Bukan LPG! Intip 'Api Biru' dari Biogas Kotoran Sapi Samboja, Solusi Krisis Energi di Dapur Warga
Warga Samboja, Kutai Kartanegara, berhasil mengubah limbah ternak menjadi sumber energi bersih. Temukan bagaimana Biogas Kotoran Sapi Samboja menjadi solusi mandiri energi rumah tangga!
Di tengah hiruk pikuk isu krisis energi dan kenaikan harga LPG, sebuah solusi sederhana namun revolusioner muncul dari Kelurahan Wonotirto, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Rosipul Akli, Ketua Kelompok Ternak Tirto Sari Samboja, menunjukkan bagaimana "api biru" dari biogas telah menggantikan tabung gas di dapur warga. Inisiatif ini bermula dari upaya kolektif peternak lokal untuk mengatasi limbah kotoran sapi.
Sejak 2020, melalui program Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kelompok ini menerima bantuan 11 unit reaktor biogas berkapasitas empat meter kubik. Reaktor-reaktor ini mengubah kotoran sapi menjadi gas metana (CH₄) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Solusi inovatif ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan akibat penumpukan limbah, tetapi juga memberikan kemandirian energi bagi rumah tangga.
Biogas kotoran sapi di Samboja kini menjadi realitas sehari-hari, bukan sekadar wacana, yang terbukti efektif dalam menyediakan energi bersih dan terbarukan. Warga tidak lagi bergantung pada LPG, melainkan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah. Keberhasilan ini menjadi contoh nyata transisi energi yang dimulai dari level komunitas.
Berbagi Energi dari Limbah Ternak
Kelompok Ternak Tirto Sari berdiri pada tahun 2014 dengan tujuan saling menopang antar peternak lokal. Seiring bertambahnya populasi sapi yang kini mencapai 42 ekor dan akan ditambah 50 ekor lagi, masalah penumpukan kotoran sapi (kohe) menjadi isu lingkungan serius. "Dulu ya hanya menumpuk saja guna menunggu jadi pupuk kering, sehingga jadi masalah bau dan lingkungan," kenang Akli.
Titik balik terjadi pada 2020 ketika Dinas ESDM memberikan 11 unit reaktor biogas. Akli dan rekan-rekannya tidak hanya memanfaatkannya untuk kelompok sendiri, tetapi juga mendistribusikan 10 unit kepada warga di tiga kelurahan berbeda: Sungai Merdeka, Handil Baru, dan Wonotirto. Syaratnya, setiap penerima harus memiliki minimal tiga sapi untuk menjamin pasokan bahan baku. Sistem ini memungkinkan satu reaktor melayani kebutuhan memasak hingga tiga sampai empat rumah tangga secara paralel.
Manfaat biogas kotoran sapi tidak hanya terbatas pada kebutuhan memasak. Proses dekomposisi anaerobik juga menghasilkan pupuk organik cair (POC) dan ampas padat (slurry) yang sangat bernilai. "POC-nya kami implementasikan langsung di tanaman cabai di sekitar sini. Hasilnya bagus," tutur Akli, sambil menambahkan bahwa pupuk ini telah membuat tanaman jambu air berbuah terus-menerus tanpa pupuk kimia.
Ampas padat yang sudah tidak berbau dikeringkan dan menjadi kohe kering yang diminati oleh pegiat tanaman obat keluarga (Toga) dan ibu-ibu hobi berkebun. Akli menjelaskan, "Kalau mau ambil sendiri, saya kasih gratis. Tapi kalau minta diantarkan, ya ada ongkosnya sedikit." Ini menunjukkan bagaimana biogas kotoran sapi menciptakan lingkaran ekonomi dan ekologi yang mandiri di Samboja.
Siklus Mandiri Pangan dan Energi
Inisiatif ini merupakan bagian dari program transisi energi yang digulirkan Dinas ESDM Kaltim, yang sejak 2012 hingga 2024 telah membangun 575 unit reaktor biogas skala rumah tangga. "Pengembangan biogas ini telah berlangsung sejak tahun 2012," ungkap Elly Luchritia Nova, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Konservasi Energi Dinas ESDM Kaltim. Program ini berkolaborasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, menyasar langsung kebutuhan masyarakat.
Setiap rumah tangga yang berpartisipasi tidak hanya mendapatkan instalasi biogas, tetapi juga kompor dan alat penanak nasi khusus. Dengan minimal tiga ekor sapi, sebuah keluarga dapat menghasilkan gas metana yang cukup untuk kebutuhan memasak sehari-hari. "Selama sapi masih ada, gas terus tersedia. Ini sangat membantu bagi mereka," kata Elly, menegaskan efisiensi biogas bahkan melebihi penggunaan LPG.
Program ini menciptakan sistem ekonomi sirkular di tingkat kampung. Limbah akhir dari proses biogas, yaitu slurry, menjadi pupuk organik cair dan padat yang sangat bernilai. Petani di Samboja, serta Long Kali dan Long Ikis (Kabupaten Paser), merasakan penghematan ganda. "Mereka mengaku mengalami penghematan ganda. Selain tidak perlu lagi membeli LPG, sisa limbah biogas langsung dimanfaatkan untuk pupuk, sehingga mereka tak perlu membeli pupuk kimia untuk perkebunan," tutur Elly.
Keberhasilan ini mendorong Dinas ESDM Kaltim untuk merencanakan pengembangan biogas skala besar yang terpusat di 30 lokasi Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT). Gas yang dihasilkan nantinya akan disalurkan melalui jaringan perpipaan atau kantong gas portabel ke rumah-rumah sekitar. Ini menandai langkah maju dalam upaya kemandirian energi dan pangan di Kalimantan Timur.
Menuju Kemandirian Energi Komunal
Meskipun manfaatnya besar, pemanfaatan biogas juga memiliki tantangan tersendiri. Perawatan kompor biogas yang rentan korosi jika tidak dibersihkan secara rutin menjadi kunci keberlanjutan. "Kuncinya kembali ke kita lagi, soal perawatannya," ujar Akli. Selain itu, produksi gas juga dipengaruhi oleh cuaca; cuaca panas mengoptimalkan fermentasi, sementara cuaca mendung atau hujan dapat sedikit menurunkan produksi.
Namun, tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat Kelompok Ternak Tirto Sari. Keberhasilan 11 unit reaktor skala rumah tangga telah memicu ambisi yang lebih besar. Saat ini, sebuah reaktor biogas raksasa berkapasitas 17 meter kubik sedang disiapkan. Jika reaktor kecil dapat melayani 3-4 dapur, reaktor jumbo ini dirancang untuk tujuan yang jauh lebih luas.
"Yang 17 kubik ini nanti disiapkan bukan cuma untuk api kompor, tapi juga untuk membangkitkan listrik," ungkap Akli. Energi dari reaktor besar ini akan dialirkan untuk memenuhi kebutuhan gas 21 rumah tangga dan menjadi sumber listrik untuk penerangan di sekitar kandang serta fasilitas kelompok. Ini merupakan lompatan signifikan dari kemandirian dapur menuju kemandirian energi komunal.
Inisiatif biogas kotoran sapi di Samboja membuktikan bahwa energi terbarukan bukanlah konsep utopis. Ia dapat dimulai dari hal yang paling membumi, seperti limbah ternak. Kobaran api biru yang menyala di dapur warga Samboja adalah simbol kemandirian, bukti kemauan kolektif, dan harapan bahwa transisi menuju energi bersih dapat dimulai dari kandang sapi di belakang rumah.
Sumber: AntaraNews