Hukum Puasa Dzulhijjah 10 Hari, Boleh Tidak Berurutan?
Berikut hukum puasa Dzulhijjah 10 hari dan ketentuan berpuasa sunnah.
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam kalender Islam. Pada bulan ini, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah haji dan Idul Adha. Selain itu, terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan, yaitu puasa Dzulhijjah. Puasa ini dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Lantas, bagaimana hukum puasa Dzulhijjah 10 hari? Apa saja keutamaan dan tata caranya? Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai puasa Dzulhijjah, mulai dari hukum, niat, tata cara, hingga keutamaannya. Tujuannya agar umat Islam dapat memahami dan mengamalkan ibadah ini dengan benar.
Dengan memahami hukum dan keutamaan puasa Dzulhijjah, diharapkan umat Islam semakin termotivasi untuk melaksanakan amalan sunnah ini. Selain itu, pemahaman yang benar mengenai tata cara puasa Dzulhijjah akan membantu umat Islam dalam menjalankan ibadah ini sesuai dengan tuntunan syariat.
Melansir dari berbagai sumber, Rabu (28/5), simak ulasan informasinya berikut ini.
Hukum Puasa Dzulhijjah 10 Hari
Hukum puasa sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah sunnah. Artinya, sangat dianjurkan untuk dilaksanakan bagi umat Islam yang mampu. Meskipun ada hadits yang menyebutkan keutamaan puasa sepuluh hari pertama Dzulhijjah, tidak ada kewajiban untuk berpuasa selama sepuluh hari tersebut.
Puasa pada hari ke-9 Dzulhijjah, yaitu hari Arafah, memiliki keutamaan yang lebih besar lagi. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, sangat dianjurkan untuk berpuasa pada hari Arafah. Puasa ini dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Perlu diperhatikan bahwa puasa pada tanggal 10 Dzulhijjah, yaitu hari raya Idul Adha, hukumnya haram. Umat Islam dilarang berpuasa pada hari tersebut karena merupakan hari untuk merayakan dan bersyukur atas nikmat Allah SWT.
Bolehkah Puasa Dzulhijjah Tidak Berurutan?
Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian ulama memperbolehkan puasa Dzulhijjah dilakukan tidak berurutan, sementara sebagian lainnya menganjurkan untuk berpuasa secara berurutan agar mendapatkan keutamaan yang lebih besar.
Namun, mayoritas ulama sepakat bahwa yang lebih utama adalah berpuasa secara berurutan jika mampu. Jika tidak mampu, maka diperbolehkan untuk berpuasa tidak berurutan, asalkan tetap dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Puasa Dzulhijjah adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Dengan memahami hukum, niat, tata cara, dan keutamaannya, diharapkan umat Muslim semakin termotivasi untuk mengamalkan ibadah ini dengan benar dan ikhlas.
Jadwal Puasa Dzulhijjah 2025
Merujuk pada kalender Hijriah yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, berikut adalah jadwal lengkap puasa Dzulhijjah tahun 2025:
- 1 Dzulhijjah 1446 H: Rabu, 28 Mei 2025
- 2 Dzulhijjah 1446 H: Kamis, 29 Mei 2025
- 3 Dzulhijjah 1446 H: Jumat, 30 Mei 2025
- 4 Dzulhijjah 1446 H: Sabtu, 31 Mei 2025
- 5 Dzulhijjah 1446 H: Ahad, 1 Juni 2025
- 6 Dzulhijjah 1446 H: Senin, 2 Juni 2025
- 7 Dzulhijjah 1446 H: Selasa, 3 Juni 2025
- 8 Dzulhijjah 1446 H (Puasa Tarwiyah): Rabu, 4 Juni 2025
- 9 Dzulhijjah 1446 H (Puasa Arafah): Kamis, 5 Juni 2025
Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah ini, terutama puasa Tarwiyah dan Arafah, bagi yang tidak menunaikan ibadah haji.
Niat Puasa Dzulhijjah
Niat merupakan salah satu rukun penting dalam berpuasa. Niat puasa Dzulhijjah sebaiknya dibaca pada malam hari sebelum fajar. Namun, jika terlupa, niat masih boleh dilafalkan di pagi hari sebelum matahari terbit, selama belum makan atau minum.
Melansir dari Baznas, jika seseorang lupa berniat di malam hari, masih diperbolehkan berniat di siang hari sebelum waktu Dzuhur, asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Dengan membaca niat dengan ikhlas, diharapkan ibadah puasa diterima dan mendapatkan pahala berlimpah dari Allah SWT.
Berikut adalah lafal niat puasa Dzulhijjah yang dapat dilafalkan:
1. Niat Puasa Dzulhijjah (1-7 Dzulhijjah):
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta'âlâ.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta'âlâ."
2. Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah):
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta'âlâ.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta'âlâ."
3. Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah):
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i arafata sunnatan lillâhi ta'âlâ.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah ta'âlâ."
Tata Cara Puasa Dzulhijjah
Tata cara puasa Dzulhijjah sama dengan puasa sunnah lainnya. Berikut adalah langkah-langkahnya:
- Niat puasa pada malam hari atau saat sahur.
- Makan sahur sebelum imsak.
- Menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa dari Subuh hingga Maghrib.
- Menjaga diri dari perbuatan yang sia-sia dan maksiat.
- Berbuka puasa saat Maghrib tiba.
Selama berpuasa, umat Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan bersedekah.
Keutamaan Puasa Dzulhijjah
Melansir dari NU Online, melaksanakan puasa di awal Dzulhijjah hukumnya adalah sunnah. Adapun keutamaan bagi yang melaksanakannya yaitu mendapat pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi yang berbunyi:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar.” (HR At-Tirmidzi).
Secara khusus, keutamaan puasa Arafah adalah dapat menghapus dosa selama dua tahun. Berikut hadisnya yang diriwayatkan Imam Muslim.
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).