Momen Lawas Presiden Soeharto Resmikan Pabrik Sritex, Bu Tien Sumringah Keliling Pabrik
Dalam sejarahnya, pendirian pabrik Sritex diresmikan langsung oleh Presiden ke-2 RI, HM Soeharto.
Kabar kebangkrutan PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex begitu mengejutkan banyak pihak. Mirisnya, 10 ribuh lebih karyawan yang selama ini menggantungkan nasibnya di pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara itu harus menghadapi badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang begitu pahit.
Harus tutup di tangan generasi kedua setelah berdiri selama puluhan tahun, siapa sangka Sritex sebelumnya disebut telah berhasil menopang perekenomian Sukoharjo, Jawa Tengah. Dalam sejarahnya, pendirian pabrik Sritex diresmikan langsung oleh Presiden ke-2 RI, HM Soeharto.
Presiden Soeharto diketahui berkunjung langsung meresmikan pabrik besar yang didirikan oleh Haji Muhammad Lukminto itu. Seperti apa momennya kala itu? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Sritex Diresmikan Soeharto
Sritex, atau PT Sri Rejeki Isman Tbk, adalah salah satu nama besar dalam industri tekstil di Indonesia. Didirikan pada tahun 1966 oleh HM Lukminto, perusahaan ini memulai langkahnya sebagai Usaha Dagang (UD) Sri Rejeki Isman di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah.
Dengan fokus awal pada perdagangan tekstil, Sritex telah menempuh perjalanan panjang yang penuh liku-liku hingga mencapai puncaknya sebagai salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara.
Pada tahun 1968, Sritex mendirikan pabrik cetak pertamanya di Solo hingga tahun 1978 akhirnya resmi terdaftar sebagai perseroan terbatas (PT) di Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Hingga akhirnya pada tahun 1992, Sritex mendapat perhatian langsung dari Presiden Soeharto yang saat itu masih menjabat sebagai orang nomor satu di RI. Secara khusus, Soeharto berkunjung ke Sritex dan meresmikan pabrik besar tersebut.
Momen lawas itu pun seperti halnya yang diunggah dalam sebuah video pendek melalui akun Instagram @merindink beberapa waktu lalu. Dalam video yang beredar, Soeharto membubuhkan tanda tangannya saat meresmikan Sritex.
“Kini tutup, mengenang kembali saat pabrik Sritex diresmikan Presiden Soeharto tahun 1992,” demikian dikutip dari keterangan unggahan.
Ibu Tien Ikut Berkeliling Pabrik
Kala itu, sang Presiden tak sendirian. Soeharto tampak didampingi sang ibu negara, Tien Soeharto yang berkunjung menggunakan setelan pakaian panjang berwarna ungu dengan corak bunga.
Ibu Tien tampak antusias saat ikut berkeliling pabrik, melihat berbagai sudut bangunan yang begitu besar. Ibu Tien bahkan sempat melihat langsung berbagai proses maupun bentuk operasional dari Sritex sendiri pada saat itu.
“Tahun 1992, pembangunan pabrik baru Sritex di Sukoharjo diresmikan oleh Presiden Soeharto yang didampingi Ibu Tien,” demikian dikutip dari keterangan unggahan.
Sritex Resmi Tutup, Ribuan Karyawan Kena PHK
Sebelumnya, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) group, yang dikenal sebagai salah satu raksasa dalam industri tekstil di Indonesia diketahui secara resmi menghentikan seluruh kegiatan operasionalnya mulai 1 Maret 2025. Keputusan ini mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap total 10.965 karyawan.
Jumlah itu berasal dari; PT Sritex Sukoharjo: 8.504 karyawan, PT Primayuda Boyolali: 956 karyawan, dan PT Sinar Pantja Djadja Semarang: 40 karyawan.
Keputusan penutupan ini diambil setelah Pengadilan Niaga Semarang memutuskan bahwa Sritex berada dalam kondisi pailit, yang merupakan hasil dari gugatan yang diajukan oleh PT Indo Bharat Rayon.
Proses kebangkrutan PT Sritex dimulai ketika PT Indo Bharat Rayon mengajukan gugatan di Pengadilan Niaga Semarang. Pada akhir Februari 2025, pengadilan memutuskan bahwa PT Sritex beserta tiga anak usahanya, yaitu PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya, tidak mampu melanjutkan operasional mereka akibat beban utang yang sangat berat.
Kondisi demikian turut menyita perhatian pemerintah. Demi menyelamatkan ribuan tenaga kerja, pemerintah berupaya mempekerjakan mereka kembali, paling cepat dua minggu ke depan.
Kurator PT Sritex Nurma Sadikin mengulas, pihaknya telah membuka opsi untuk penyewaan alat berat untuk meningkatkan harta pailit dan menjaga aset agar nilainya tidak turun. Sejauh ini, tim kurator telah membangun komunikasi dengan sejumlah investor, yang nantinya dalam dua minggu ke depan mereka akan memutuskan siapa pihak yang akan menyewa aset Sritex tersebut.