Israel Kembali akan Putus Aliran Listrik dan Air ke Gaza Setelah Hentikan Truk Bantuan Kemanusiaan

Tentara Israel berulangkali melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Israel Kembali akan Putus Aliran Listrik dan Air ke Gaza Setelah Hentikan Truk Bantuan Kemanusiaan
Para pelayat membawa jenazah dua warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Beit Hanun di Jalur Gaza Utara, Palestina (02/03/2025) (AFP/ BasharTaleb)

Pihak berwenang Israel berencana memutus aliran air dan listrik ke Jalur Gaza dan melanjutkan upaya untuk mengusir warga Palestina dari Gaza Utara ke Selatan. Demikian stasiun televisi Israel Kan 11.

Rencana Israel ini merupakan bagian dari strategi untuk menerapkan “tekanan maksimal pada Jalur Gaza dan Hamas.” Serta menyusul pemblokiran bantuan untuk memasuki Jalur Gaza pada Minggu (2/3), setelah berakhirnya fase pertama kesepakatan gencatan senjata.

Rencana ini dilakukan setelah Hamas menuntut Israel agar setuju beralih ke fase kedua gencatan senjata, seperti yang telah disepakati sebelumnya.

Ribuan warga Palestina berdesakan antre roti
Warga Palestina berkumpul untuk membeli roti dari toko roti, di tengah konflik Israel-Hamas, di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan 28 Oktober 2024. REUTERS/Mohammed Salem

Fase kedua gencatan senjata meliputi akhir dari perang secara mutlak, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta pembebasan semua tawanan Israel yang tersisa.

Dilansir Middle East Eye, Senin (3/3), meskipun gencatan senjata secara resmi menghentikan pertempuran, tentara Israel berulangkali melanggar kesepakatan, mereka terus melancarkan serangan udara dan menembaki warga Palestina sejak dimulainya kesepakatan ini pada 19 Januari.

Beberapa wilayah menjadi target sejak fase pertama berakhir, termasuk lingkungan Shujaiyya, daerah tetangga Gaza yang dekat dengan Rafah, dan Beit Hanoun di Jalur Gaza Utara.

Kekurangan bantuan

Blokade bantuan diumumkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Minggu (2/3).

Bezalel Smotrich, Menteri Keuangan Israel menyambut baik Keputusan tersebut sebagai “langkah penting ke arah yang benar.” Ia juga menambahkan dalam pernyataan lain bahwa langkah selanjutnya dalam perang Gaza adalah memutuskan aliran listrik dan air, serta “membuka gerbang neraka untuk Gaza dengan serangan yang kuat, mematikan, dan cepat.”

Pengumuman tersebut memicu reaksi keras di antara kelompok hak asasi manusia dan para ahli. Dalam sebuah unggahan di X, lembaga swadaya Doctors Without Borders (MSF) mengecam keputusan Israel untuk memblokir bantuan.

“Bantuan kemanusiaan tidak boleh dimanfaatkan sebagai alat perang. Terlepas dari negosiasi antara pihak-pihak yang berperang, orang-orang Gaza masih membutuhkan peningkatan pasokan kemanusiaan besar-besaran dan segera,” ungkap MSF.

MSF memperingatkan lebih lanjut dalam sebuah pernyataan pers bahwa rencana dan tindakan tersebut akan semakin “memperdalam krisis kemanusiaan bagi dua juta orang.”

“Blokade total Israel pada bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza adalah tindakan hukuman kolektif yang kejam dan pelanggaran mencolok terhadap hukum kemanusiaan internasional.”

“Setahun lalu, Mahkamah Internasional memerintahkan tindakan untuk mencegah genosida di Gaza. Tapi dengan kembali memblokir bantuan, Israel terus melanggarnya,” kata MAP.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi