Prabowo Salahkan Deretan Jenderal Sepuh TNI Bikin Cinta Indonesia, Guyonnya Pecah Depan Para Purnawirawan
Secara khusus, dia mengaku jika ketegasannya ini bersumber dari didikan para seniornya semasa di Akabri.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara halal bihalal Purnawirawan TNI beserta segenap keluarga besar TNI-Polri. Dalam pidatonya, Prabowo sesumbar jika Indonesia sebenarnya mampu menjadi bangsa yang mandiri dalam berbagai hal, termasuk sektor energi.
Dia menegaskan jika tak mau menjadi kacung dari negara lain. Secara khusus, dia mengaku jika ketegasannya ini bersumber dari didikan para seniornya semasa di Akabri.
Guyon sang Presiden kemudian pecah dan disambut tepuk tangan meriah dari kalangan hadirin. Seperti apa pernyataannya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dilansir dari kanal YouTube MerdekaDotCom, Kamis (8/5).
Prabowo Bicara Indonesia Mandiri
Sebanyak 1.200 purnawirawan TNI-Polri hadir dalam acara halal bihalal Purnawirawan TNI serta keluarga besar TNI-Polri di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (6/5). Acara dihadiri Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno. Terlihat, Presiden Prabowo duduk satu meja dengan Try Sutrisno.
Hadir juga Pelaksana Tugas Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Purnawirawan TNI AD (PLT. Ketum PPAD) Mayjen TNI Purnawirawan Komaruddin Simanjuntak. Sederat mantan Kapolri, Panglima TNI hingga kepala staf tiga matra juga hadir. Satu persatu nama mereka disebut oleh Prabowo, termasuk Jenderal (Purn) Andika Perkasa).
Melalui pidatonya dalam kesempatan itu, Prabowo bicara kekayaan Indonesia. Dia pun tak sudi jika dijadikan kacung oleh bangsa lain.
Bahkan, Prabowo menyatakan jika bangsa Indonesia sebenarnya tidak perlu impor BBM.
“Negara kita sesungguhnya tidak perlu impor BBM sama sekali dari manapun,” katanya.
Prabowo menambahkan, dengan percaya diri dia yakin kepemimpinannya dalam 5 tahun mendatang mampu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara berswasembada energi sendiri.
“Dan saya yakin, di kepemimpinan saya dalam lima tahun yang akan datang harus swasembada BBM dan energi,” tegasnya.
Meski dirinya percaya sepenuh hati, namun Prabowo tak mengelak pasti datang berbagai keraguan dari banyak pihak, termasuk bangsa Indonesia sendiri. Menjawab hal ini, Prabowo menegaskan jika hal itu patut didorong dengan semangat dan tidak kenal menyerah.
“Dan nanti pasti ada yang bertanya, apa bisa. (Saya jawab) harus bisa, ini semangat yang harus ditanamkan oleh angkatan 45, semangat dan tidak kenal menyerah. Merdeka atau mati. Berdiri di atas kaki sendiri, kita tidak mau jadi kacungnya bangsa lain. Kalau yang mau, silahkan. Saya tidak mau,” tandasnya.
Sikap tegas ini diakui Prabowo karena berasal dari didikan para seniornya semasa duduk di bangku pendidikan militer di Akabri yakni seperti Try Sutrisno, Hendropriyono, Luhut Pandjaitan hingga Wiranto. Prabowo lantas menyebut hal ini dengan nada guyonan sembari menunjuk para purnawirawan yang kala itu duduk tepat di hadapannya sendiri.
“Ini salah pembina-pembina saya yang mendidik saya seperti ini. Salah Pak Try, Pak Luhut, Pak Hendro, Pak Agum, ini abang-abang yang memberi contoh, memberi semangat itu. Jadi kalau Prabowo sekarang seperti ini, jangan salahkan Prabowo. Salahkan Pak Try, Pak Hendro, Pak Luhut, Pak Wiranto,” katanya.
Prabowo Hadiri Halal Bihalal Purnawirawan TNI AD
Sebelumnya, agenda Halal Bihalal bersama Purnawirawan TNI AD dan segenap Keluarga Besar TNI-Polri diketahui berlangsung pada Selasa (6/5) lalu di Balai Kartini, Jakarta.
Prabowo tiba di lokasi dengan mengenakan kemeja safari berwarna krem lengkap beserta peci hitam. Ia langsung menyalami para tokoh dan purnawirawan yang hadir satu per satu sebelum akhirnya duduk di meja utama bersama sejumlah tokoh senior, seperti Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X, dan Penasihat Khusus Presiden, Wiranto.
Selain itu, turut hadir pula Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), eks Kepala BIN Hendropriyono, eks KSAD Jenderal Dudung Abdurachman, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, dan politikus senior TB Hasanuddin dari PDI-P.