Penggunaan Api Pertama Kali di Zaman Purba Masih Jadi Perdebatan Ilmuwan
Ilmuwan masih perdebatan penggunaan api pertama kali oleh manusia purba.
Perkara penggunaan api pertama kali di zaman manusia purba, ternyata menjadi perdebatan ilmuwan. Ada yang bilang, penemuan api digunakan untuk memasak, menghangatkan tubuh saat dingin, hingga revolusi industri dan medis. Namun, ada sebuah studi terbaru yang ingin memperdebatkan hal itu.
Penelitian itu datang dari Universitas Tel Aviv. Studi tersebut menyebut manusia purba tidak pertama kali menyalakan api untuk memasak makanan, tetapi untuk mengawetkan dan melindungi daging dari hewan pemangsa dan pembusukan.
"Topik asal mula penggunaan api masih menjadi perdebatan panas," ujar Dr. Miki Ben-Dor dari Departemen Arkeologi dan Budaya Timur Dekat Kuno.
"Meski kita tahu bahwa sekitar 400.000 tahun lalu api mulai digunakan secara rutin untuk memasak dan menghangatkan tubuh, misteri masih menyelimuti bagaimana dan mengapa praktik ini pertama kali dimulai,” tambah dia seperti dikutip dari IFLScience, Senin (9/6).
Penelitian ini merevisi hipotesis lama yang dikenal sebagai "hipotesis memasak". Selama bertahun-tahun, teori ini menyatakan bahwa Homo erectus mulai menggunakan api untuk memasak makanan, terutama daging, yang membantu memperkecil sistem pencernaan dan meningkatkan ukuran otak.
Namun, menurut Ben-Dor dan rekan-rekannya, data arkeologi tidak selalu mendukung gagasan ini. Mereka meninjau ulang sembilan situs prasejarah yang menyimpan bukti paling awal tentang penggunaan api, termasuk situs di Afrika, Spanyol, serta Israel—seperti Gesher Benot Ya'aqov dan Evron Quarry.
Menariknya, kesamaan utama dari kesembilan situs tersebut bukanlah bekas daging yang dimasak, melainkan jumlah tulang hewan besar yang sangat banyak—gajah, kuda nil, badak.
Daging dan lemak dari satu ekor gajah saja bisa memberi jutaan kalori, cukup untuk memberi makan kelompok kecil manusia purba selama sebulan lebih.
"Daging hewan sebesar itu adalah harta karun kalori. Tapi tentu saja, sangat sulit untuk menyimpannya dari serangan hewan lain dan dari pembusukan. Kami menduga bahwa api dipakai sebagai pengusir pemangsa sekaligus alat pengawet, lewat pengasapan dan pengeringan," jelas Ben-Dor.
Jika benar, maka manusia purba mengembangkan teknologi api pertama-tama sebagai cara menyimpan hasil buruan besar, bukan sebagai sarana untuk memperbaiki cita rasa atau mempercepat pencernaan. Memasak mungkin baru terjadi kemudian, sebagai efek samping yang tidak memerlukan usaha tambahan.
Lebih jauh lagi, menurut studi ini, fakta bahwa penggunaan api sangat jarang ditemukan di situs sebelum 400.000 tahun lalu juga mendukung gagasan bahwa manusia purba tidak menggunakan api setiap hari. Butuh upaya besar untuk mencari bahan bakar, menyalakan, dan menjaga api tetap hidup. Karenanya, motivasi awal haruslah kuat dan efisien secara energi.
"Manusia purba kemungkinan besar tidak menyulut api hanya untuk kenyamanan. Mereka membutuhkan alasan yang sangat kuat dan efisien secara energi untuk melakukannya. Melindungi dan mengawetkan daging adalah alasan yang masuk akal," kata Ben-Dor.
Sebagai penutup, studi ini membuka pintu bagi pemahaman baru tentang bagaimana naluri bertahan hidup manusia memicu inovasi yang dampaknya terus kita rasakan hingga kini—bahkan di tengah tantangan modern seperti pemanasan global yang ironisnya, juga terkait erat dengan api.