Menjaga Biru Madura, PHE WMO Dorong Konservasi Laut dan Ekonomi Pesisir Lewat Taman Wisata Laut Labuhan
Labuhan Mangrove bukan destinasi wisata biasa. Kawasan ini lebih dulu hidup sebagai tujuan riset.
Sore itu, kicau burung berpadu dengan desir angin yang menyusup di antara rimbun mangrove Taman Labuhan Mangrove Jung Koneng. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantul di atas jembatan kayu melingkar, menciptakan suasana tenang yang seolah mengajak setiap pengunjung memperlambat langkah.
Di atas jembatan itu, seorang pria berkaos merah dan bertopi tampak berdiri mengamati rombongan tamu. Dialah Mohamad Sahril, Ketua Kelompok Sadar Wisata Payung Kuning. Dengan langkah mantap, ia mendekat dan mulai bercerita tentang mangrove yang dulu rusak, tentang kerja bersama warga, dan tentang harapan agar kawasan ini terus hidup sebagai ruang belajar, wisata, dan penjaga alam pesisir.
Labuhan Mangrove bukan destinasi wisata biasa. Kawasan ini lebih dulu hidup sebagai tujuan riset. Mahasiswa dan peneliti datang untuk mengkaji mangrove, terumbu karang, hingga lamun.
Dari Ekonomi Pembangunan Hingga Kelautan
Bidang kajiannya beragam, dari ekonomi pembangunan hingga kelautan. Kampus-kampus seperti Universitas Brawijaya, ITS, dan Unair rutin mengirimkan mahasiswa. Rombongan pertukaran pelajar dari luar negeri pun singgah, termasuk dari Malaysia.
"Banyak mahasiswa atau lembaga organisasi ke sini wisata edukasi, untuk bahan skripsi di sini dan lain-lain, meneliti terumbu karang, atau Mangrove, Lamun," kata dia Selasa (23/12/2025).
Aktivitas riset itu menggerakkan ekonomi desa. Setiap perjalanan ke laut menggunakan armada perahu sampan milik warga yang dikelola kelompok. Jalurnya satu pintu.
Pengunjung membayar per orang, termasuk jaket pelampung. Biaya dibagi antara kas kelompok dan pemilik perahu. Untuk satu hari penuh di laut semua diatur oleh Pokdarwis.
"(Feed back) ke kita, kelompok dan masyarakat juga. Kita ke kelompok punya armada. Kayak perahu sampan. Jadi, kalau mau ke laut, otomatis sewa itu. Cuman lewat kami. Jadi, kalau untuk pengunjung itu Rp 50.000 per orang.
"Ada life jacket-nya. Jadi, Rp10.000 untuk kas, Rp40.000 yang punya sampan. Kalau booking satu sampan, itu Rp 650 ribu sampai Rp700 ribu," sambung dia.
Aktivitas Bawah Laut Hanya Untuk Kepentingan Penelitian
Kawasan laut ini belum dibuka untuk umum. Snorkeling masih ditutup, aktivitas bawah laut hanya untuk kepentingan penelitian.
"Satu hari lah. Kan banyak yang penelitian ke tengah, ambil plankton, apa itu. Ke nyelam, apa itu. Ke tempat pembukaan kami, apa itu. Yang penelitian bukan untuk umum. Kalau untuk umum belum dibuka. Untuk snorkeling belum dibuka," ujar dia
Perputaran uang tak berhenti di dermaga. Kebutuhan makan rombongan penelitian dialihkan ke warga. Kelompok katering dibentuk, menyasar keluarga menengah ke bawah. Harganya disesuaikan karena menu mahasiswa berbeda dengan dosen. Sistem giliran diterapkan agar kesempatan merata. Jika satu rombongan besar menginap, pembagian tugas sudah diatur sejak awal melalui daftar.
"Nah, bisa terbantu dari adanya wisatanya. Ya bisa memberdayakan masyarakat sekitar," ucap dia
Perubahan paling terasa justru terlihat di kebiasaan. Mangrove yang dulu ditebang kini tumbuh kembali. Burung-burung yang sebelumnya diburu tidak lagi diganggu. Perubahan itu juga tak lepas dari Program Taman Wisata Laut Labuhan yang dikembangkan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) di Desa Labuhan, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Program ini lahir sebagai respons atas kerusakan terumbu karang yang parah. Pada 2017, tutupan karang hidup di perairan Labuhan hanya tersisa 10-25 persen.
Abrasi pantai mencapai 5,24 meter per tahun, sementara hasil tangkapan nelayan merosot dari 30-40 kilogram menjadi kurang dari 10 kilogram per sekali melaut.
PHE WMO kemudian mendorong konservasi terumbu karang melalui metode transplantasi menggunakan kubah beton berongga, yang merupakan modulpertama di Indonesia dan telah mendapatkan Hak Cipta.
80 kubah dengan 480 fragmen karang ditanam
Hingga kini, 80 kubah dengan 480 fragmen karang ditanam, dengan tingkat kesintasan mencapai 97 persen. Jenis karang yang ditransplantasi meliputi Acropora millepira, Acropora hyacinthus, Porites cylindrica, dan Sinularia sp.
Dampaknya terlihat di bawah permukaan laut. Jumlah spesies fauna akuatik yang berasosiasi dengan terumbu karang meningkat dari delapan spesies pada 2017 menjadi 40 spesies pada 2024. Pemerintah Desa Labuhan bahkan mereplikasi inisiatif ini dengan menanam 130 kubah beton tambahan.
Bagi warga, konservasi itu membawa manfaat ganda. Lingkungan pulih, peluang usaha terbuka. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada hasil laut kini terlibat dalam pengelolaan kawasan wisata, layanan perahu, hingga usaha pendukung lainnya.
"Melalui kegiatan konservasi yang dilaksanakan bersama dengan PHE WMO, tentunya menjadi semangat bagi kami untuk terusmenjaga keberlanjutan lingkungan. Kami tidak hanya mendapatkan manfaat dari sisi lingkungan, tapi masyarakat kurang mampu di sini juga dapat terlibat untuk mengembangkan usaha di area wisata,” ucap Sahril.
PHE WMO sendiri telah mengelola Blok West Madura Offshore sejak 2011, dengan wilayah operasi di lepas pantai barat Madura dan fasilitas gas di Gresik.
Hingga Desember 2025, perusahaan mencatat produksi minyak mentah 1.703 barel per hari dan gas 26,454 MMSCFD.
Di luar angka produksi, perusahaan menempatkan hubungan dengan masyarakat pesisir sebagai bagian dari keberlanjutan jangka panjang, sejalan dengan strategi pengelolaan kawasan operasionalnya.
General Manager Zona 11 PHE, Zulfikar Akbar, menegaskan pengembangan area operasional ini sejalan dengan rencana strategis yang dituangkan dalam Konsep One Belt One Road (OBOR). Upaya ini bertujuan mewujudkan keberlanjutan, sekaligus mendukung agenda internasional Sustainability Development Goals (SDGs) utamanya tujuan Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dan Menjaga Ekosistem Lautserta Menjaga Ekosistem Darat.
"Sebagai tetangga terdekat wilayah operasi kami, tentu kami berharap masyarakat pesisir semakin maju dan sejahtera. Ini sejalan dengan Konsep OBOR dan dukungan terhadap SDGs,” katanya.
Senada, Manager Comrel & CID Regional 4, Rahmat Drajat, menilai inovasi kubah beton berongga sebagai solusi konkret.
"Program ini merupakan ide cemerlang karena mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat nelayan,” ujar Rahmat.
Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur, Sigit Dwi Aryono menambahkan PHE WMO Regional Indonesia Timur terus berkomitmen penuh dalam melaksanakan program berkelanjutan sesuai kerangka Environmental, Social & Governance (ESG). Program ini merupakan implementasi dari aspek social yakni hubungan dengan komunitas di sekitar wilayah operasi.
"Harapannya, kami dapat menjalankan peran kami semaksimal mungkin sebagai pendukung ketersediaan energi negeri, di sisilain juga menumbuhkan kemandirian bagi masyarakat local,” katanya.