Israel Berulah lagi, Gencatan Senjata dengan Hamas di Gaza Terancam Batal
Gencatan senjata di Gaza antara Israel dan Hamas terancam batal
Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza terancam gagal. Penyebabnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu hingga kini belum juga menggelar sidang kabinet pengambilan keputusan gencatan senjata.
Netanyahu justru menuding Hamas tidak mau menjalankan semua isi kesepakatan genjatan senjata. Padahal pihak Hamas menyatakan sepakat dengan isi kesepakatan.
Belum digelarnya rapat kabinet ini disinyalir karena adanya penolakan gencatan senjata dari menteri di kabinet Netanyahu. Menteri garis keras itu bahkan mengancam akan mundur jika kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas itu dilakukan.
Seperti diketahui, perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas sejak 2023 lalu selalu mandek karena Netanyahu menolak menghentikan perang. Dia juga selalu menambahkan syarat baru yang membuat perundingan menjadi mandek. Simak ulasan selengkapnya.
Kesepakatan Gencatan Senjata Terancam Batal
Mengutip dari laman aljazeera.com, PM Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan kabinetnya tidak akan menggelar rapat perihal gencatan senjata di Gaza. Netanyahu berdalih jika Hamas terlebih dahulu harus menerima semua syarat yang telah ia tetapkan sebelumnya.
"Hamas mengingkari bagian-bagian dari perjanjian yang dicapai dengan mediator dan Israel dalam upaya untuk memeras konsesi menit terakhir," kata Netanyahu.
Sebelumnya, persidangan telah dijadwalkan pada hari Kamis, dan gencatan senjata akan dimulai pada hari Minggu. Namun, Netanyahu menolaknya dan mengatakan jika pertemuan tersebut tidak akan pernah terjadi.
"Kabinet Israel tidak akan bersidang sampai mediator memberitahu Israel bahwa Hamas telah menerima semua elemen perjanjian." lanjutnya.
Pertemuan Netanyahu dengan kabinetnya adalah bagian penting dalam rangka pengambilan keputusan untuk melakukan gencatan senjata dengan Hamas. Tapi, pertemuan itu tidak segera dilakukan.
Sementara itu, di pihak Hamas, pejabat senior, Izzat al-Risheq, menegaskan jika kelompok mereka siap berkomitmen pada syarat dan perjanjian gencatan senjata yang telah diumumkan oleh mediator.
Satu hari setelahnya, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir mengancam akan mengundurkan diri dari pemerintahan jika kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas terwujud.
"Jika kesepakatan yang tidak bertanggung jawab ini disetujui dan dilaksanakan, kami para anggota Jewish Power akan menyerahkan surat pengunduran diri kepada perdana menteri," katanya.
Ben Gvir mengajak Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich untuk bergabung dengannya dalam pengunduran diri tersebut. Menurut mereka, gencatan senjata adalah sebuah bencana bagi keamanan nasional Israel.
Sebelumnya, beberapa keluarga Israel dengan para pendukungnya juga melakukan aksi duduk di depan kantor Netanyahu. Mereka menyerukan agar kabinet tidak menandatangani kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas.
"Jangan menandatangani kesepakatan yang berarti menyerah, mengorbankan yang tersisa yang diculik dan menyerahkan keamanan Israel," kata Yehoshua Shani, ayah dari Kapten Angkatan Darat Israel Uri Shani, yang tewas dalam pertempuran.
Netanyahu menghadapi tekanan internal yang cukup besar untuk membawa pulang sejumlah tawanan di Gaza. Di sisi lain koalisi sayap kanannya telah mengancam akan keluar dari pemerintahan jika dia menyepakati gencatan senjata.
Israel Tidak Pernah Serius
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas selalu menemui jalan buntu sejak tahun 2023. Pada November tahun lalu, Hamas mengatakan jika Israel hanya main-main dalam mewujudkan perundingan penghentian perang tersebut.
Pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, mengatakan Israel tidak serius dalam menawarkan proposal gencatan senjata dengan Hamas. Terlebih sejak tahun lalu, selalu ada syarat-syarat baru yang ditambahkan oleh Netanyahu.
“Proposal apapun yang diajukan kepada kami (Hamas) dan memenuhi tuntutan rakyat kami, mengakhiri penderitaan mereka, dan sepenuhnya menghentikan agresi Israel, bukan hanya sementara, akan kami lanjutkan tanpa ragu-ragu," kata Hamdan kala itu.
Selama ini, upaya AS, Mesir, dan Qatar juga selalu menemui jalan buntu perihal gencatan senjata permanen. Hal itu dikarenakan Netanyahu menolak untuk menghentikan perang dan selalu menambahkan syarat baru.
Hamas juga menegaskan bahwa mereka hanya akan menerima syarat gencatan senjata jika semua pasukan Israel ditarik dari Gaza.
Selama ini, Israel telah menahan lebih dari 10.300 tahanan Palestina. Sementara 98 warga Israel ditahan di Gaza. Sampai sekarang, Israel terus melanjutkan perangnya di Gaza yang telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023 lalu.
Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 46.600 orang. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Pasca gencatan senjata disepakati Rabu lalu dan direncanakan berlaku mulai Minggu luasa, pasukan Israel justru mengintensifkan pemboman mereka di Jalur Gaza. Akibatnya, 87 warga Palestina di Gaza tewas dalam 24 jam terakhir.