ini disampaikan Sandy Pramuji di Jakarta pada hari Minggu.
Menurutnya, tantangan utama dalam meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia saat ini bukan lagi sekadar ketiadaan konsumsi. Melainkan, masalah mendasar terletak pada pendapatan yang tidak merata dan sulitnya mencari pekerjaan yang layak.
Sandy Pramuji memperingatkan, “Tanpa penguatan (kedua) fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja, yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya.” Hal ini mengindikasikan perlunya intervensi kebijakan yang tepat untuk mengatasi akar permasalahan ekonomi.
Tantangan Daya Beli dan Pendapatan Masyarakat
Meskipun daya beli masyarakat secara umum masih menunjukkan pertumbuhan dan terjaga, keinginan untuk berbelanja justru semakin tertahan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta kehati-hatian yang masih terasa pascapandemi COVID-19. Masyarakat cenderung lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran mereka.
Sandy menjelaskan bahwa masyarakat menahan konsumsi bukan karena tidak memiliki uang, melainkan karena memprioritaskan keamanan finansial. Mereka berupaya mengantisipasi kondisi perekonomian yang tidak pasti di masa mendatang, sehingga memilih untuk menabung atau berinvestasi daripada berbelanja secara impulsif.
Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan konsisten. Angka tersebut berada di kisaran 4,53 persen hingga 5,22 persen secara tahunan (yoy) pada periode 2023-2024, dan diproyeksikan bertahan pada level 4,98 persen pada tahun 2025. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ekonomi domestik belum melemah dan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Fenomena Upah Riil dan Indeks Penghasilan
Namun, di balik stabilitas konsumsi, upah riil pekerja mulai menunjukkan tekanan signifikan pada paruh kedua tahun lalu. Data pada Agustus 2025 mengungkapkan bahwa kenaikan upah hanya mencapai 1,94 persen yoy, sebuah angka yang lebih rendah dibandingkan laju inflasi yang menyentuh 2,31 persen yoy. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara pendapatan dan biaya hidup.
“Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar 0,37 persen, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga,” tutur Sandy. Kontraksi upah riil ini secara langsung mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa, terutama kebutuhan pokok.
Penurunan gairah ekonomi tersebut juga terlihat dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI). Indeks ini menurun dari 120,2 pada Juni 2025 menjadi 112,9 pada September 2025, sebelum akhirnya pulih terbatas di akhir tahun kembali ke level 120,2 pada Desember 2025. Fluktuasi ini mengindikasikan bahwa penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus oleh kenaikan biaya hidup yang terus meningkat.
Kesenjangan Serapan Tenaga Kerja dan Kondisi Tabungan Rumah Tangga
Dari aspek ketenagakerjaan, serapan tenaga kerja juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada Agustus 2025, jumlah penyerapan tenaga kerja hanya bertambah 1,89 juta orang. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan peningkatan pada Agustus 2024 yang mencapai 4,79 juta orang, menandakan perlambatan dalam penciptaan lapangan kerja.
Sandy juga menyoroti kondisi keuangan rumah tangga yang semakin tersegmentasi dan tidak merata, terutama terkait tabungan. Secara total, tabungan masyarakat memang tumbuh hingga 12,1 persen yoy pada November 2025. Namun, kenaikan tersebut didominasi oleh kelompok simpanan besar dengan saldo di atas Rp1 miliar.
Sebaliknya, kapasitas menabung kelompok menengah dan bawah justru mengalami stagnasi, bahkan cenderung menurun. Rata-rata tabungan per rekening untuk kelompok simpanan di bawah Rp100 juta menurun dari sekitar Rp2 juta pada awal 2023 menjadi sekitar Rp1,7 juta pada periode 2024-2025. “Fenomena precautionary saving ini mempertegas bahwa ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Kelompok berpendapatan tinggi lebih memilih menabung dan berinvestasi, sementara kelompok menengah-bawah berjuang menjaga sisa bantalan keuangan mereka yang mulai tergerus inflasi,” imbuh Sandy.
Sumber: AntaraNews