Analisis Konsumsi Rumah Tangga Anjlok, Kelas Menengah Tahan Pengeluaran, Kelas Atas Beralih ke Investasi Emas
Kelompok masyarakat kelas menengah kini lebih selektif dalam pengeluaran.
Konsumsi rumah tangga di Indonesia menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada awal tahun 2025, mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang tidak menentu. Menurut data Bank Indonesia (BI), pada kuartal I-2025, konsumsi rumah tangga tumbuh hanya 4,89% year-on-year (YoY), angka terendah dalam lima kuartal terakhir.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengidentifikasi beberapa faktor struktural yang menyebabkan penurunan ini.
"Lapangan kerja semakin terbatas, pendapatan kelas menengah menurun, dan efisiensi belanja pemerintah mengganggu pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) massal juga berkontribusi terhadap penurunan daya beli masyarakat.
Kelompok masyarakat kelas menengah kini lebih selektif dalam pengeluaran, menunda pembelian barang sekunder dan tersier. Sementara itu, kalangan atas cenderung mengalihkan dananya ke investasi yang lebih aman, seperti emas batangan. Hal ini menyebabkan perputaran ekonomi domestik terganggu, karena dana yang seharusnya beredar di pasar justru tersimpan dalam bentuk aset.
Bhima juga menyoroti lambannya respons pemerintah dalam memberikan stimulus yang tepat sasaran untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Jika dana di bank ditarik dan dialihkan ke emas, ekonomi jadi tidak berputar. Pemerintah juga lambat dalam antisipasi dengan stimulus daya beli," jelasnya.
Prediksi Tahun Depan
Dampak jangka panjang dari penurunan konsumsi ini dapat mengarah pada kontraksi ekonomi yang lebih serius. Bhima memperkirakan bahwa jika tren ini berlanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 bisa berada di bawah 5,0%.
Selain itu, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga merasakan dampak negatif dari penurunan konsumsi. Omzet mereka turun tajam karena masyarakat cenderung menahan belanja. "Jika semua ikat pinggang, UMKM akan kesulitan," tambah Bhima.
Meskipun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2025 masih berada dalam zona optimis di angka 121,7, angka ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan konsumsi secara nyata di lapangan. Bhima memperkirakan bahwa pada Mei 2025, IKK akan mengalami penurunan, kemungkinan berada di bawah level 121,7.
Dalam menghadapi situasi ini, diperlukan kebijakan ekonomi yang lebih proaktif dari pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat. Tanpa langkah yang tepat, kelesuan konsumsi rumah tangga dapat berlanjut dan memperburuk kondisi ekonomi Indonesia.