Sunnah Idul Fitri yang Dianjurkan Beserta Amalannya
Merayakan Idul Fitri bisa membawa berkah yang melimpah, seperti lewat amalan sunnah berikut ini.
Hari Raya Idul Fitri, atau Lebaran, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan. Perayaan ini dipenuhi dengan sukacita dan berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk semakin mempererat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Amalan-amalan ini, berdasarkan Al-Quran dan hadis, memberikan warna spiritual dan sosial yang kaya pada perayaan Idul Fitri.
Artikel ini akan membahas berbagai amalan sunnah Idul Fitri yang dianjurkan, mulai dari persiapan sebelum sholat Id hingga kegiatan setelahnya. Penjelasan akan mencakup detail amalan, landasan agama, dan tata cara pelaksanaannya.
Semoga informasi ini dapat menjadi panduan bagi umat muslim dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan penuh makna dan keberkahan.
Selain amalan-amalan sunnah, perlu diketahui beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat Idul Fitri agar perayaan tetap sesuai dengan ajaran Islam. Dengan memahami hal ini, diharapkan umat muslim dapat merayakan Idul Fitri dengan lebih khusyuk dan penuh kesadaran. Apa saja?
Melansir dari laman Kemenag.go.id dan sumber lain, Minggu (30/3) berikut ulasannya.
1. Mandi dan Memakai Pakaian Terbaik
Sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri, dianjurkan untuk mempersiapkan diri lahir dan batin. Mandi sunnah adalah langkah awal yang dianjurkan untuk membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual. Hal ini mencerminkan kesiapan dan penghormatan kita terhadap hari raya yang penuh berkah.
Selain mandi, berhias dengan pakaian terbaik dan wangi-wangian yang sewajarnya juga dianjurkan. Bukan berarti harus mengenakan pakaian baru, namun yang terpenting adalah pakaian tersebut bersih dan rapi.
Khusus bagi perempuan, anjuran berhias tetap harus memperhatikan batas-batas syariat, seperti tidak membuka aurat, tidak mempertontonkan penampilan yang memikat laki-laki lain yang bukan mahramnya dan lain sebagainya. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 281).
Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk makan sebelum sholat Id, biasanya dengan kurma dalam jumlah ganjil. Ini sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT selama bulan Ramadan dan menandai berakhirnya masa puasa. Makan sebelum sholat Id juga memberikan energi untuk melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk.
2. Membaca Takbir Menuju Tempat Sholat
Membaca takbir merupakan amalan sunnah yang dianjurkan sejak malam Idul Fitri hingga sebelum imam memulai takbiratul ihram dalam sholat Id. Takbir dapat dibaca di mana saja, baik di rumah, perjalanan menuju masjid, maupun di tempat lainnya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 185 yang menganjurkan untuk menyempurnakan bilangan Ramadhan dengan takbir.
: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ
Artinya, “Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah: 185).
Berjalan kaki menuju tempat sholat Idul Fitri juga merupakan sunnah yang dianjurkan, jika memungkinkan. Hal ini dapat menjadi bentuk ibadah tambahan dan kesempatan untuk berdzikir di perjalanan. Selain itu, menggunakan rute yang berbeda saat pergi dan pulang dari sholat Idul Fitri juga dianjurkan untuk memperluas silaturahmi dan bertemu lebih banyak orang.
Takbir Idul Fitri terbagi menjadi dua, yaitu takbir muqayyad (dibaca setelah shalat) dan takbir mursal (dibaca secara bebas). Kedua jenis takbir ini sama-sama dianjurkan dan menjadi bagian penting dalam perayaan Idul Fitri. Dengan membaca takbir, kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mensyukuri nikmat-Nya.
3. Makan Sebelum Sholat Id
Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya Idul Fitri. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang.
Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah saw. biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa:
"Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari)
4. Sholat Idul Fitri
Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri.
Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.
5. Mengucapkan Tahniah
Sebagai bagian dari kebahagiaan, umat muslim dianjurkan untuk saling memberikan selamat atas kebahagiaan yang diraih saat hari raya. Beberapa hadits yang disampaikan al-Imam al-Baihaqi, dalam kitab Sunannya menginventarisir beberapa hadits dan ucapan para sahabat tentang tradisi ucapan selamat di hari raya.
Meski tergolong lemah sanadnya, namun rangkaian beberapa dalil tersebut dapat dibuat pijakan untuk persoalan ucapan hari raya yang berkaitan dengan keutamaan amal ini. Argumen lainnya adalah dalil-dalil umum mengenai anjuran bersyukur saat mendapat nikmat atau terhindari dari mara bahaya, seperti disyariatkannya sujud syukur.
Pada prinsipnya, setiap kata yang ditradisikan sebagai ucapan selamat dalam momen hari raya, maka sudah bisa mendapatkan kesunnahan tahniah ini. Bahkan, Syekh Ali Syibramalisi menegaskan tahniah juga bisa diwujudkan dalam bentuk saling bersalam-salaman.
Karena itu, sangat tidak tepat klaim dari sebagian kalangan bahwa ucapan selamat hari raya yang berkembang di Indonesia tidak memiliki dasar dalil agama. Berkaitan dengan ihwal tahniah ini, Syekh Abdul Hamid al-Syarwani menegaskan:
ـ (خَاتِمَةٌ) قَالَ الْقَمُولِيُّ لَمْ أَرَ لِأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِنَا كَلَامًا فِي التَّهْنِئَةِ بِالْعِيدِ وَالْأَعْوَامِ وَالْأَشْهُرِ كَمَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ لَكِنْ نَقَلَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ عَنْ الْحَافِظِ الْمَقْدِسِيَّ أَنَّهُ أَجَابَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ النَّاسَ لَمْ يَزَالُوا مُخْتَلِفِينَ فِيهِ وَاَلَّذِي أَرَاهُ مُبَاحٌ لَا سُنَّةَ فِيهِ وَلَا بِدْعَةَ
“Sebuah penutup. Al-Qamuli berkata, aku tidak melihat dari para Ashab (ulama Syafi’iyah) berkomentar tentang ucapan selamat hari raya, beberapa tahun dan bulan tertentu seperti yang dilakukan banyak orang. Tetapi al-Hafizh al-Mundziri mengutip dari al-Hafizh al Maqdisi bahwa beliau menjawab masalah tersebut bahwa orang-orang senantiasa berbeda pendapat di dalamnya. Pendapatku, hal tersebut hukumnya mubah, tidak sunnah, tidak bid’ah.”
وَأَجَابَ الشِّهَابُ ابْنُ حَجَرٍ بَعْدَ اطِّلَاعِهِ عَلَى ذَلِكَ بِأَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ وَاحْتَجَّ لَهُ بِأَنَّ الْبَيْهَقِيَّ عَقَدَ لِذَلِكَ بَابًا فَقَالَ بَابُ مَا رُوِيَ فِي قَوْلِ النَّاسِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فِي الْعِيدِ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَسَاقَ مَا ذَكَرَهُ مِنْ أَخْبَارٍ وَآثَارٍ ضَعِيفَةٍ لَكِنَّ مَجْمُوعَهَا يُحْتَجُّ بِهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ
“Al-Syihab Ibnu Hajar setelah menelaah hal tersebut menjawab bahwa tahniah disyariatkan. Beliau berargumen bahwa al-Baihaqi membuat bab tersendiri tentang tahniah, beliau berkata; bab riwayat tentang ucapan manusia satu kepada lainnya saat hari raya; semoga Allah menerima kami dan kalian;. Ibnu Hajar menyebutkan statemen al-Baihaqi tentang hadits-hadits dan ucapan para sahabat yang lemah (riwayatnya), akan tetapi rangkain dalil-dalil tersebut bisa dibuat argumen dalam urusan sejenis tahniah ini”.
Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Idul Fitri
Meskipun Idul Fitri merupakan hari raya yang penuh kegembiraan, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari agar perayaan tetap sesuai dengan ajaran Islam. Beberapa larangan di antaranya adalah:
1. Berlebihan dalam Makan dan Minum:
- Idul Fitri memang identik dengan hidangan lezat. Namun, hindari makan dan minum secara berlebihan hingga mengganggu kesehatan.
- Rasulullah SAW mengajarkan untuk makan secukupnya dan tidak berlebih-lebihan.
2. Berpakaian Berlebihan dan Mewah:
- Memakai pakaian terbaik saat Idul Fitri dianjurkan, tetapi hindari berpakaian yang terlalu mewah atau berlebihan.
- Kesederhanaan adalah bagian dari ajaran Islam.
3. Bergunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain:
- Idul Fitri adalah momen untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
- Hindari bergunjing atau membicarakan keburukan orang lain, karena dapat merusak suasana kebersamaan.
4. Memutus Tali Silaturahmi:
- Silaturahmi adalah amalan yang sangat dianjurkan saat Idul Fitri.
- Jangan memutus tali silaturahmi dengan keluarga, kerabat, atau tetangga.
5. Berfoya-foya dan Boros:
- Idul Fitri bukan alasan untuk berfoya-foya atau boros.
- Gunakan uang THR atau hadiah Idul Fitri dengan bijak.
6. Melupakan Ibadah:
- Idul Fitri bukan berarti melupakan ibadah.
- Tetap jaga shalat lima waktu, membaca Al-Qur'an, dan berdzikir.
7. Menggunakan Kata-kata Kasar atau Menyebarkan Kebencian:
- Idul Fitri adalah momen untuk saling memaafkan dan menyebarkan kasih sayang.
- Hindari menggunakan kata-kata kasar atau menyebarkan kebencian.
8. Membandingkan Diri dengan Orang Lain:
- Setiap orang memiliki rezeki dan kebahagiaannya masing-masing.
- Jangan membandingkan diri dengan orang lain, karena dapat menimbulkan rasa iri dan dengki.
9. Melupakan Orang yang Membutuhkan:
- Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan.
- Jangan lupakan orang-orang yang kurang beruntung di sekitar kita.
10. Melakukan Hal-hal yang Melanggar Syariat Islam:
- Idul Fitri adalah hari raya yang suci.
- Hindari melakukan hal-hal yang melanggar syariat Islam, seperti berjudi, minum minuman keras, atau berzina.