Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) sedang menyusun skenario serangan darat ke Iran. Persiapan ini dilakukan di tengah pengerahan personel militer AS ke Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Rencana ini berpotensi menandai fase baru konflik yang jauh lebih berbahaya bagi pasukan AS dibandingkan dengan situasi empat pekan sebelumnya.
Meskipun skenario telah dirancang, keputusan akhir mengenai operasi darat ini sepenuhnya berada di tangan Presiden Donald Trump. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa tugas Pentagon adalah menyiapkan opsi terbaik bagi Panglima Tertinggi, namun hal ini tidak berarti Presiden telah membuat keputusan.
Operasi darat yang dipertimbangkan tidak akan berupa invasi berskala penuh, melainkan dapat mencakup penyergapan oleh personel operasi khusus dan infanteri. Misi semacam ini, yang dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan, berisiko tinggi karena personel AS akan terpapar ancaman dari drone, rudal, tembakan darat, dan peledak rakitan.
Advertisement
Advertisement
Pengerahan pasukan darat AS ke Iran membawa risiko signifikan dan tantangan operasional yang besar. Para pejabat militer AS mengakui bahwa operasi semacam itu akan membuat personel terpapar ancaman serius dari berbagai persenjataan canggih Iran, termasuk drone dan rudal. Selain itu, mereka juga menghadapi potensi serangan tembakan darat dan peledak rakitan yang mematikan.
Pakar militer Michael Eisenstadt menyoroti kerentanan pasukan darat di wilayah yang kecil dengan kemampuan Iran untuk melancarkan serangan drone masif. Eisenstadt menekankan pentingnya mobilitas dan kelincahan sebagai bagian vital dari perlindungan pasukan dalam lingkungan konflik tersebut.
Sejak pecahnya perang pada akhir Februari 2026, kawasan Teluk telah menyaksikan peningkatan ketegangan yang signifikan. Sebanyak 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam berbagai serangan di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Konflik di kawasan Teluk mengalami eskalasi tajam sejak serangan gabungan Israel dan AS ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Iran merespons dengan melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel, serta wilayah-wilayah di Yordania, Irak, dan negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan signifikan pada pasar dan penerbangan global.
Di tengah potensi eskalasi ini, pandangan masyarakat AS terhadap pengerahan pasukan darat ke Iran terbelah. Sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa 62 persen responden menolak serangan darat, sementara hanya 12 persen yang mendukungnya.
Advertisement
Advertisement
Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyatakan bahwa ia “tidak akan mengerahkan personel ke manapun”. Pernyataan ini mencerminkan kehati-hatian terhadap potensi keterlibatan militer AS yang lebih dalam di Iran.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menegaskan bahwa perang dengan Iran “tidak akan menjadi perang berkepanjangan”. Rubio berpendapat bahwa tujuan perang dapat dicapai “tanpa pengerahan pasukan darat”.
Di antara skenario yang dibahas oleh Pentagon adalah operasi terhadap Pulau Kharg, yang merupakan titik ekspor minyak vital bagi Iran. Skenario lain mencakup operasi penyergapan di pesisir Selat Hormuz untuk mengatasi ancaman pelayaran.
Advertisement
Sumber: AntaraNews