Duduk Perkara Presiden Prancis & PM Israel Ribut, Netanyahu Sampai Tantrum ke Macron
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengutuk keras tindakan Netanyahu terkait blokade bantuan kemanusiaan ke Gaza, menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron saling serang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Penyebabnya, Macron menyatakan keprihatinannya atas kondisi kemanusiaan di Gaza, Palestina saat ini.
Macron dengan tegas menyatakan tindakan Netanyahu melakukan blokade bantuan kemanusiaan terhadap Gaza tidak dapat diterima dan memalukan.
Seperti diketahui, Israel terus melakukan blokade bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Rakyat Palestina yang tinggal di Gaza pun mengalami kelaparan dan krisis alat medis serta obat-obatan yang sangat diperlukan akibat genosida Israel.
Berbagai laporan menunjukkan banyak warga Gaza yang terluka tidak dapat dievakuasi dengan cepat. Ketidakmampuan dokter untuk memasuki wilayah Gaza semakin memperburuk kondisi kesehatan masyarakat yang sudah parah.
Netanyahu pun tak terima atas pernyataan Macron yang diungkapkan dalam penampilan televisi khusus yang disiarkan di saluran TF1. Simak informasi selengkapnya
Macron: Netanyahu Memalukan!
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan kondisi di Gaza sangat mengkhawatirkan. Dia menyatakan Benjamin Netanyahu telah melakukan tindakan yang "tidak dapat diterima" dan "memalukan" dengan melakukan blokade bantuan kemanusiaan ke Gaza.
"Apa yang dilakukan pemerintah Benjamin Netanyahu tidak dapat diterima. Tidak ada air, tidak ada obat-obatan, yang terluka tidak bisa keluar, dokter tidak bisa masuk. Apa yang dilakukannya sangat memalukan," kata Macron kepada televisi TF1, dikutip dari Press TV, Kamis (15/5/2025).
Macron mengatakan telah mengunjungi perbatasan Mesir dengan Gaza awal tahun ini. Di sana dia melihat bantuan kemanusiaan yang diberikan Prancis dan negara-negara lain tidak dapat masuk karena diblokade oleh Israel.
"Ini adalah tragedi kemanusiaan yang tidak dapat diterima," katanya.
"Tugas saya adalah melakukan apa pun yang saya bisa untuk menghentikannya,” imbuhnya, seraya mengatakan bahwa kemungkinan meninjau kembali perjanjian kerja sama Uni Eropa dengan Israel ada di atas meja.
Macron: AS Punya Pengaruh ke Israel buat Hentikan Blokade
Dia menegaskan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memiliki pengaruh untuk menghentikan tindakan memalukan PM Israel dan pemerintahnya itu.
Macron pun mengaku pernah bicara keras hingga marah ke Netanyahu. Namun, tidak berpengaruh, karena Israel tidak bergantung pada Prancis, tetapi kepada Amerika Serikat.
"Kita membutuhkan Amerika Serikat. Presiden Trump memiliki pengaruh. Saya pernah berbicara keras dengan Perdana Menteri Netanyahu. Saya marah, tetapi mereka (Israel) tidak bergantung pada kita, mereka bergantung pada senjata Amerika," tambahnya.
Netanyahu Balas Serang Macron
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tak terima atas pernyataan Macron. Dia pun menuduh Macron berpihak pada teroris.
"Macron sekali lagi memilih untuk mendukung organisasi teroris Islam yang kejam dan menggemakan propaganda tercelanya, menuduh Israel melakukan fitnah berdarah," kata pernyataan dari kantor Netanyahu, dikutip dari France24.
"Alih-alih mendukung kubu demokrasi Barat yang memerangi organisasi teroris Islam dan menyerukan pembebasan para sandera, Macron sekali lagi menuntut agar Israel menyerah dan memberi penghargaan kepada terorisme," tambahnya.
"Israel tidak akan berhenti dan tidak akan menyerah," katanya.
Tak Cuma Serang Secara Militer, Israel juga Blokade Gaza
Seperti diketahui, Israel terus membombardir Gaza. Tak cuma itu, Israel juga melakukan blokade terhadap wilayah kantong itu.
Akibatnya, penduduk Gaza dilanda kelaparan dan korban genosida Israel tak bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) mendesak agar blokade total terhadap pasokan makanan ke Jalur Gaza dihentikan segera. Langkah ini dinilai sangat penting karena krisis yang berkepanjangan telah mengancam kehidupan sekitar 2,1 juta penduduk di wilayah tersebut.
Dalam keterangan resmi yang diunggah melalui situs OCHA, lembaga ini mengungkapkan bahwa cadangan logistik bantuan hampir sepenuhnya habis. Situasi ini diperparah dengan blokade total yang masih diberlakukan oleh otoritas Israel.
Di sisi lain, Badan PBB yang menangani pengungsi Palestina, UNRWA, menyampaikan bahwa seluruh aliran bantuan – baik medis, kemanusiaan, maupun komersial – telah ditahan selama lebih dari sembilan minggu. Mereka menyoroti dampak jangka panjang yang mengintai warga sipil akibat pembatasan akses tersebut.
"Semakin lama blokade ini berlangsung, semakin besar pula risiko kerusakan permanen terhadap kehidupan jutaan warga sipil," ungkap UNRWA dalam pernyataannya.
UNRWA menyebutkan bahwa ribuan truk pengangkut bantuan telah disiapkan dan para staf mereka di Gaza siap memperluas distribusi bantuan jika jalur masuk kembali dibuka. Terkait kondisi ketahanan pangan di Gaza, data dari Program Analisis Citra Satelit PBB menunjukkan bahwa sekitar 81 persen lahan pertanian produktif di wilayah itu mengalami penurunan hasil panen secara signifikan.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa kerusakan lahan tersebut disebabkan oleh pemboman dan pengerukan yang dilakukan oleh militer Israel sejak serangan dimulai pada 7 Oktober 2023.
Sejak 2 Maret lalu, Israel dilaporkan telah sepenuhnya memblokir masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk pasokan makanan dan obat-obatan, ke wilayah Gaza — sebuah daerah yang secara historis sangat mengandalkan bantuan eksternal untuk kelangsungan hidup warganya.