DPRD Gorontalo Utara Perjuangkan Normalisasi Sungai, Warga Anggrek Segera Rasakan Manfaat
DPRD Gorontalo Utara berhasil memperjuangkan percepatan normalisasi sungai di Kecamatan Anggrek. Pengerukan Sungai Tolongio dan Ilodulungga akan dimulai Desember ini, menjadi solusi mencegah banjir.
DPRD Gorontalo Utara telah menunjukkan komitmennya dalam mengatasi permasalahan lingkungan dengan berhasil memperjuangkan percepatan kegiatan normalisasi sungai. Inisiatif ini berfokus pada wilayah krusial seperti Kecamatan Anggrek, yang sering terdampak banjir. Langkah proaktif ini diharapkan membawa dampak positif signifikan bagi masyarakat setempat.
Anggota Komisi II DPRD Gorontalo Utara, Lukum Diko, bersama Kepala Bappeda Gorontalo Utara Helmi Potutu, telah melakukan pertemuan langsung dengan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo. Pertemuan ini bertujuan untuk mengajukan usulan pengerukan sungai yang mendesak di beberapa lokasi. Respons positif dari BWS menjadi angin segar bagi upaya pelestarian lingkungan di daerah tersebut.
Sebagai hasil dari perjuangan tersebut, pihak BWS Sulawesi II Gorontalo telah menyetujui untuk segera melakukan pengerukan Sungai Tolongio dan Ilodulungga. Kegiatan vital ini dijadwalkan akan dimulai pada bulan Desember ini, menjadi hadiah akhir tahun yang dinantikan oleh warga Gorontalo Utara. Pengerukan ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi sungai secara optimal.
Keberhasilan Perjuangan DPRD dan Respon Cepat BWS
Percepatan kegiatan normalisasi sungai di Gorontalo Utara merupakan buah dari perjuangan gigih DPRD setempat, khususnya Komisi II. Anggota Komisi II, Lukum Diko, menegaskan bahwa pihak BWS Sulawesi II Gorontalo telah menerima usulan mereka dengan baik. Usulan ini mencakup kegiatan pengerukan sungai dalam bentuk kegiatan pengerukan di wilayah Kecamatan Anggrek yang sangat membutuhkan penanganan.
"Alhamdulillah pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Gorontalo telah menerima kami, termasuk pengajuan usulan untuk kegiatan normalisasi sungai dalam bentuk kegiatan pengerukan sungai di Wilayah Kecamatan Anggrek," kata Lukum Diko. Pernyataan ini menunjukkan adanya sinergi yang baik antara lembaga legislatif daerah dan instansi terkait di tingkat pusat.
Pertemuan yang didampingi oleh Kepala Bappeda Gorontalo Utara Helmi Potutu ini membuahkan hasil konkret. Pihak BWS berkomitmen untuk segera melakukan pengerukan dua sungai utama, yaitu Sungai Tolongio dan Ilodulungga. Tindakan cepat ini diharapkan dapat mengatasi masalah pendangkalan yang selama ini menjadi penyebab utama banjir.
Pengerukan yang akan dimulai pada Desember ini menjadi solusi jangka pendek yang sangat dinanti. Lukum Diko menambahkan, "Respon pihak BWS ini tentu menjadi hadiah akhir tahun bagi masyarakat yang berharap kegiatan pengerukan tersebut dapat menyelamatkan lingkungan, khususnya mencegah banjir yang acapkali melanda di musim penghujan di akhir tahun, sebab sungai tak mampu lagi menampung debit air karena kedangkalan yang dialami."
Dampak Positif dan Harapan Pelestarian Lingkungan
Kegiatan normalisasi sungai ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang signifikan, terutama dalam mitigasi bencana banjir. Pendangkalan sungai telah menyebabkan kapasitas penampungan air berkurang drastis, sehingga banjir menjadi langganan di musim penghujan. Dengan pengerukan, daya tampung sungai akan kembali normal dan aliran air menjadi lancar.
DPRD Gorontalo Utara juga berharap agar kegiatan normalisasi sungai ini dapat dilakukan secara bertahap di seluruh daerah aliran sungai (DAS) di kabupaten tersebut. Data menunjukkan bahwa terdapat setidaknya 14 titik rawan banjir yang tersebar di 11 kecamatan wilayah pesisir. Penanganan yang komprehensif sangat diperlukan untuk melindungi masyarakat dari ancaman banjir.
Selain normalisasi fisik, upaya pelestarian lingkungan secara menyeluruh juga menjadi fokus utama. Lukum Diko menekankan pentingnya peran serta seluruh pihak dalam kampanye sadar lingkungan. "Kami pun berharap seluruh pihak untuk bahu membahu melakukan kampanye sadar lingkungan, yaitu dengan tidak membuang sampah di saluran air, sungai dan laut. Serta bergotong royong menanam pohon sebanyak-banyaknya sebagai upaya penghijauan serentak, melestarikan paru-paru hijau, serta mencegah banjir dan tanah longsor," ujarnya.
Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan di sungai dan laut, serta gerakan penghijauan melalui penanaman pohon, adalah langkah krusial. Upaya ini tidak hanya mencegah banjir dan tanah longsor, tetapi juga melestarikan ekosistem dan menjaga kualitas lingkungan hidup di Gorontalo Utara untuk generasi mendatang.
Sumber: AntaraNews