Mundur dari Kabinet Merah Putih, Ini Rekam Jejak Satryo Brodjonegoro Sebelum jadi Mendikti Saintek
Jejak kariernya yang panjang dan penuh prestasi, kini menjadi sorotan setelah pengunduran dirinya dari Kabinet Merah Putih.
Pengunduran diri Satryo Brodjonegoro dari jabatan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) di Kabinet Merah Putih periode 2024-2029 mengejutkan publik. Namun, perjalanan kariernya sebelum mencapai posisi tersebut patut ditelusuri.
Siapa Satryo Brodjonegoro? Ia adalah seorang akademisi dan birokrat terkemuka yang telah mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Latar belakang pendidikan dan kariernya yang gemilang menjadi landasan kesuksesannya.
Jejak kariernya yang panjang dan penuh prestasi, kini menjadi sorotan setelah pengunduran dirinya dari Kabinet Merah Putih. Namun, berbagai kontroversi, termasuk aksi demonstrasi pegawai Kemendikti Saintek yang mempertanyakan kepemimpinannya, turut mewarnai akhir masa jabatannya sebagai menteri.
Lantas, bagaimana sebenarnya perjalanan kariernya hingga mencapai posisi menteri dan apa yang melatarbelakanginya? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (20/2), berikut ulasan selengkapnya.
Dari Dosen ITB hingga Dirjen Dikti
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Satryo Brodjonegoro bergabung dengan almamaternya, ITB, sebagai dosen di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara pada tahun 1985 hingga 2009.
Selama periode tersebut, ia menjabat sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin ITB pada tahun 1992, memimpin implementasi proses self evaluation yang kemudian diadopsi oleh ITB dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Prestasi akademiknya juga gemilang, dibuktikan dengan lebih dari 99 publikasi ilmiah. Ia bahkan sempat menjadi profesor tamu di Universitas Teknologi Toyohashi, Jepang.
Kiprahnya di dunia pendidikan tinggi Indonesia berlanjut dengan jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) dari tahun 1999 hingga 2007. Selama menjabat, ia memperkenalkan kebijakan inovatif seperti konsep Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) dan program World Class University.
Kerja samanya yang erat dengan Jepang dalam bidang akademik juga membuahkan penghargaan bergengsi, yaitu The Order of the Rising Sun dari pemerintah Jepang. Komitmennya terhadap peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia terlihat jelas dari berbagai inisiatif yang ia pimpin. Ia juga aktif dalam berbagai proyek kerjasama internasional, salah satunya dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam perencanaan gedung Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin di Gowa, Sulawesi Selatan.
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Puncak Karier
Setelah berkiprah di Dirjen Dikti, Satryo Brodjonegoro aktif di Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Ia menjabat sebagai anggota Komisi Bidang Ilmu Rekayasa, kemudian Wakil Ketua (2013-2018), dan akhirnya Ketua (2018-2023).
Jabatan ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai akademisi terkemuka di Indonesia. Pengalamannya yang kaya di bidang akademik dan pemerintahan menjadikannya figur yang tepat untuk menduduki posisi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Namun, pengunduran dirinya menimbulkan pertanyaan dan spekulasi di tengah berbagai kontroversi yang melingkupinya. Perjalanan kariernya yang cemerlang ini menjadi pelajaran berharga tentang kepemimpinan dan tantangan dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia. Kontribusi Satryo Brodjonegoro dalam memajukan pendidikan tinggi Indonesia tidak dapat dipungkiri. Ia telah meninggalkan jejak yang signifikan melalui inovasi dan kerja sama internasional.
Meskipun masa jabatannya sebagai Mendiktisaintek berakhir dengan pengunduran diri, warisan dan pengalamannya akan tetap dikenang dalam sejarah pendidikan Indonesia. Dari seorang dosen di ITB hingga menjadi Mendiktisaintek, Satryo Brodjonegoro telah menunjukkan dedikasi dan komitmennya terhadap kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, perjalanan kariernya juga diwarnai dengan kontroversi yang perlu menjadi bahan evaluasi bagi sistem pemerintahan dan birokrasi di Indonesia.
Satryo Brodjonegoro Mengundurkan Diri
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto diketahui baru saja mencopot Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Padahal Satryo baru menjabat tiga bulan di kabinet merah putih.
Pencopotan Satryo tak bisa lepas dari kegaduhan yang dilakukannya pada akhir Januari 2025 lalu. Satryo diemo pegawainya sendiri. Sebanyak 235 ASN Kemdiktisaintek menggelar aksi di depan kantor kementerian mereka pada Senin (20/1).
Demo tersebut dilakukan karena dipicu pemberhentian mendadak seorang pegawai yang dilakukan secara verbal. Peserta aksi memadati depan kantor Kemdiktisaintek sambil membawa spanduk dengan tulisan protes keras kepemimpinan Satryo.
Sementara dari sisi Satryo sendiri, Mantan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu blak-blakan dirinya bukan diberhentikan melainkan mengundurkan diri.
"Jadi saya itu, baru saja, ke setneg menyerahkan surat pengunduran diri saya sebagai mendiktisaintek" kata Satryo, kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (19/2).
Dia menjelaskan, alasan dirinya mengundurkan diri lantaran sudah bekerja keras. Namun, hasil kinerjanya dianggap tidak sesuai dengan pemerintah. Sehingga, Satryo akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri ketimbang diberhentikan oleh Presiden Prabowo.
"Alasan utamanya karena saya sudah bekerja keras selama empat bulan ini. Namun karena mungkin tidak sesuai dengan harapan dari pemerintah. Ya saya lebih baik mundur daripada diberhentikan," jelasnya.
Lebih lanjut, Satryo menyebut, surat tersebut dibuat sehari sebelum dia mengajukan pengunduran diri. Kemudian, diserahkan kepada Sekretariat Negara. Dia mengaku, sudah merasa legowo atas keputusannya untuk mundur sebagai Mendiktisaintek.