Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengalami keracunan makanan dan terpaksa harus bekerja dari rumah selama beberapa hari ke depan. Kabar ini disampaikan Kantor Perdana Menteri pada Minggu, 20 Juli 2025.
"Di bawah bimbingan dokternya, perdana menteri akan beristirahat di rumah selama tiga hari ke depan dan mengurus urusan negara dari sana," dilansir dari Anadolu Agency Senin, (21/7).
Menurut keterangan resmi, Netanyahu sempat mengalami dehidrasi usai mengalami keracunan makanan. Kondisinya kini dikabarkan sudah stabil setelah mendapat penanganan dari dokter. Situasi ini berdampak pada jadwal persidangan kasus korupsi yang melibatkan Netanyahu.
Banyak orang kemudian mengaitkan kondisi kesehatan Netanyahu yang mengalami sakit akibat keracunan makanan ini dengan sikapnya kepada warga Gaza. Diketahui jika selama melakukan agresi ke daerah kantong tersebut, Netanyahu juga membatasi akses bantuan yang membuat banyak warga Gaza kelaparan.
Advertisement
Israel kembali berulah dengan menutup jalur penyeberangan Zikim yang mengarah ke Gaza Utara. Langkah ini mengakibatkan terputusnya rute paling efisien untuk mendistribusikan bantuan pada Kamis, (26/6/2025).
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mengatakan bahwa Israel telah melanggar kewajiban hak asasi manusia sesuai dengan perjanjian kerja sama yang menjadi dasar hubungan dagang antara kedua pihak.
Laporan tersebut menyoroti blokade yang diterapkan Israel terhadap bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina, tingginya jumlah korban sipil, serangan terhadap jurnalis, serta pengungsian massal dan kehancuran yang meluas akibat perang.
Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya menjelang KTT Uni Eropa di Brussel seperti dikutip dari laman The Guardian, Senin (21/7). Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sempat berdalih jika aksi blokade bantuan ke Gaza dilakukan untuk melemahkan kendali Hamas atas penduduk.
Tindakan keji Israel itu pun dinilai sebagai upaya Israel "memiliterisasi" bantuan kemanusiaan dan menggusur warga Palestina.
Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengungkapkan bahwa pasukan Israel telah mengakibatkan kematian 56 orang pada hari Kamis, (26/6). Enam di antaranya adalah mereka yang sedang menunggu bantuan makanan di dua lokasi berbeda.
Meskipun tidak ada konfirmasi independen mengenai klaim tersebut, catatan medis dari rumah sakit lapangan yang dikelola oleh Komite Palang Merah Internasional dan LSM lainnya mencatat ratusan luka tembak di kalangan warga sipil yang sedang mencari bantuan dalam dua minggu terakhir.
Para saksi mata juga melaporkan adanya tembakan mematikan dari tentara Israel seperti dikutip dari The Guardian. Sebagai informasi, jumlah total korban jiwa di Gaza akibat konflik yang telah berlangsung selama 20 bulan ini telah mencapai lebih dari 56 ribu orang.