AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Irak
AS juga mengimbau warganya agar membatalkan rencana perjalanan ke Irak demi keselamatan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Baghdad mengeluarkan peringatan perjalanan yang diperbarui pada Senin, 20 April 2026, dan mendesak semua warga negaranya untuk segera meninggalkan Irak karena meningkatnya risiko keamanan. Dalam pernyataan resminya, United States Embassy in Baghdad menekankan larangan bepergian ke Irak dengan alasan apa pun.
"Jangan bepergian ke Irak. Segera tinggalkan Irak jika Anda berada di sana," tulis peringatan tersebut, seperti dikutip dari laman Anadolu Agency, Selasa, 21 April.
Kedutaan juga memberikan peringatan bahwa milisi yang berafiliasi dengan Iran masih merencanakan serangan terhadap warga negara AS serta kepentingan Amerika di berbagai daerah di Irak, termasuk wilayah utara. Bahkan, terdapat dugaan bahwa beberapa elemen yang terhubung dengan pemerintah Irak memberikan dukungan baik secara politik, finansial, maupun operasional kepada kelompok-kelompok tersebut.
Meskipun demikian, wilayah udara Irak telah dibuka kembali secara terbatas, dan penerbangan komersial mulai beroperasi. Namun, warga AS yang ingin menggunakan jalur udara disarankan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan ancaman, seperti serangan rudal, drone, dan roket.
Warga AS Dilarang Datangi Kedubes, Cukup Komunikasi Jalur Elektronik
Kedutaan menegaskan bahwa operasional misi diplomatik AS di Irak masih berlangsung, meskipun dalam kondisi evakuasi terbatas, untuk membantu warga negaranya yang masih berada di wilayah itu. Namun, warga diminta untuk tidak mendatangi langsung kantor kedutaan di Baghdad atau konsulat jenderal di Erbil karena tingginya risiko keamanan.
Mereka disarankan untuk berkomunikasi melalui jalur elektronik. Peringatan ini dikeluarkan di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran selanjutnya membalas dengan serangan ke Israel serta negara-negara lain di kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS.
Konflik tersebut sempat mereda setelah semua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April, yang dimediasi oleh Pakistan. Namun, situasi keamanan di kawasan masih dianggap rentan dan berpotensi kembali memanas.