Jembatan Ampera Kini Jadi Destinasi Wisata Ramah Pengunjung, Aman dan Nyaman
Pemerintah Kota Palembang serius merawat Jembatan Ampera, ikon Bumi Sriwijaya, menjadi destinasi wisata yang lebih ramah, aman, dan nyaman bagi setiap pengunjung. Simak transformasinya!
Bagi siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di Bumi Sriwijaya, Jembatan Ampera bukan sekadar konstruksi baja yang menyambung dua sisi Sungai Musi. Jembatan ikonik ini adalah urat nadi, saksi sejarah, sekaligus ruang rindu bagi setiap perantau dan pelancong yang datang berkunjung.
Namun, keelokan Jembatan Ampera sebagai ikon tempat pelesiran sempat terusik oleh tangan-tangan jahil, mulai dari hilangnya besi pembatas trotoar hingga keluhan akibat parkir liar yang mengganggu kenyamanan. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota Palembang untuk bergerak cepat merajut kembali kenyamanan di atas jembatan merah tersebut.
Kini, wajah Jembatan Ampera sedang bersolek, bertransformasi menjadi objek wisata yang jauh lebih ramah, aman, dan hangat bagi siapa saja yang datang berkunjung. Upaya ini memuncak dengan peresmian program hari bebas kendaraan bermotor (CFD) pada Minggu, 14 Juni 2026, yang menjadikan jembatan ini semakin layak sebagai destinasi wisata unggulan.
"Mata" yang Menjaga Keamanan Jembatan Ampera
Menikmati angin sepoi-sepoi Sungai Musi dari atas trotoar Jembatan Ampera kini terasa lebih tenang dan aman. Langkah Pemerintah Kota Palembang memasang enam titik kamera pengintai (CCTV) di sepanjang jembatan menjadi jawaban atas kecemasan warga dan wisatawan.
Jika dulu kamera hanya menyorot bagian tengah, kini sudut-sudut rawan di areal hulu dan hilir jembatan tak luput dari pengawasan digital selama 24 jam penuh. Langkah ini terbukti ampuh mempersempit ruang gerak pelaku kriminalitas dan aksi vandalisme yang sempat merusak estetika Jembatan Ampera.
Rasa aman ini kian lengkap dengan hadirnya personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bersiaga secara bergantian di area Jembatan Ampera. Pendekatan yang dilakukan pemerintah daerah ini lebih humanis, salah satunya terlihat dari cara petugas menertibkan para konten kreator yang kerap melakukan siaran langsung pada malam hari.
Pemerintah tidak melarang kreativitas mereka yang turut mempromosikan keindahan Jembatan Ampera di media sosial. Sambil mengedukasi, petugas hanya mengarahkan agar mereka memarkir kendaraan di kantong parkir resmi berbasis barcode yang aman, sehingga jalur trotoar dan jalan tetap lengang bagi pejalan kaki serta pengendara lain.
Hari Bebas Kendaraan: Jembatan Ampera sebagai Ruang Publik Humanis
Upaya mengembalikan Jembatan Ampera sebagai ruang publik yang humanis mencapai puncaknya melalui program hari bebas kendaraan bermotor (CFD) Jembatan Ampera. Setelah melalui serangkaian uji coba, kawasan ini bersiap menyambut peresmian besarnya pada Minggu, 14 Juni 2026, setelah fasilitas fisik yang sempat rusak selesai diperbaiki oleh balai jalan nasional.
Bayangkan, Minggu pagi tanpa bising knalpot dan kepulan asap polusi di atas Jembatan Ampera. Mulai pukul 05.30 hingga 09.00 WIB, jalur dari depan Masjid Al-Fathul Akbar Jakabaring hingga Simpang Charitas berubah menjadi panggung kegembiraan warga.
Kawasan bebas kendaraan ini dengan apik dibagi menjadi dua zona, yakni zona kebugaran dan zona ekonomi kreatif. Zona kebugaran menjadi ruang bagi mereka yang ingin berlari, jalan santai, atau sekadar menghirup udara segar pagi hari di atas sungai.
Sementara itu, zona ekonomi kreatif adalah area khusus yang menghadirkan denyut nadi UMKM lokal. Di sini, wisatawan bisa berolahraga sekaligus memanjakan lidah dengan kuliner khas Palembang atau berburu kerajinan tangan lokal, menjadikan Jembatan Ampera sebagai destinasi wisata yang lengkap.
Jembatan Ampera: Ikon Sejarah dan Kebanggaan Palembang
"Saya sangat bangga menjadi warga Sumatera Selatan, bisa menikmati kemegahan Jembatan Ampera, karena memang lagi ramai disebut netizen mirip dengan London Bridge," ujar Iqbal Khoir (26), wisatawan lokal asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel. Dengan hadirnya negara lewat pemerintah daerah, kemegahan Jembatan Ampera lebih terasa saat malam hari, menyuguhkan cahaya lampu yang bisa berubah-ubah dari merah, ungu, hingga hijau.
Pengamat kebijakan publik, Bagindo Togar, menyebutkan bahwa upaya Pemerintah Kota Palembang menjadikan Jembatan Ampera sebagai objek wisata yang lebih menarik bisa dilakukan dengan menjadikannya sebagai landmark, seperti di Malioboro, Yogyakarta. Konsekuensinya, jembatan itu ditutup dan benar-benar menjadi kawasan wisata, hanya diperbolehkan dilintasi kendaraan ramah lingkungan seperti becak, pejalan kaki, dan pesepeda, hingga sentra usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Jembatan Ampera memang sudah menjadi idola sejak dahulu pertama kali dibangun, dengan nama awal Jembatan Bung Karno. Namun, dengan kebijakan Pemerintah Kota Palembang membuat CFD setiap Minggu pagi, perlu dicarikan solusi dari kecenderungan timbulnya kepadatan lalu lintas di luar wilayah itu.
Hal itu karena Kota Palembang tidak banyak memiliki jalan utama yang besar, seperti Jalan Sudirman, Basuki Rahmat, Kertapati, dan Arivai. Penataan lalu lintas di sekitar area CFD menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan kelancaran aktivitas warga.
Menguak Sejarah Panjang Jembatan Ampera
Sejarah pembangunan Jembatan Ampera dimulai pada April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang, dan jembatan ini pun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, sarana transportasi itu dinamai Jembatan Bung Karno. Pemberian nama proklamator tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden pertama RI yang secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki jembatan di atas Sungai Musi.
Peresmian Jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara.
Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu diubah menjadi Jembatan Ampera, singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Jembatan Ampera adalah sejarah panjang yang tidak hanya menghubungkan dua sisi Sungai Musi, melainkan juga menjembatani masa lalu dan masa kini untuk kesejahteraan masyarakat.
Sumber: AntaraNews