Ancam Buka 'Gerbang Neraka', Israel Setop Truk Bantuan Kemanusiaan ke Gaza di Hari Kedua Ramadan
Stasiun televisi Channel 14 Israel mengatakan keputusan untuk menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan untuk Gaza ini telah dikoordinasikan dengan pemerintahan
Pemerintah Israel menghentikan masuknya truk bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza pada Minggu, hanya berjarak beberapa jam setelah berakhirnya fase pertama gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan. Demikian dilaporkan kantor berita Anadolu.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bantuan itu dihentikan karena kelompok Palestina Hamas menolak untuk memperpanjang fase pertama perjanjian gencatan senjata.
“Pagi ini, semua barang dan persediaan di Jalur Gaza dihentikan,” ungkap salah satu pejabat, seperti dilansir Middle East Monitor, Minggu (2/3).
“Jika Hamas tetap kukuh pada penolakan mereka, akan ada konsekuensi lainnya,” katanya tanpa menambahkan informasi lebih lanjut.
Stasiun televisi Channel 14 Israel mengatakan keputusan untuk menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan untuk Gaza ini telah dikoordinasikan dengan pemerintahan Amerika.
Keputusan ini dipuji oleh politisi sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, mantan menteri pertahanan nasional.
“Kebijakan ini harus tetap berlaku hingga kembalinya sandera terakhir. Kini, saatnya membuka gerbang neraka, memutus aliran listrik dan air, serta melanjutkan perang,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Kantor media pemerintah Gaza memperingatkan bahwa keputusan Israel untuk memblokir bantuan kemanusiaan merupakan “pembantaian massal melalui kelaparan.”
“Menghambat bantuan kemanusiaan menimbulkan kelaparan pada penduduk Gaza yang sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup,” ungkap kantor itu.
Kantor Media Gaza menyerukan pihak mediator menekan Israel “untuk memenuhi kebijakannya” di bawah kesepakatan gencatan senjata.
Tahap pertama kesepakatan gencatan senjata berjalan selama enam pekan, mulai berlaku pada 19 Januari, dan secara resmi berakhir pada Sabtu malam. Namun, Israel belum setuju untuk melanjutkan ke tahap kedua kesepakatan tersebut untuk mengakhiri perang di Gaza.
Sejumlah warga Israel melakukan aksi protes dengan memblokir akses bagi truk bantuan tersebut untuk masuk ke Gaza. REUTERS
Netanyahu berupaya untuk memperpanjang tahap pertukaran awal untuk mengamankan pembebasan tawanan sebanyak mungkin. Tanpa imbalan apapun untuk memenuhi kewajiban militer dan kemanusiaan kepada Palestina.
Hamas menolak untuk melanjutkan perjanjian karena mengetahui kondisi ini, mereka bersikeras agar Israel mematuhi ketentuan gencatan senjata dan segera memulai negosiasi untuk tahap kedua, yang mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, serta menghentikan perang secara total.
Sebelumnya pada hari Minggu, Israel mengatakan pihaknya menyetujui gencatan senjata sementara di Gaza selama bulan Ramadhan bagi umat muslim dan hari raya Paskah bagi umat Yahudi, menyusul usulan dari utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, setelah berakhirnya tahap pertama gencatan senjata.
Perjanjian tersebut menghentikan perang genosida Israel di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 48.380 warga Palestina. Sebagian besar korban tersebut adalah wanita dan anak-anak, serta membuat Jalur Gaza dipenuhi reruntuhan.
Pada November lalu, Mahkamah Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya Jalur Gaza.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey