AS Siapkan Operasi Darat di Iran dengan Kerahkan Ribuan Marinir, Risiko Perang Lebih Mematikan Mengintai
Pentagon dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa minggu di Iran.
Pentagon dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa minggu di Iran. Langkah ini dilakukan seiring pengerahan ribuan pasukan Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah, sambil menunggu keputusan dari Presiden AS Donald Trump.
Menurut laporan media pada Sabtu, rencana tersebut dinilai dapat menjadi “fase baru perang” yang berpotensi jauh lebih berbahaya dibandingkan empat minggu pertama konflik, sebagaimana dikutip dari laporan The Washington Post.
Sejumlah pejabat yang berbicara secara anonim menyebutkan bahwa rencana operasi darat tidak akan berbentuk invasi besar-besaran. Operasi kemungkinan dilakukan secara terbatas, melibatkan pasukan Operasi Khusus serta infanteri konvensional.
Meski demikian, risiko yang dihadapi tetap tinggi. Pasukan AS disebut berpotensi menghadapi ancaman serius, mulai dari serangan drone dan rudal hingga bahan peledak rakitan.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa langkah ini masih sebatas persiapan militer.
“Merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan agar Panglima Tertinggi memiliki pilihan maksimal,” kata Karoline dikutip dari Anadolu Ajansi, Sabtu (29/3/2026).
“Itu tidak berarti Presiden telah membuat keputusan,” lanjutnya.
Target Strategis: Pulau Kharg dan Selat Hormuz
Diskusi internal juga mencakup kemungkinan serangan terhadap Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran. Selain itu, operasi pesisir di sekitar Selat Hormuz juga dipertimbangkan untuk mengamankan jalur pelayaran internasional.
Durasi operasi masih menjadi perdebatan, dengan perkiraan berkisar dari beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Pernyataan Trump-Rubio dan Publik AS Menentang
Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan, “Saya tidak akan menempatkan pasukan di mana pun.” Sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa konflik ini tidak akan berlangsung lama dan tujuan dapat dicapai tanpa pengerahan pasukan darat.
Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sebanyak 13 tentara AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka.
Di dalam negeri, opini publik Amerika Serikat masih terbelah. Hasil jajak pendapat menunjukkan 62% warga menolak pengerahan pasukan darat ke Iran, sementara hanya 12% yang mendukung.
Analis Ingatkan Risiko Tinggi
Analis militer Michael Eisenstadt mengingatkan besarnya risiko operasi darat di wilayah tersebut.
“Saya tidak ingin berada di tempat kecil itu dengan kemampuan Iran untuk menghujani wilayah tersebut dengan drone,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mobilitas pasukan menjadi faktor kunci dalam bertahan di medan tempur modern.
“Kelincahan adalah bagian dari perlindungan pasukan Anda.”
Eskalasi Konflik Terus Meningkat
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan signifikan terhadap pasar global dan sektor penerbangan internasional.