Alfamart Raup Laba Rp25 Triliun di 2024 Meski Tutup Ratusan Gerai
Alfamart pada tahun 2024 berhasil menambah 1.033 gerai.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, menorehkan kenaikan pendapatan sebesar Rp118,23 triliun atau naik 10,55 persen dengan raihan laba mencapai Rp25,37 triliun atau naik 9,97 persen pada tahun 2024 lalu. Torehan tersebut disumbang dari kinerja penjualan ritel gerai Alfamart dan sejumlah anak usaha lain seperti Alfamidi, Lawson dan lainya.
“Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan masih menunjukkan nilai positif sebesar Rp3,15 triliun,” ujar Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Tomin Widian dalam rapat umum pemegang saham tahunan di Alfa tower, Tangerang, Kamis (22/5).
Dia menerangkan perusahaannya pada tahun 2024 juga berhasil menambah 1.033 gerai Alfamart dengan total gerai Alfamart sebanyak 20.120 gerai dan total gerai ritel perseroan dan entitas anak mencapai 23.277 gerai yang berada di berbagai kota dan daerah strategis.
Meski begitu, diakui juga bahwa Alfamart pada tahun 2024 lalu menutup 400-an gerai dan pada triwulan pertama 2025 ini sudah 109 gerai dan anak usaha ditutup.
Anggara Hans Prawira, Presiden Direktur perseroan mengakui penutupan gerai alfamart di Jabodetabek dan beberapa daerah lain dipengaruhi beberapa faktor selain pelemahan ekonomi yang terjadi saat ini.
“Saya kira cukup nyata ada pelemahan daya beli, karena kalau kita lihat konsumen kita melakukan down trading. Mereka membeli yang lebih murah. Dari harganya segini, cari yang lebih murah, jadi memang kelihatan ada down trading. Konsumen berusaha tetap berbelanja yapi memilih value for money,” ungkap dia.
Selain pelemahan daya beli, Hans mengakui gerai-gerai ritel Alfamart yang tutup hingg 400 gerai di tahun 2024 lalu juga dipengaruhi oleh tingginya kenaikan biaya sewa tempat usaha.
Hans mengatakan, secara umum penutupan paling besar masih di Jabodetabek, lantaran nilai UMP dan biaya sewa paling tinggi.
Sedianya, Alfamart juga dihadapkan keiginan untuk memperpanjang sewa namun pemilik tanah enggan karena ingin dijual atau alih usaha lain.
"Jadi bukan karena performance. Kedua kenaikan tinggi setelah 5 tahun kenaikan sewanya luar biasa tinggi. Sehingga buat kita engga bisa perpanjang disitu, tapi kita alternatif tempat lain dengan biaya sewa reasonable. Jadi secara bisnis masih bagus cuma sewanya ga make sence kita pindah,” ungkapnya.