Saat Orang Mati di Dalam Kubur pun Diganggu Israel
“Mayat berserakan, tulang belulang, tas-tas berhamburan… mereka meratakan kuburan, membuang sisa-sisa jenazah seolah-olah itu bukan apa-apa,” kata Fatima.
Kesedihan yang amat menyakitkan tak bisa disembunyikan Fatima Abdullah. Pemakaman al-Batsh di kawasan Tuffah, timur Kota Gaza, digali dan dihancurkan pekan ini oleh militer Israel dalam operasi pencarian jenazah tawanan terakhir.
Padahal di sanalah suami Fatima dimakamkan, berdampingan dengan ribuan warga Palestina di Gaza lainnya yang tewas dalam perang genosida Israel di Gaza.
Bagi ibu tiga anak itu, ancaman hilangnya makam bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan perampasan terakhir atas hak untuk mengenang.
“Kami semua merasa tegang… kami tahu operasi itu dilakukan di pemakaman al-Batsh, dan semua orang takut makam orang yang mereka cintai akan menjadi korban selanjutnya. Saya membayangkan mesin-mesin itu mendekati makam suami saya, dan saya berkata, tidak, Tuhan,” katanya dilansir Aljazeera, Kamis (29/1/2026).
Suaminya, Mohammad al-Shaarawi, tewas dalam serangan pesawat tak berawak Israel pada 11 Desember 2024. Saat itu Fatima dan anak-anaknya mengungsi di Gaza selatan.
“Bahkan orang mati pun tidak luput,” kata Fatima.
“Mayat berserakan, tulang belulang, tas-tas berhamburan… mereka meratakan kuburan, membuang sisa-sisa jenazah seolah-olah itu bukan apa-apa,” katanya.
250 Kuburan Dihancurkan Israel
Dalam operasi pencarian seorang polisi Israel yang ditawan, Ran Gvili, sekitar 250 kuburan diperiksa dalam waktu singkat menggunakan buldoser dan mesin militer berat. Citra udara menunjukkan makam lama dan baru sama-sama digali ulang, batu nisan dihancurkan, dan lanskap pemakaman berubah drastis.
Padahal bagi Fatima, tempat itu adalah satu-satunya ruang pertemuan dengan suaminya.
“Dulu saya selalu mengunjunginya. Saat liburan, saat ulang tahunnya, bersama anak-anak. Yang aneh adalah anak-anak saya tidak merasa mereka pergi ke tempat yang menyedihkan; mereka merasa benar-benar mengunjungi ayah mereka.”
Sejak pengungsian massal dari Shujayea pada Juni 2024, ia tak lagi bisa mendekat. Area tersebut dipenuhi reruntuhan dan dikelilingi militer. Bahkan setelah gencatan senjata diumumkan, lokasinya masih berada di dekat “garis kuning” yang diawasi ketat.
“Tidak ada yang tahu apa yang mereka ambil, sisa-sisa apa yang dikembalikan… jika memang ada,” katanya.
“Kami, warga Gaza, bahkan tidak memiliki kemewahan untuk berduka dengan layak, dan sekarang mereka telah mengambil makam orang-orang terkasih kami setelah kematian,” katanya.
Seolah Mereka Membunuhnya Lagi
Luka serupa dirasakan Madeline Shuqayleh. Makam saudara perempuannya, Maram, dan bayi perempuannya Yumna, yang tewas dalam serangan Israel pada Oktober 2023, rusak parah akibat ulah Israel.
Pada 28 Oktober 2023, Maram dan bayi perempuannya yang berusia empat bulan tewas dalam serangan Israel di Gaza tengah. Keluarga tidak segera mengetahui kematian mereka, karena mengungsi di Deir el-Balah. Sementara Maram tinggal di utara bersama keluarga suaminya.
“Bayangkan mengetahui bahwa saudara perempuan Anda terbunuh dan dimakamkan tanpa mengetahui bagaimana, di mana, atau apa yang terjadi padanya. Itu adalah kejutan yang sangat menyakitkan dalam segala hal.”
Setelah lama mencari, mereka akhirnya menemukan makam Maram dan putrinya yang dimakamkan di pemakaman al-Batsh.
“Setelah banyak usaha, kami menemukan tempat itu. Saat kami berkunjung, makamnya masih ada, batu nisannya utuh… rasa sakitnya sangat hebat. Tapi sekarang, sampai saat ini, mereka telah merampasnya dari kami… seolah-olah mereka membunuhnya lagi,” katanya.
Keluarga tersebut masih belum mengetahui apa yang terjadi pada jenazah Maram dan putrinya, atau apakah makam yang digali telah dipulihkan.
PBB dan organisasi hak asasi manusia internasional telah mendokumentasikan banyak kasus hilangnya jenazah dan kerusakan situs pemakaman setelah pemakaman diratakan atau dihancurkan selama operasi militer Israel.
Pada April 2024, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk mencatat penemuan kuburan massal di rumah sakit al-Shifa dan Nasser, yang berisi ratusan jenazah, termasuk perempuan, lansia, dan orang terluka. Beberapa ditemukan dalam keadaan terikat dan telanjang, menimbulkan "kekhawatiran serius" atas kemungkinan pelanggaran berat hukum humaniter internasional.
Ayahku Tidak Punya Makam
Cerita lain datang dari Rola Abu Seedo. Dia mengalami duka yang berlipat ganda bersama keluarganya setelah makam ayahnya diratakan oleh tentara Israel di pemakaman sementara di al-Shifa.
Rola telah mengungsi ke selatan bersama ibu dan empat saudara kandungnya, sementara ayahnya menolak untuk pergi dan tetap tinggal di rumah mereka di utara hingga kematiannya.
Ayahnya tetap tinggal di Kota Gaza di bawah blokade ketat dan sistem kesehatan yang runtuh, menderita diabetes, tekanan darah tinggi, dan riwayat stroke sebelumnya, bergantung pada obat-obatan yang sudah tidak tersedia lagi.
“Saat itu, terjadi kelaparan dan tidak ada obat-obatan. Laporan medis mencatat masalah pernapasan, dan kondisinya memburuk,” kata Rola kepada Al Jazeera.
Ayahnya kemudian meninggal dunia pada pada 28 April 2024, dan keluarga tidak mengetahuinya.
“Komunikasi hampir terputus. Ayah saya tidak bisa mengisi daya ponselnya untuk menghubungi kami,” katanya.
Jenazahnya kemudian dimakamkan dan dijaga oleh seorang kerabat. Dia juga memasang penanda sederhana dan mengabarkannya ke keluar yang berencana memindahkannya ke pemakaman resmi setelah kondisi stabil.
Namun setelah serangan besar-besaran Israel lainnya di sekitar al-Shifa pada Maret 2024, buldoser meratakan pemakaman tersebut, sehingga tidak ada lagi penanda kuburan.
"Kerabat kami kembali untuk mencari makam setelah operasi, tetapi mereka mengatakan tidak dapat menemukannya dan area tempat dia dimakamkan telah diratakan dengan buldoser,” kata Rola.
Sekitar setahun yang lalu, dengan adanya kabar mengenai kemungkinan pemindahan makam dari al-Shifa ke Beit Lahiya di Gaza utara, sebuah komite yang terdiri dari otoritas forensik dan Bulan Sabit Merah berpartisipasi dalam operasi penggalian berdasarkan kesaksian warga.
Keluarga Rola kembali mencari jenazah ayahnya, tetapi tidak membuahkan hasil.
“Mereka menggali di tempat yang kami yakini sebagai makamnya… tetapi mereka tidak menemukan jasad," katanya.
Hingga hari ini, keluarga tersebut tidak mengetahui keberadaan jenazah ayahnya.
“Seolah-olah mereka tidak hanya merampas orang-orang terkasih kita semasa mereka masih hidup, tetapi juga menolak memberikan kita kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal setelah kematian,” tutupnya.
Jejak Panjang Israel Merusak Pemakaman
Militer Israel telah dengan sembarangan membom, meratakan, dan menodai makam-makam Palestina di Gaza berkali-kali selama bertahun-tahun, yang menuai kecaman dari organisasi hak asasi manusia sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional.
Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med mendokumentasikan bahwa tentara Israel telah menghancurkan atau merusak parah sekitar 21 dari 60 pemakaman di Gaza, menggali kembali jenazah, mencampurnya, atau menyebabkan hilangnya jenazah tersebut, sehingga ribuan keluarga Palestina diliputi ketidakpastian yang menghancurkan tentang nasib jenazah kerabat mereka.
Sejumlah pemakaman yang dirusak oleh Israel antara lain; Beit Hanoon di Gaza utara, Al-Faluja di Jabalia Gaza utara, Ali Ibn Marwan Kota Gaza, Sheikh Radwan Kota Gaza, Al Shuhadaa Timur Kota Gaza, Tunisia Kota Gaza, Gereja Santo Porphyrius Kota Gaza, Khan Younis di lingkungan Austria.
Pemakaman Perang Gaza di Tuffah, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para prajurit yang gugur selama Perang Dunia I dan II dari Inggris Raya dan beberapa negara Persemakmuran, telah mengalami kerusakan signifikan akibat bombardir Israel tetapi belum sepenuhnya hancur, menurut penilaian setempat. Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Pemakaman Perang Deir el-Balah.
Awal bulan ini, Euro-Med menyerukan intervensi internasional yang mendesak “untuk menghentikan kejahatan penghancuran dan perataan lahan yang meluas yang dilakukan oleh tentara Israel di Rafah, di Jalur Gaza selatan, sampai tim khusus dan peralatan yang diperlukan diizinkan untuk mengambil jenazah para korban, mengidentifikasi mereka, dan memastikan pemakaman mereka secara layak”.
Hamas telah mengutuk penggalian ratusan kuburan dan menggambarkan tindakan tersebut sebagai "tidak etis dan ilegal, yang mencerminkan kegagalan sistem internasional untuk meminta pertanggungjawaban pendudukan atas kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern".