Batu Bara Indonesia Dikucilkan, Bahlil: Eropa Masih Ada yang Pakai!
Bahlil menegaskan bahwa pemanfaatan batu bara masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dengan kapasitas 6,3 gigawatt (GW) hingga tahun 2034. Target tersebut tertuang dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, dari total rencana penambahan 69,5 GW kapasitas listrik nasional, sekitar 16,6 GW masih akan bersumber dari energi fosil, termasuk PLTU batu bara.
“Dan batu bara 6,3 GW, di Eropa aja masih ada pakai batu bara kok. Di Turki masih banyak pake batu bara. Kita aja yang terlalu kekinian,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (26/5).
Bahlil menegaskan bahwa pemanfaatan batu bara masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik dengan biaya yang lebih terjangkau. Ia menilai tidak seharusnya penggunaan batu bara dipersepsikan negatif selama negara masih memerlukan.
“Jadi jangan dipersepsikan kalau batu bara itu haram. Jangan membedakan antara batu bara dengan energi baru terbarukan. Kalau memang dibutuhkan, penambahan pun tidak masalah,” ujarnya.
Untuk menjawab kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, Bahlil menyebut pemerintah akan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) pada PLTU batu bara. Teknologi ini berfungsi untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon agar tidak mencemari atmosfer.
“Dengan perkembangan teknologi, batu bara ke depan akan menjadi batu bara bersih. Jangan sampai kita menganggap barang kita kotor agar bisa mengimpor barang ‘bersih’ yang mahal,” jelasnya.
Bahlil menekankan bahwa penggunaan batu bara bersih merupakan solusi transisi energi yang realistis dan sejalan dengan kebutuhan energi nasional.