Skandal Epstein Guncang Inggris, PM Keir Starmer Bersikukuh Ogah Mundur dari Jabatannya
Pernyataan ini disampaikan oleh Perdana Menteri Keir Starmer di hadapan anggota parlemen Inggris.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa ia tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya meskipun menghadapi tekanan politik yang semakin meningkat akibat keterlibatan pemerintahannya dalam skandal Jeffrey Epstein.
Pernyataan tersebut disampaikan Starmer pada hari Senin (9/2/2026) setelah salah satu sekutu senior Partai Buruh secara terbuka menyerukan agar ia mundur.
"Saya telah berjuang keras untuk mendapatkan kesempatan mengubah negara ini, dan saya tidak siap meninggalkan mandat serta tanggung jawab tersebut," ungkap Starmer di hadapan anggota parlemen Partai Buruh dalam sebuah pertemuan internal yang penting, yang disambut tepuk tangan, seperti dikutip dari laman Channel News Asia pada Selasa (10/2).
Starmer, yang sudah menjabat selama 19 bulan, menunjukkan sikap menantang di tengah krisis paling serius yang dihadapinya. Ia menegaskan bahwa dirinya telah "memenangkan setiap pertarungan yang pernah saya ikuti," di saat popularitas Partai Buruh terus tertekan oleh meningkatnya dukungan terhadap kelompok sayap kanan dalam berbagai jajak pendapat.
Tekanan terhadap Starmer semakin meningkat setelah pemimpin Partai Buruh Skotlandia, Anas Sarwar, pada Senin pagi menyerukan agar perdana menteri mundur. Sarwar menilai Starmer bertanggung jawab atas penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat, meskipun ia mengetahui hubungan Mandelson dengan pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.
"Gangguan ini harus diakhiri, dan kepemimpinan di Downing Street harus berubah," tegas Sarwar dalam konferensi pers di Glasgow, menjadikannya sebagai tokoh Partai Buruh paling senior yang secara terbuka meminta Starmer untuk lengser.
Meski demikian, sejumlah menteri kabinet akhirnya menyatakan dukungan kepada Starmer setelah beberapa hari bungkam. Wakil Perdana Menteri David Lammy, Menteri Dalam Negeri Yvette Cooper, dan Menteri Keuangan Rachel Reeves menyatakan tetap berada di belakang perdana menteri. Angela Rayner dan Shabana Mahmood, yang sering disebut sebagai calon pengganti Starmer, juga menegaskan "dukungan penuh" mereka.
Krisis politik ini semakin diperparah oleh mundurnya dua ajudan utama Starmer dalam dua hari berturut-turut. Kepala komunikasi Tim Allan mengundurkan diri pada Senin pagi, menyusul pengunduran diri Kepala Staf Morgan McSweeney sehari sebelumnya. McSweeney mundur setelah mengakui bertanggung jawab atas sarannya kepada Starmer untuk menunjuk Mandelson.
Situasi ini menambah ketegangan di dalam Partai Buruh dan memunculkan pertanyaan mengenai masa depan kepemimpinan Starmer di tengah badai kritik yang terus menghampiri.
Penasihat Terdekat
Kepergian McSweeney menjadi dampak signifikan bagi Starmer, mengingat perannya sebagai penasihat utama yang sangat berkontribusi dalam mengembalikan Partai Buruh ke jalur utama setelah menggantikan Jeremy Corbyn pada tahun 2020. Serangkaian perubahan staf, perubahan kebijakan, dan kesalahan strategis dianggap semakin melemahkan stabilitas serta citra pemerintahan yang dipimpin Starmer.
Dari luar pemerintahan, Kemi Badenoch, pemimpin oposisi Konservatif, menyatakan bahwa posisi Starmer "tidak dapat dipertahankan". Di sisi lain, Nigel Farage, pemimpin sayap kanan Reform UK, menilai masa jabatan Starmer "akan segera berakhir". Selama setahun terakhir, jajak pendapat menunjukkan bahwa Partai Buruh tertinggal dua digit dari partai anti-imigrasi yang dipimpin Farage, yang menunjukkan tantangan besar bagi Starmer.
Sementara itu, kepolisian Inggris sedang melakukan penyelidikan terhadap Mandelson, yang berusia 72 tahun, terkait dugaan penyalahgunaan jabatan publik. Polisi telah melakukan penggeledahan di dua properti miliknya pada hari Jumat lalu, meskipun belum ada penangkapan yang dilakukan. Starmer telah meminta maaf kepada para korban Epstein dan menuduh Mandelson berbohong mengenai kedalaman hubungan mereka selama proses verifikasi pengangkatan.
Pemerintah berencana untuk merilis puluhan ribu email, pesan, dan dokumen terkait penunjukan Mandelson, langkah ini berpotensi menambah tekanan politik terhadap Starmer dan menteri senior lainnya. Meskipun beberapa anggota parlemen Partai Buruh, terutama dari sayap kiri, mendesak agar Starmer mundur, hingga saat ini belum muncul sosok pengganti yang jelas. Aturan internal partai juga menyulitkan untuk melakukan tantangan kepemimpinan.
Partai Buruh kini harus menghadapi ujian elektoral dalam pemilihan sela yang dijadwalkan pada 28 Februari dan pemilihan lokal pada bulan Mei, termasuk di Skotlandia, di mana mereka diperkirakan akan kalah dari Partai Nasional Skotlandia. Pemilihan umum nasional berikutnya sendiri baru akan berlangsung pada tahun 2029, yang menunjukkan tantangan besar bagi masa depan Partai Buruh di bawah kepemimpinan Starmer.