Bekas luka sembilan sayatan pada fosil tulang kering manusia ungkap kemungkinan nenek moyang kita 1,45 juta tahun lalu saling bantai untuk praktik kanibalisme. Dilansir CNN, Senin (26/6), fosil tulang kering ini ditemukan pada koleksi Museum Nasional Kenya di Nairobi oleh Briana Pobiner, seorang paleoantropolog dari National Museum of Natural History, Washington DC, Amerika Serikat.
Advertisement
Pobiner menemukan bekas luka sayatan ini saat sedang mencari bekas gigitan dari hewan pada fosil tulang tersebut, alih-alih temukan jejak gigitan, Pobiner temukan bekas sayatan dari senjata yang terbuat dari batu.
"Bekas sayatan ini mirip dengan bekas luka yang saya temukan pada fosil binatang yang mati akibat dikonsumsi, kemungkinan besar daging dari tulang ini digunakan untuk keperluan konsumsi alih-alih ritual," ucap Pobiner.
Michael Pante, paleoantropolog dan rekan peneliti Pobiner, membuat model tiga dimensional dari sayatan pada fosil tulang-tulang ini.
Advertisement
Meskipun Pobiner belum pernah mengatakan kepada Pante mengenai dugaan asal usul sayatan pada tulang ini, Pante juga memberikan kesimpulan yang hampir serupa dengan dugaan Pobiner. Melalui hasil pemodelannya, Pante menemukan hampir semua sayatan tersebut memiliki arah yang sama, mengindikasikan alat batu berperan penting dalam pembentukan bekas luka tersebut.
Advertisement
"Ada banyak contoh dari nenek moyang manusia modern yang memakan sesamanya untuk asupan gizi, tapi fosil ini menunjukkan manusia saling memakan satu sama lain untuk keperluan bertahan hidup."
Sayatan ini bukanlah bukti pasti manusia kuno menjadikan daging dari tulang ini sebagai santapan, tapi Pobiner percaya masih ada kemungkinan konsumsi dari daging tersebut.
Advertisement
"Ada banyak contoh dari nenek moyang manusia modern yang memakan sesamanya untuk asupan gizi, tapi fosil ini menunjukkan manusia saling memakan satu sama lain untuk keperluan bertahan hidup."
Advertisement