Sadisnya Tentara Israel Bunuh Ayah dan Anak Palestina Gaza di Depan Keluarganya, Lalu Mengejek Ucapkan "Ramadan Kareem"
Kisah Hadeel Saleh (21) yang menceritakan detik-detik pasukan Israel mengeksekusi langsung keluarganya di depan mata.
Serangan Israel ke Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza lebih dari setahun yang lalu meninggalkan duka mendalam bagi seorang perempuan muda Palestina bernama Hadeel Saleh.
Penderitaan dan rasa ketakutan luar biasa dia dan keluarga rasakan saat pemboman dan serangan tentara Israel yang hebat mengguncang daerah di sekitar mereka.
Cobaan berat berlanjut saat puluhan tentara Israel menyerbu apartemen tempat mereka tinggal tanpa peringatan.
Para tentara zionis secara brutal menembak dan membunuh ayahnya yang berusia 60 tahun di depan mata kepalanya. Saudara laki-lakinya yang berniat membantu, juga ditembak mati.
Menurut informasi, Israel menyasar rumah sakit agar seluruh layanannya dihentikan. Setelahnya mereka menargetkan rumah-rumah di sekitarnya dan membunuh warga sipil sesuka hati dan memaksa para korban untuk melarikan diri.
Beberapa kejadian masih membekas di lubuk hati dan pikiran Saleh meski telah berlalu satu tahun yang lalu. Dikutip dari Middle East Eye, Kamis (3/7) simak ulasannya.
Israel Kepung rumah sakit Al-Shifa
Agresi militer Israel sejak Oktober 2023 membuat Saleh dan keluarganya harus beberapa kali mengungsi setelah rumah mereka hancur akibat bom zionis.
Mereka akhirnya memilih tinggal di apartemen di dekat rumah sakit al-Shifa, yang terletak di bundaran Haidar Abdel Shafi.
“Situasi kami sangat sulit. Itu adalah pengungsian kami yang ke-10, dan itu terjadi selama bulan Ramadan,” ucapnya.
Pada dini hari tanggal 18 Maret 2024, tentara Israel melancarkan serangan besar-besaran ke rumah sakit al-Shifa, dengan serangan udara dan tembakan artileri yang menargetkan lingkungan sekitar.
Israel mengepung rumah sakit dengan tank dan kendaraan militer, pasukan Israel menyerbu gedung-gedung di dekat kompleks rumah sakit, melakukan eksekusi di lapangan dan mengusir penduduk secara paksa dari rumah mereka.
“Sekitar pukul 2:30 dini hari, kami terbangun karena suara tembakan hebat di dekat situ, disertai rudal, tank, dan aktivitas pesawat tempur yang hebat.”
“Kami ketakutan. Kami mencoba mencari tahu apa yang terjadi, tetapi tidak berhasil. Kami kemudian mengetahui bahwa itu adalah serangan terhadap rumah sakit al-Shifa,” kenang Saleh.
Keluarganya tetap terperangkap dalam persembunyian selama delapan hari yang menegangkan sebelum pasukan Israel mencapai bangunan tempat tinggal tempat mereka berlindung.
Eksekusi Anggota Keluarga Saleh
Sekitar pukul 3 dini hari tanggal 26 Maret, saat keluarga tersebut tengah menyiapkan sahur, makanan sebelum fajar selama bulan Ramadan, mereka disergap oleh lebih dari 60 tentara Israel.
“Mereka meledakkan pintu masuk gedung dengan bom suara dan bahan peledak. Kami berada di lantai dasar. Kemudian mereka menerobos pintu apartemen kami dan menyerbu masuk, melepaskan tembakan sebelum melihat kami,” kata Saleh.
Saleh dan anggota keluarganya yang lain langsung meringkuk dalam diam di sebuah ruangan gelap dengan pintu tertutup. Keluarga pengungsi lain, kebanyakan perempuan dan anak-anak, juga berlindung bersama mereka.
Satu-satunya laki-laki dewasa yang hadir adalah ayah Hadeel, Mohammed Saleh, dan dua saudara laki-lakinya yaitu Bilal (28), dan Salah (18).
Beberapa saat kemudian, para tentara menyerbu ke dalam ruangan dan langsung mengeksekusi ayah dan saudaranya, Bilal, dari jarak dekat.
“Ia langsung dieksekusi dari jarak dekat sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun,” kenang Saleh.
“Mereka menembaknya di perut," sambungnya.
Awalnya, keluarga berharap lukanya tidak fatal, karena tidak ada darah yang terlihat saat ia pingsan. Sebab saat itu gelap gulita sehingga tak terlihat.
Saudara-saudaranya mencoba menariknya ke tempat yang aman, tetapi kemudian para tentara melepaskan tembakan lagi.
“Mereka menembak Bilal, pertama di kaki, lalu di perut,” katanya.
Saudara laki-lakinya, Salah, yang ketakutan juga ikut dipukuli, dan disiksa, sembari menunggu keputusan para prajurit apakah akan membunuhnya juga. Setelah menembak sang ayah dan Bilal, serta mencegah siapa pun mendekati mereka, para prajurit memisahkan para wanita dari Salah.
Mereka memaksanya untuk menelanjangi diri dan mulai menggeledah apartemen. Selama penggeledahan apartemen, seorang prajurit melihat Bilal masih hidup dan menembak lagi.
“Ketika ia melihatnya bernapas, ia mengeksekusinya dengan peluru di leher, tepat di depan Salah. Ia memastikan bahwa Bilal sudah mati,” kata Saleh.
Ejek 'Ramadhan Kareem'
Anggota keluarga yang selamat diperintahkan untuk meninggalkan rumah dan menuju ke selatan. Para wanita itu meminta untuk berganti pakaian sebelum pergi, tetapi para tentara zionis bersikeras agar mereka melakukannya di depan mereka.
Jika mereka menolak, mereka dipaksa pergi hanya dengan mengenakan pakaian salat yang mereka kenakan.
“Sebelum pergi, saya bertanya tentang nasib jenazah ayah dan saudara laki-laki saya. Mereka menertawakan pertanyaan saya dan memaksa saya keluar."
“Saya takut mereka akan membakar gedung itu dengan jenazah mereka di dalamnya. Saya pernah mendengar mereka melakukan itu di rumah-rumah lain," kata Saleh.
Setelah menembak anggota keluarganya, mereka mengatakan akan meledakkan apartemen. Setelah ledakan besar terjadi, dengan nada ejekan mereka menyebut 'Ramadhan Kareem'.
“Sebelum kami dievakuasi, mereka memberi tahu kami bahwa mereka akan meledakkan apartemen di atas kami. Ledakan itu mengerikan. Setelah ledakan, mereka dengan nada mengejek berkata, ‘Ramadhan Kareem’,” sebuah ucapan yang umumnya berarti "Ramadhan yang diberkahi" yang digunakan selama bulan suci Islam," katanya.
Pada tanggal 1 April, pasukan Israel mundur dari serangan besar kedua mereka di rumah sakit Al-Shifa.
Beberapa jam setelah penarikan pasukan, pada tanggal 2 April, keluarga tersebut kembali ke rumah untuk mengambil dan menguburkan mayat anggota keluarganya.