Rakyat Israel: Musuh Sebenarnya Israel Bukanlah Hamas tapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu
Keluarga para tawanan menuduh Netanyahu memperpanjang perang demi agenda politik pribadi.
Ribuan warga Israel turun ke jalan di pusat Tel Aviv, Sabtu (10/5/2025). Mereka menuntut pemerintahan Benjamin Netanyahu mengakhiri perang di Gaza dan menyerukan pembebasan segera terhadap para warga Israel yang masih ditawan di wilayah tersebut.
Menurut laporan surat kabar Haaretz, aksi demonstrasi digelar oleh Forum Sandera dan Keluarga yang Hilang, sebuah kelompok advokasi yang rutin menyuarakan tuntutan mereka setiap Sabtu di lokasi yang kini dikenal sebagai "Lapangan Sandera". Selain itu, sekelompok keluarga tawanan juga menggelar aksi protes terpisah di depan markas besar militer Israel.
Di sisi lain kota, unjuk rasa dengan agenda anti-pemerintah berlangsung di Lapangan Habima, menunjukkan meluasnya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu.
Melansir dari Times of Israel, Shai Mozes, yang orang tuanya sempat ditawan Hamas lalu kemudian dibebaskan lewat kesepakatan terpisah, menyampaikan pernyataan tajam dalam protes tersebut.
"Musuh sebenarnya Israel bukanlah Hamas, tetapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menghancurkan Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis," tegasnya.
Dalam laporan dari Amman, Yordania, jurnalis Al Jazeera, Hamdah Salhut, menyebutkan bahwa keluarga para tawanan menuduh Netanyahu memperpanjang perang demi agenda politik pribadi.
"Anggota keluarga tawanan Israel yang masih ditahan di Gaza mengatakan bahwa Netanyahu masih memperpanjang perang demi keuntungan pribadi dan politik, dan bahwa dialah yang tidak bersedia berkompromi dalam hal kesepakatan gencatan senjata apa pun," katanya.
"Masih ada 59 tawanan di Gaza, 35 di antaranya menurut pejabat Israel dipastikan tewas, dan 21 lainnya diperkirakan masih hidup, dan tiga lainnya nasibnya masih belum diketahui," lanjut Salhut menyampaikan data terkini.
Salhut juga mengutip pernyataan pemerintah Israel yang menyatakan bahwa operasi militer akan terus diperluas di Gaza, karena menurut mereka, opsi militer adalah cara paling efektif untuk menyelamatkan para tawanan—sebuah pendekatan yang ditolak oleh para keluarga sandera dan sebagian besar masyarakat Israel.
"Pejabat Israel mengatakan bahwa mereka akan memperluas operasi mereka di Gaza dan belum akan melakukan kesepakatan gencatan senjata apa pun, dengan mengatakan bahwa cara terbaik untuk membebaskan para tawanan tersebut adalah melalui cara militer, sesuatu yang tidak disetujui oleh keluarga tawanan dan sebagian besar masyarakat Israel," katanya.
Setelah Netanyahu mengumumkan rencana peningkatan serangan di Gaza pada hari Senin, Forum Sandera dan Keluarga yang Hilang mengecam kebijakan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang secara langsung mengorbankan para sandera yang masih berada di wilayah Gaza.
Masih dari Haaretz, sejumlah aksi protes serupa juga dikabarkan akan digelar di berbagai wilayah lain, termasuk di kota-kota besar seperti Yerusalem, Haifa, Beersheba, serta di puluhan titik strategis lainnya di seluruh negeri.
Hamas Merilis Video Sandera Israel yang Masih Hidup
Pada hari Sabtu, sayap militer Hamas mengedarkan rekaman video yang memperlihatkan dua warga Israel yang masih ditahan di Gaza. Salah satu dari mereka terdengar meminta agar konflik yang telah berlangsung selama 19 bulan itu segera diakhiri.
Media Israel mengidentifikasi dua pria dalam video tersebut sebagai Elkana Bohbot dan Yosef Haim Ohana. Dalam cuplikan sepanjang tiga menit itu, Bohbot—yang disebut berusia 36 tahun—tampak lemas, tergeletak di lantai dan berselimut, sedangkan Ohana, 24 tahun, berbicara dalam bahasa Ibrani dan mendesak pemerintah Israel untuk mengakhiri perang serta membebaskan semua tawanan yang tersisa.
Keduanya diketahui ditangkap oleh pejuang Hamas dari lokasi festival musik di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, saat terjadi serangan besar oleh kelompok tersebut.