Perang Iran juga Terjadi di Dunia Digital, Propaganda AS Keok Malah Jadi Bahan Sindiran
Iran mengubah strategi media yang diterapkan oleh AS dengan memanfaatkan meme, kecerdasan buatan, dan konten viral untuk memberikan sindiran balik.
Iran berhasil menyoroti kelemahan serta ketidak konsistenan Amerika Serikat (AS) dalam konflik yang sedang berlangsung. Salah satu tokoh yang menonjol dalam usaha ini adalah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Melalui platform X, ia aktif menyampaikan kritik dalam bahasa Inggris terhadap narasi yang dibangun oleh pemerintah AS, termasuk Presiden Donald Trump. Dalam salah satu unggahannya, Ghalibaf menyindir pesan perang Trump.,
"Selamat datang di 'perlawanan' yang kami mulai 47 tahun lalu---tidak ada raja. Inilah rakyat Iran, dan kami menyetujui pesan ini," tulisnya.
Ia juga mengejek klaim AS mengenai kerusakan pesawat akibat serangan drone Iran, dengan secara sarkastik mengulang pernyataan AS yang menyebut pesawat mereka "hanya mengalami kerusakan ringan", menunjukkan bahwa Washington berusaha meremehkan kemampuan militer Iran.
Kritik terhadap Hipokrisi dan Strategi AS
Ghalibaf melanjutkan kritiknya dengan menyoroti tujuan perang Trump yang tampak tidak konsisten. Dalam unggahan lain, ia menulis, "Mereka bermain 6D chess lagi!" yang menyiratkan bahwa strategi yang digunakan terlihat rumit, tetapi sebenarnya membingungkan dan tidak konsisten.
Ia juga mengekspresikan keprihatinan terhadap upaya AS yang diduga berusaha memanipulasi pasar minyak demi kepentingan politik.
"Jika mereka menaikkan (produksi atau harga), ambil posisi jual. Jika mereka menurunkannya, ambil posisi beli," tulis Ghalibaf memperingatkan para pengikutnya.
Selain itu, ia menyoroti kerentanan militer AS dengan menulis, "Bagaimana mungkin AS, yang bahkan tidak mampu melindungi tentaranya sendiri di pangkalan-pangkalan di kawasan, dapat melindungi mereka di wilayah kami?"
Unggahan-unggahan tersebut menjangkau ratusan ribu orang dan melemahkan narasi Washington yang menggambarkan kekuatan serta kompetensinya.
Video AI dan Konten Viral Kini Jadi Senjata Ampuh
Konten yang dibagikan oleh tentara AS di TikTok semakin menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok dengan pesan resmi yang disampaikan oleh Gedung Putih mengenai perang di Iran. Melalui berbagai unggahan, terlihat jelas adanya kecemasan, keraguan, dan frustrasi di kalangan prajurit yang mungkin akan dikerahkan ke medan perang.
Sementara pemerintahan Trump menggambarkan perang ini sebagai operasi yang cepat dan menentukan, serta membingkainya dengan istilah "Operation Epic Fury" yang terkesan menjanjikan kemenangan, unggahan-unggahan di platform #MilitaryTok justru memberikan gambaran yang kontras. Banyak prajurit muda, terutama dari Generasi Z, mengekspresikan rasa gelisah mereka terhadap perang melalui TikTok.
Mereka membagikan reaksi yang bersifat pribadi dan emosional, menggabungkan humor dengan kekhawatiran yang mendalam. Beberapa rekrutan bahkan mengungkapkan sindiran terhadap nasib mereka sendiri, karena baru bergabung dengan militer pada saat perang dimulai.
Di sisi lain, ada pula yang menggunakan audio viral dan meme untuk menyampaikan penyesalan atau kecemasan mereka. Lagu "In the Navy" yang dinyanyikan oleh The Village People menjadi viral dan berfungsi sebagai simbol keraguan di kalangan prajurit.
Dalam berbagai video, anggota militer tampak bercanda sambil mempertanyakan peran mereka dalam konflik tersebut.
Dengan terbatasnya dan tidak jelasnya informasi dari sumber resmi, hashtag #MilitaryTok berkembang menjadi saluran informal yang memungkinkan publik untuk menilai kondisi moral pasukan serta berspekulasi mengenai pergerakan militer.
Para ahli berpendapat bahwa unggahan-unggahan ini menyajikan "perspektif yang lebih personal yang dibalut ironi atau humor gelap", mencerminkan generasi yang terbentuk oleh keterlibatan militer AS yang berkepanjangan di luar negeri.
Pandangan Publik di Amerika Serikat Semakin Kritis
Sentimen yang berkembang di media sosial sejalan dengan hasil survei terbaru. Sekitar enam dari sepuluh warga AS mengekspresikan ketidakpuasan terhadap cara Trump mengelola perang. Lebih dari 40 persen dari mereka bahkan beranggapan bahwa konflik ini akan mengancam keamanan AS.
Dalam enam hari pertama perang, AS dilaporkan telah mengeluarkan dana sekitar USD 12,7 miliar. Selain itu, jumlah korban jiwa juga cukup signifikan, dengan lebih dari 3.500 orang tewas di Iran dan 13 personel militer AS.
Dukungan masyarakat, khususnya dari kalangan generasi muda, terus mengalami penurunan. Hanya 9 persen dari Generasi Z yang sangat mendukung perang, sementara 34 persen lainnya menunjukkan penolakan yang kuat.
Kepercayaan terhadap militer juga dilaporkan menurun, yang mencerminkan kejenuhan terhadap konflik luar negeri yang berkepanjangan serta narasi propaganda yang diragukan. Para pengamat menilai bahwa platform seperti TikTok telah menciptakan celah dalam kontrol narasi pemerintah AS.
Di saat militer berusaha mengendalikan informasi, para tentara justru secara terbuka mengungkapkan kondisi di lapangan, termasuk kelemahan operasional dan menurunnya moral. Dalam konteks ini, kampanye digital Iran dinilai berhasil memanfaatkan situasi tersebut, mengubah propaganda AS menjadi bahan sindiran yang semakin memperkuat narasi tandingan mereka.