Dari Petani Perahu hingga Pengusaha Warung, Wisata Rammang-Rammang Sulap Kehidupan Warga Lokal
Dulu sepi, kini Wisata Rammang-Rammang di Maros, Sulsel, menjadi magnet ekonomi. Bagaimana pegunungan karst terbesar kedua dunia ini mengubah nasib warga lokal?
Fardi (40), seorang warga Desa Salenrang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, baru saja menepikan perahu motornya di dermaga kawasan perbukitan karst Rammang-Rammang. Pria berambut gondrong ini merupakan salah satu dari banyak warga yang merasakan dampak positif dari geliat pariwisata di daerah tersebut. Setiap hari, Fardi mengantar rombongan wisatawan menyusuri Sungai Pute, jalur utama menuju Kampung Berua, sembari tetap menjalankan profesi sebagai petani padi dan pencari ikan.
Perjalanan sejauh tiga kilometer di antara hutan nipah dan bukit karst menjulang menjadi rutinitas Fardi sejak 2020, menambah penghasilan keluarganya. Dalam satu kali perjalanan, ia bisa mengantongi sekitar Rp60 ribu setelah dikurangi biaya operasional, yang cukup untuk menopang kebutuhan anak-anaknya. Musim kunjungan wisatawan, terutama Oktober hingga akhir tahun, menjadi waktu yang paling dinanti oleh Fardi dan rekan-rekan pengemudi perahu lainnya.
Kisah serupa juga dialami Anas (29) dan Tina (40), warga lokal lainnya, yang memilih kembali ke kampung halaman setelah sebelumnya merantau untuk mencari pekerjaan. Mereka kini turut serta dalam ekosistem pariwisata Rammang-Rammang, baik sebagai pengemudi perahu maupun pengusaha warung kecil. Kehadiran wisatawan telah menghidupkan kembali perekonomian desa, mengubah perahu yang dulunya hanya alat transportasi warga menjadi sarana penggerak ekonomi.
Karst Angkat Ekonomi Warga
Perkembangan Dusun Rammang-Rammang tak lepas dari pesatnya kawasan karst Maros-Pangkep sebagai destinasi wisata unggulan Sulawesi Selatan. Menurut Tudi Ledda dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sulsel, kawasan ini merupakan pegunungan karst terbesar kedua di dunia setelah China, dengan luas mencapai 43.750 hektare yang mencakup Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (Babul).
Sejak mulai dilirik pada 2014 dan booming pada 2015, banyak penduduk yang sebelumnya merantau kini kembali untuk membuka usaha di kampung sendiri. Sebelum dikenal sebagai objek wisata, Kampung Berua hanya dihuni delapan rumah, namun kini jumlahnya bertambah menjadi sekitar 17 kepala keluarga atau hampir 50 jiwa.
Pengelolaan wisata dilakukan melalui sistem pembinaan masyarakat yang melibatkan berbagai lembaga, termasuk Bank Indonesia (BI). Warga mendapatkan akses pinjaman lunak untuk membeli perahu, pembangunan fasilitas umum seperti musala dan toilet, serta pelatihan pemandu wisata. Kelompok sadar wisata (pokdarwis) juga dibentuk untuk memastikan pengelolaan berjalan ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dampak positif paling dirasakan adalah peningkatan kualitas hidup, dengan akses air bersih dan listrik yang kini tersedia, serta kesadaran menjaga alam yang semakin kuat. Warga setempat tidak lagi menebang nipah atau mangrove sembarangan, melainkan mengikuti aturan pelestarian yang disepakati bersama, membuktikan harmonisasi antara alam dan masyarakat.
Bentang Alam Membentuk Kehidupan
Secara geologis, kawasan Rammang-Rammang merepresentasikan sistem karst muara yang unik, menunjukkan interaksi antara air darat dan pasang laut. Interaksi ini membentuk jaringan sungai yang memengaruhi pola kehidupan di sekitarnya, dengan cekungan-cekungan batuan di sisi bukit karst yang menjadi jalur air alami menuju Kampung Berua.
Vegetasi mangrove tumbuh rapat di tepi sungai, dengan jenis seperti Rhizophora mucronata dan Nypa fruticans yang menjadi penyangga ekosistem penting. Di ujung perjalanan sungai, Kampung Berua berdiri tenang di antara dinding batu kapur, sebuah desa yang dulunya merupakan danau besar yang mengering perlahan selama ribuan tahun.
Jejak retakan di bukit-bukit karst kini menjadi gerbang menuju desa wisata tersebut. Nama "Berua" sendiri berarti baru, merujuk pada kampung termuda di kawasan Rammang-Rammang yang masih menjaga kearifan dan budaya lokalnya di tengah perkembangan pariwisata.
Dukungan Pemerintah dan Peran Investasi
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Muhammad Arafah, mengakui Rammang-Rammang sebagai salah satu magnet utama wisata Sulsel di luar Makassar. Kawasan yang termasuk dalam wilayah Geopark Maros-Pangkep ini mencatat jumlah kunjungan wisatawan yang tinggi, bahkan bisa mencapai 3.400 hingga 4.000 orang per hari pada akhir pekan, dengan ratusan perahu beroperasi dari tiga dermaga yang dikelola pokdarwis.
Pemerintah daerah memberikan ruang besar bagi masyarakat untuk mandiri dalam pengelolaan wisata, menjadikan pokdarwis sebagai ujung tombak dalam perbaikan sarana, kebersihan, dan pengaturan sistem sewa perahu. Arafah menegaskan bahwa strategi pengembangan pariwisata Sulsel berpijak pada lima pilar utama:
- Kolaborasi pentahelix
- Komunikasi dan jaringan
- Pemberdayaan lokal
- Pelibatan akademisi
- Dukungan sektor swasta
Melalui pola ini, sektor wisata diharapkan tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi. Dukungan juga datang dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan. Ekonom Senior BI Sulsel, Deded Tuwanda, menyebut desa wisata memiliki potensi besar menarik investasi sektor riil yang mampu memperkuat ekonomi daerah.
BI bersama pemerintah provinsi mendorong tiap kabupaten menyiapkan proyek wisata dalam bentuk "investment project ready to offer" agar dapat ditawarkan langsung kepada investor. Pendekatan ini diharapkan menarik modal asing di sektor riil, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Deded menambahkan, ratusan desa wisata di Sulsel memiliki kekayaan dan keunikan yang berpotensi besar menjadi fokus investasi, dari pantai di Bira, budaya di Toraja, hingga bentang karst Rammang-Rammang.
Usaha Rumahan
Beberapa menit setelah perahu membelah hutan nipah, Kampung Berua tersibak di antara dinding karst yang menjulang. Di kampung kecil itu, warga mulai menata hidup dengan berjualan dan membuka usaha rumahan. Tina (40), warga Kampung Berua, yang sempat merantau ke Kalimantan, kini membuka warung kecil di depan rumahnya.
Tina menjual kelapa muda, pisang goreng, kopi, serta teh untuk para tamu yang datang, merasakan perubahan signifikan setelah kawasan wisata dibenahi dan mendapat pendampingan dari Bank Indonesia. Jumlah pengunjung kini bisa mencapai ratusan orang setiap hari, terutama saat musim liburan, dengan sebagian besar berasal dari luar negeri.
Pendapatan dari berjualan cukup untuk membantu kebutuhan keluarga, terutama biaya sekolah anak-anaknya. "Alhamdulillah, bisa bantu anak sekolah," ujar Tina sembari menyiapkan kopi bagi wisatawan yang datang, menunjukkan bagaimana pariwisata telah memberikan harapan baru bagi warga lokal.
Sumber: AntaraNews