Cara Mengatasi Darah Tinggi 200/120 mmHg atau Hipertensi Berat
Berikut cara mengatasi darah tinggi 200/120 mmHg atau hipertensi berat.
Hipertensi berat atau darah tinggi 200 merupakan kondisi serius di mana tekanan darah seseorang mencapai level yang sangat tinggi, yaitu 200/120 mmHg atau lebih.
Kondisi ini termasuk dalam kategori krisis hipertensi yang memerlukan penanganan medis segera karena dapat mengancam jiwa. Tekanan darah normal umumnya berada di bawah 120/80 mmHg.
Ketika tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih, seseorang didiagnosis mengalami hipertensi. Namun, pada kasus hipertensi berat, tekanan darah melonjak jauh lebih tinggi, mencapai angka 200 atau bahkan lebih untuk tekanan sistolik (angka atas).
Hipertensi berat dibagi menjadi dua kategori:
- Hipertensi urgensi: Tekanan darah sangat tinggi (200/120 mmHg atau lebih) tanpa adanya kerusakan organ target yang signifikan.
- Hipertensi emergensi: Tekanan darah sangat tinggi disertai dengan kerusakan organ target seperti otak, jantung, ginjal, atau mata.
Kedua kondisi ini memerlukan penanganan medis segera, namun hipertensi emergensi dianggap lebih berbahaya dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Bagaimana cara mengatasi darah tinggi 200/120 mmHg atau hipertensi berat? Melansir dari berbagai sumber, Senin (10/3), simak ulasan informasinya berikut ini.
Penyebab Darah Tinggi 200
Hipertensi berat dengan tekanan darah mencapai 200 mmHg atau lebih dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut adalah beberapa penyebab utama:
- Hipertensi yang tidak terkontrol: Penderita hipertensi yang tidak rutin mengonsumsi obat atau tidak menjalani gaya hidup sehat berisiko mengalami lonjakan tekanan darah yang ekstrem.
- Penyakit ginjal kronis: Ginjal berperan penting dalam mengatur tekanan darah. Ketika fungsi ginjal terganggu, dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang signifikan.
- Penyakit endokrin: Gangguan hormon seperti hipertiroidisme, sindrom Cushing, atau feokromositoma dapat memicu kenaikan tekanan darah yang drastis.
- Obat-obatan tertentu: Penggunaan obat-obatan seperti pil KB, obat flu yang mengandung dekongestan, atau obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko hipertensi berat.
- Konsumsi alkohol berlebihan: Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah secara signifikan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
- Penggunaan narkoba: Zat-zat seperti kokain atau amfetamin dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah yang berbahaya.
- Stres berat: Kondisi stres yang ekstrem dan berkepanjangan dapat memicu kenaikan tekanan darah yang drastis.
- Kehamilan: Pada beberapa kasus, kehamilan dapat menyebabkan kondisi yang disebut preeklampsia, di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang signifikan.
- Faktor genetik: Beberapa orang mungkin memiliki predisposisi genetik untuk mengalami hipertensi berat.
- Obesitas: Kelebihan berat badan yang signifikan dapat meningkatkan risiko hipertensi berat.
Gejala dan Tanda Hipertensi Berat
Hipertensi berat dengan tekanan darah mencapai 200 mmHg atau lebih seringkali disertai dengan gejala yang lebih jelas dibandingkan hipertensi ringan atau sedang. Berikut adalah tanda dan gejala yang perlu diwaspadai:
- Sakit kepala hebat: Penderita mungkin merasakan sakit kepala yang intens, terutama di bagian belakang kepala atau area tengkuk.
- Penglihatan kabur: Tekanan darah yang sangat tinggi dapat mempengaruhi pembuluh darah di mata, menyebabkan gangguan penglihatan.
- Mual dan muntah: Perasaan mual yang intens disertai dengan muntah sering terjadi pada kasus hipertensi berat.
- Nyeri dada: Rasa sakit atau tekanan di dada bisa menjadi tanda bahwa jantung mengalami tekanan berlebih.
- Sesak napas: Kesulitan bernapas atau napas pendek bisa terjadi akibat tekanan pada sistem kardiovaskular.
- Kebingungan: Perubahan mental seperti kebingungan atau disorientasi bisa menjadi tanda bahwa otak terpengaruh oleh tekanan darah yang sangat tinggi.
- Mimisan: Beberapa orang mungkin mengalami pendarahan dari hidung akibat pecahnya pembuluh darah kecil.
- Kelelahan ekstrem: Rasa lelah yang luar biasa dan tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan bisa menjadi gejala.
- Detak jantung tidak teratur: Jantung mungkin berdebar kencang atau memiliki ritme yang tidak normal.
- Telinga berdenging: Suara berdengung atau berdesing di telinga (tinnitus) bisa terjadi.
- Keringat berlebih: Berkeringat secara berlebihan tanpa sebab yang jelas bisa menjadi tanda.
- Wajah kemerahan: Pembuluh darah yang melebar di wajah bisa menyebabkan warna kemerahan.
- Kecemasan atau gelisah: Perasaan cemas yang intens tanpa sebab yang jelas bisa muncul.
- Kejang: Pada kasus yang sangat parah, hipertensi berat bisa menyebabkan kejang.
Penanganan Medis Hipertensi Berat
Penanganan medis untuk hipertensi berat dengan tekanan darah mencapai 200 mmHg atau lebih memerlukan tindakan cepat dan intensif. Berikut adalah langkah-langkah penanganan yang umumnya dilakukan:
1. Perawatan di Unit Gawat Darurat:
Pasien dengan hipertensi berat biasanya akan langsung dibawa ke unit gawat darurat untuk penanganan segera.
Pemantauan terus-menerus terhadap tekanan darah, detak jantung, dan fungsi organ vital akan dilakukan.
2. Pemberian Obat Intravena:
Obat-obatan penurun tekanan darah akan diberikan melalui infus untuk menurunkan tekanan darah secara cepat namun terkontrol.
Beberapa obat yang mungkin digunakan termasuk nikardipin, labetalol, atau nitroprusid.
3. Penanganan Komplikasi:
Jika ada tanda-tanda kerusakan organ, seperti stroke atau serangan jantung, penanganan khusus untuk kondisi tersebut akan dilakukan bersamaan.
4. Pemantauan Ketat:
Tekanan darah akan dipantau setiap beberapa menit untuk memastikan penurunan yang aman dan bertahap.
Fungsi ginjal, jantung, dan otak akan terus dievaluasi selama proses pengobatan.
5. Perawatan Intensif:
Pasien mungkin perlu dirawat di unit perawatan intensif (ICU) untuk pemantauan dan perawatan yang lebih ketat.
6. Pengobatan Oral:
Setelah tekanan darah mulai stabil, dokter akan memulai atau menyesuaikan pengobatan oral jangka panjang.
Kombinasi beberapa jenis obat antihipertensi mungkin diperlukan untuk mengontrol tekanan darah secara efektif.
7. Evaluasi Penyebab:
Dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengidentifikasi penyebab utama hipertensi berat, seperti masalah ginjal atau gangguan endokrin.
8. Edukasi Pasien:
Pasien akan diberikan informasi tentang pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan dan perubahan gaya hidup.
9. Perencanaan Perawatan Jangka Panjang:
Sebelum pulang dari rumah sakit, pasien akan diberikan rencana perawatan komprehensif, termasuk jadwal kontrol rutin dan panduan gaya hidup.
10. Rujukan ke Spesialis:
Tergantung pada komplikasi yang terjadi, pasien mungkin dirujuk ke spesialis seperti kardiolog, nefrolog, atau neurolog untuk perawatan lanjutan.