APTRI: SGN, Danantara, dan PIR Beri Harapan Baru Penyerapan Gula Petani, Stabilkan Harga Pasar
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengapresiasi langkah PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Danantara, dan PT Pesona Inti Rasa (PIR) dalam Penyerapan Gula Petani, membawa angin segar bagi stabilisasi pasar dan kesejahteraan petani.
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyambut baik inisiatif PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Danantara, serta PT Pesona Inti Rasa (PIR) dalam menyerap gula dari petani tebu. Langkah strategis ini dinilai memberikan harapan baru bagi stabilisasi pasar gula nasional. Selain itu, upaya tersebut juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan para petani tebu di seluruh Indonesia.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTRI, Sunardi Edy Sukamto, menyampaikan apresiasi mendalam atas penyerapan gula petani yang telah dilakukan. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada Sabtu (20/9). Menurutnya, musim giling tebu tahun ini yang dimulai sejak Mei 2025 memberikan catatan khusus bagi seluruh pemangku kepentingan.
Meskipun produksi gula kristal putih (GKP) dan tetes tebu meningkat serta mendekati target swasembada, penyerapan pasar masih lemah. Kondisi ini diperparah oleh rembesan gula rafinasi yang masuk ke pasar konsumsi. Akibatnya, gula hasil giling petani sulit terserap dan menyebabkan ketidakpastian harga.
Apresiasi APTRI dan Tantangan Petani Tebu Nasional
Musim giling tebu tahun ini telah menunjukkan peningkatan produksi gula kristal putih (GKP) dan tetes tebu. Namun, peningkatan ini tidak diimbangi dengan daya serap pasar yang memadai. Edy menjelaskan bahwa hampir setiap lelang gula petani sepi penawaran, sehingga menciptakan ketidakpastian harga dan pendapatan bagi petani.
Kondisi pasar yang lemah ini sebagian besar dipicu oleh adanya rembesan gula rafinasi. Gula rafinasi yang seharusnya untuk industri, justru dijual langsung ke pasar konsumsi. Hal ini secara langsung menekan harga gula petani dan mempersulit proses Penyerapan Gula Petani.
APTRI sangat mengapresiasi pihak-pihak yang telah berpartisipasi aktif dalam penyerapan gula. Edy Sukamto secara khusus menyebutkan pemerintah melalui Danantara, PT SGN, Gulavit (PIR), dan para pedagang di Jawa Timur. Kontribusi mereka dianggap vital untuk keberlangsungan industri gula nasional dan kesejahteraan petani.
Langkah Strategis Penyerapan Gula: Peran SGN, Danantara, dan PIR
Beruntung, sejumlah langkah strategis telah diimplementasikan dengan dukungan penuh dari pemerintah dan pihak swasta. PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) turut serta aktif dalam penyerapan gula dari petani. Kehadiran SGN memberikan jalur alternatif bagi petani untuk menjual hasil panen mereka.
Selain itu, pemerintah melalui Danantara telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,5 triliun untuk mendukung penyerapan gula. Dari jumlah tersebut, Rp900 miliar dialokasikan khusus untuk gula petani di bawah PT SGN, dengan target 62.141 ton. Hingga saat ini, sebanyak 21.500 ton sudah berhasil direalisasikan.
PT Pesona Inti Rasa (PIR), yang dikenal dengan produk GulaVit, juga menunjukkan konsistensi dalam penyerapan gula petani. Perusahaan ini telah melakukan penyerapan secara rutin, sebagaimana yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Konsistensi ini memberikan kepastian bagi sebagian petani.
Tidak hanya itu, para pedagang di Jawa Timur juga turut berperan penting dalam penyerapan melalui lelang rutin. Kolaborasi antara pemerintah, BUMN seperti SGN, swasta seperti PIR, dan pedagang ini menjadi kunci dalam mengatasi tumpukan gula petani dan menstabilkan harga pasar.
Mendesak Pemerintah untuk Hilirisasi dan Stabilisasi Harga Tetes Tebu
Meskipun ada upaya penyerapan, APTRI berharap pemerintah serius mengawal hilirisasi gula dan tetes tebu. Hilirisasi ini merupakan bagian vital dari program percepatan swasembada gula nasional. Penguatan hilirisasi akan menciptakan nilai tambah dan memperluas pasar produk turunan tebu.
APTRI juga mendorong ID Food untuk memperkuat penyerapan gula petani. Dengan demikian, para pedagang akan semakin bersemangat untuk menyerap sisa produksi petani. Berdasarkan kesepakatan di Badan Pangan Nasional (Bapanas), serapan 83.000 ton pada tahap pertama oleh ID Food dan pedagang harus segera dituntaskan.
Edy Sukamto menegaskan bahwa jika ID Food tidak segera menuntaskan kuota Rp900 miliar untuk petani tebu di bawah PT SGN dalam pekan ini, maka target swasembada akan sulit tercapai. Kecepatan penyerapan sangat krusial untuk menjaga momentum dan kepercayaan petani.
Selain masalah gula, keresahan petani juga terkait anjloknya harga tetes tebu. Harga tetes tebu jatuh dari Rp2.700–3.000 per kg pada tahun 2024 menjadi hanya Rp900–1.200 per kg saat ini. Penurunan drastis ini disebabkan oleh pembebasan bea masuk impor molases, yang menekan pendapatan petani secara signifikan.
Sumber: AntaraNews