Berapa Tekanan Darah Tinggi yang Berbahaya? Ketahui Gejala & Penyebabnya
Berikut kadar tekanan darah tinggi yang telah dikategorikan berbahaya.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dijumpai di masyarakat. Hipertensi sendiri adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam pembuluh arteri meningkat secara persisten melebihi batas normal.
Tekanan darah diukur dalam satuan milimeter merkuri (mmHg) dan dinyatakan dalam dua angka: tekanan sistolik (saat jantung berkontraksi) dan tekanan diastolik (saat jantung berelaksasi).
Secara umum, seseorang didiagnosis mengalami hipertensi jika tekanan darahnya secara konsisten berada di atas 140/90 mmHg. Namun, batas ini dapat bervariasi tergantung pada faktor risiko individu dan kondisi kesehatan lainnya.
Hipertensi sering disebut sebagai "silent killer" karena seringkali tidak menimbulkan gejala yang jelas, namun dapat menyebabkan kerusakan organ-organ vital. Seperti jantung, otak, dan ginjal jika dibiarkan tidak terkontrol dalam jangka panjang.
Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.
Berapa kadar tekanan darah tinggi yang telah dikategorikan berbahaya? Melansir dari berbagai sumber, Rabu (12/3), simak ulasan informasinya berikut ini.
Klasifikasi Tekanan Darah
Untuk memahami berapa tekanan darah tinggi yang berbahaya, penting untuk mengetahui klasifikasi tekanan darah. Berikut adalah klasifikasi tekanan darah berdasarkan pedoman dari American Heart Association:
- Normal: Sistolik kurang dari 120 mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg
- Prehipertensi: Sistolik 120-139 mmHg atau diastolik 80-89 mmHg
- Hipertensi Tahap 1: Sistolik 140-159 mmHg atau diastolik 90-99 mmHg
- Hipertensi Tahap 2: Sistolik 160 mmHg atau lebih, atau diastolik 100 mmHg atau lebih
- Krisis Hipertensi: Sistolik di atas 180 mmHg dan/atau diastolik di atas 120 mmHg
Tekanan darah yang dianggap berbahaya adalah ketika mencapai tahap hipertensi 2 atau krisis hipertensi. Pada tahap ini, risiko komplikasi serius seperti serangan jantung, stroke, atau kerusakan organ meningkat secara signifikan.
Penyebab Hipertensi
Hipertensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Secara umum, hipertensi dibagi menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya:
1. Hipertensi Primer (Esensial)
Hipertensi primer adalah jenis yang paling umum, mencakup sekitar 90-95% kasus hipertensi. Penyebab pastinya tidak diketahui, namun beberapa faktor yang berkontribusi meliputi:
- Genetik: Riwayat keluarga dengan hipertensi meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama.
- Usia: Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia.
- Gaya hidup: Pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan merokok.
- Stres: Paparan stres kronis dapat meningkatkan tekanan darah.
- Obesitas: Kelebihan berat badan meningkatkan beban kerja jantung dan risiko hipertensi.
2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain atau penggunaan obat-obatan tertentu. Beberapa penyebab hipertensi sekunder meliputi:
- Penyakit ginjal kronis
- Gangguan kelenjar adrenal
- Gangguan tiroid
- Penyakit jantung bawaan
- Obat-obatan tertentu seperti pil KB, obat flu, dan steroid
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Apnea tidur
Faktor Risiko Hipertensi
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipertensi. Mengenali faktor-faktor risiko ini penting untuk pencegahan dan manajemen hipertensi yang efektif. Berikut adalah faktor-faktor risiko utama:
1. Usia
Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Pada umumnya, pria lebih berisiko mengalami hipertensi setelah usia 45 tahun, sementara wanita lebih berisiko setelah usia 55 tahun atau setelah menopause.
2. Riwayat Keluarga
Memiliki anggota keluarga dekat dengan hipertensi meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama. Faktor genetik dapat mempengaruhi cara tubuh menangani natrium dan respons terhadap stres.
3. Obesitas
Kelebihan berat badan meningkatkan beban kerja jantung dan dapat menyebabkan perubahan metabolisme yang berkontribusi pada peningkatan tekanan darah.
4. Gaya Hidup Tidak Sehat
Pola makan tinggi garam dan lemak jenuh, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan merokok semuanya meningkatkan risiko hipertensi.
5. Stres
Paparan stres kronis dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang persisten. Stres juga dapat mendorong perilaku tidak sehat yang meningkatkan risiko hipertensi.
6. Kondisi Medis Lain
Beberapa kondisi medis seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, dan gangguan tiroid dapat meningkatkan risiko hipertensi.
7. Ras
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang-orang dari ras tertentu, seperti Afrika-Amerika, memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi.
8. Kehamilan
Wanita hamil berisiko mengalami hipertensi gestasional atau preeklampsia, yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Gejala Hipertensi
Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena sebagian besar orang dengan tekanan darah tinggi tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, dalam beberapa kasus, terutama ketika tekanan darah mencapai level yang sangat tinggi, beberapa gejala mungkin muncul:
Gejala Umum:
- Sakit kepala, terutama di bagian belakang kepala dan terjadi di pagi hari
- Pusing atau vertigo
- Penglihatan kabur atau ganda
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Mimisan (epistaksis)
- Detak jantung tidak teratur atau berdebar-debar (palpitasi)
- Kelelahan atau mudah lelah
Gejala pada Hipertensi Berat atau Krisis Hipertensi:
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Mual dan muntah
- Kebingungan atau perubahan kesadaran
- Kecemasan atau gelisah
- Kejang
Komplikasi Hipertensi
Hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius yang mengancam jiwa. Memahami komplikasi ini penting untuk menekankan pentingnya manajemen hipertensi yang efektif. Berikut adalah beberapa komplikasi utama dari hipertensi:
1. Penyakit Jantung
Hipertensi meningkatkan beban kerja jantung, yang dapat menyebabkan:
- Penyakit jantung koroner
- Pembesaran jantung (hipertrofi ventrikel kiri)
- Gagal jantung
- Aritmia (gangguan irama jantung)
2. Stroke
Tekanan darah tinggi dapat merusak dan melemahkan pembuluh darah di otak, meningkatkan risiko:
- Stroke iskemik (akibat penyumbatan pembuluh darah)
- Stroke hemoragik (akibat pecahnya pembuluh darah)
3. Kerusakan Ginjal
Hipertensi dapat merusak pembuluh darah di ginjal, menyebabkan:
- Penyakit ginjal kronis
- Gagal ginjal
4. Kerusakan Mata
Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di retina, menyebabkan:
- Retinopati hipertensi
- Neuropati optik
- Gangguan penglihatan atau kebutaan
5. Aneurisma
Tekanan yang terus-menerus pada dinding pembuluh darah dapat menyebabkan pembengkakan atau pelemahan, yang dapat mengakibatkan:
- Aneurisma aorta
- Aneurisma serebral
6. Disfungsi Kognitif
Hipertensi jangka panjang dapat mempengaruhi fungsi otak, meningkatkan risiko:
- Penurunan fungsi kognitif
- Demensia vaskular
7. Disfungsi Seksual
Hipertensi dapat menyebabkan masalah aliran darah yang mempengaruhi fungsi seksual, termasuk:
- Disfungsi ereksi pada pria
- Penurunan gairah seksual pada wanita
8. Komplikasi Kehamilan
Pada wanita hamil, hipertensi dapat menyebabkan:
- Preeklampsia
- Komplikasi plasenta
- Risiko tinggi untuk ibu dan janin
Penting untuk dicatat bahwa risiko komplikasi ini meningkat seiring dengan tingkat keparahan dan durasi hipertensi. Namun, dengan manajemen yang tepat, banyak dari komplikasi ini dapat dicegah atau diminimalkan.