Dishut Kalsel Perkuat Hilirisasi HHBK Kemiri, Tingkatkan Nilai Ekonomi Petani Hutan
Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan memperkuat Hilirisasi HHBK Kemiri melalui pelatihan bagi Kelompok Tani Hutan di tiga KPH, bertujuan meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (Dishut Kalsel) secara aktif memperkuat hilirisasi hasil hutan bukan kayu (HHBK) kemiri sebagai komoditas unggulan daerah. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui pelatihan peningkatan kapasitas bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di tiga Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Pelatihan ini didanai oleh Result Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) Output 2 Kategori Pemanfaatan.
Kepala Dishut Kalsel, Fathimatuzzahra, menyatakan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 30 petani hutan dari KPH Tabalong, KPH Kusan, dan KPH Hulu Sungai. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari visi “Kalsel Bekerja” menuju Gerbang Logistik Kalimantan.
Strategi Penguatan Hilirisasi HHBK Kemiri
Pengembangan HHBK kemiri merupakan implementasi konkret dari visi “Kalsel Bekerja” yang berorientasi pada penguatan hilirisasi hasil hutan. Visi ini juga mencakup peningkatan nilai tambah komoditas daerah serta pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini diharapkan mampu mencetak pelaku usaha kehutanan yang produktif dan berdaya saing tinggi. Mereka diharapkan mampu mengolah hasil hutan bukan kayu menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pendanaan pelatihan berasal dari RBP REDD+ GCF Output 2 Kalimantan Selatan, sebuah bentuk apresiasi atas keberhasilan penurunan emisi sektor kehutanan. Dana ini dialokasikan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan hutan lestari.
Selain itu, pendanaan tersebut juga dimanfaatkan untuk rehabilitasi hutan dan lahan, serta pengembangan usaha produktif berbasis perhutanan sosial. Ini menunjukkan komitmen Dishut Kalsel terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekonomi di wilayahnya.
Materi Pelatihan dan Praktik Lapangan Komprehensif
Peserta pelatihan menerima beragam materi penting, termasuk kebijakan pemanfaatan dana RBP REDD+ GCF Output 2 Kalimantan Selatan. Pemahaman ini krusial untuk memastikan pemanfaatan dana yang efektif dan tepat sasaran bagi petani hutan.
Petani hutan juga dibekali pengetahuan mengenai optimalisasi lahan melalui pola agroforestri sebagai strategi. Pola ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dengan mengombinasikan tanaman kehutanan dan komoditas pertanian tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan.
Pembelajaran praktis diperoleh dari pengelola KTH Batu Kura, yang berbagi pengalaman tentang budidaya, panen, pascapanen, hingga pengolahan kemiri. Mereka juga mengajarkan cara memanfaatkan cangkang kemiri menjadi briket arang bernilai tambah.
Pelatihan ini dirangkai dengan praktik lapangan langsung di lokasi KTH Batu Kura, wilayah kerja KPH Tanah Laut. Peserta dapat mempraktikkan proses budidaya, pemeliharaan, panen, dan pengolahan kemiri secara langsung agar materi dapat diterapkan di daerah masing-masing.
Dampak Positif dan Harapan Masa Depan
Perpaduan antara pembelajaran teori dan praktik lapangan ini diharapkan dapat mendorong hilirisasi HHBK kemiri secara signifikan. Hal ini krusial untuk meningkatkan nilai transaksi ekonomi para petani hutan di Kalimantan Selatan.
Dishut Kalsel memiliki harapan besar agar materi yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara efektif di daerah masing-masing peserta. Penerapan ini akan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Program ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat sekitar kawasan hutan yang semakin mandiri, sejahtera, dan berdaya saing. Dengan demikian, HHBK kemiri dapat menjadi pilar ekonomi yang kuat bagi wilayah tersebut.
Pengembangan HHBK kemiri tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga menjaga fungsi ekologis hutan. Ini sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan di Kalimantan Selatan, menciptakan keseimbangan yang harmonis.
Sumber: AntaraNews